Optimasi Produksi Keripik “Aku Pisang” Tingkatkan Laba Harian hingga Rp833 Ribu

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Aceh - Universitas Teuku Umar dan Universitas Syiah Kuala mengungkap strategi matematis yang mampu mendongkrak laba UMKM keripik pisang di Aceh Jaya. Riset yang dipimpin Agustiar bersama Muhammad Riski Firwanda, Meli Maria Gultom (Universitas Teuku Umar), serta Qhisthina Atikah (Universitas Syiah Kuala) ini dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Sustainability in Research.

Penelitian tersebut menganalisis bagaimana UMKM “Aku Pisang” dapat menentukan kombinasi produksi paling menguntungkan di tengah keterbatasan bahan baku dan kapasitas energi. Hasilnya konkret: dengan komposisi 62,5 bungkus varian cokelat dan 50 bungkus varian balado per hari, usaha ini berpotensi meraih laba bersih maksimal Rp833.121,25 per hari.

Tantangan UMKM di Tengah Keterbatasan Bahan Baku

UMKM menjadi tulang punggung ekonomi daerah, termasuk di Aceh Jaya. Namun, banyak pelaku usaha masih mengandalkan intuisi dalam menentukan jumlah produksi. Pola ini kerap memicu dua risiko: produksi berlebih yang menyebabkan pemborosan, atau produksi kurang yang membuat peluang penjualan hilang.

“Aku Pisang” menghadapi persoalan serupa. Setiap kemasan 100 gram membutuhkan 250 gram pisang mentah, 25 ml minyak goreng, dan bubuk perasa 0,08 kg untuk cokelat atau 0,04 kg untuk balado. Selain itu, satu tabung LPG 3 kg hanya mampu memproduksi sekitar 300 bungkus. Ketersediaan bahan baku, terutama bubuk perasa, menjadi faktor pembatas utama.

Perbedaan biaya bahan juga membuat margin laba tiap varian berbeda. Varian cokelat memberikan kontribusi laba Rp8.383,30 per bungkus, sedangkan balado Rp6.183,30.

Mengganti Intuisi dengan Perhitungan Data

Tim peneliti menerapkan metode Linear Programming, teknik optimasi matematika untuk menentukan kombinasi terbaik di bawah berbagai batasan sumber daya. Perhitungan dilakukan menggunakan perangkat lunak POM-QM for Windows yang dirancang untuk analisis manajemen operasi.

Model memasukkan variabel jumlah produksi cokelat (X1) dan balado (X2), lalu menghitung batasan seperti:

  • Ketersediaan bubuk perasa cokelat maksimal 5 kg per hari
  • Ketersediaan bubuk balado maksimal 2 kg per hari
  • Waktu kerja 480 menit per hari
  • Kapasitas produksi maksimal 115 bungkus per hari

Dari simulasi metode Simplex, diperoleh titik optimal pada 62,5 bungkus cokelat dan 50 bungkus balado.

Kedua varian tetap diproduksi karena sama-sama memberikan kontribusi positif terhadap laba. Artinya, strategi terbaik bukan fokus pada satu produk saja, melainkan kombinasi proporsional.

Bubuk Perasa Jadi Faktor Penentu

Analisis lanjutan menunjukkan bahwa bubuk perasa merupakan “binding constraint” atau kendala paling kritis. Seluruh stok bubuk habis terpakai pada kombinasi optimal, sementara waktu kerja dan kapasitas produksi masih menyisakan ruang.

Artinya, menambah tenaga kerja atau membeli peralatan baru tidak akan menaikkan laba jika pasokan bubuk perasa tetap terbatas. Sebaliknya, setiap tambahan satu unit bubuk perasa berpotensi langsung meningkatkan keuntungan.

Nilai “shadow price” dalam analisis menunjukkan bahwa tambahan bubuk cokelat dapat meningkatkan laba Rp2.500 per unit, sementara bubuk balado Rp3.750 per unit. Ini memberi sinyal kuat kepada manajemen untuk memprioritaskan pengamanan stok bahan tersebut.

Menurut Agustiar, pendekatan berbasis data seperti ini membantu UMKM keluar dari pola keputusan spekulatif. “Perhitungan matematis memberikan gambaran jelas sumber daya mana yang benar-benar menentukan laba,” ujarnya.

Dampak bagi UMKM dan Kebijakan

Temuan ini menunjukkan bahwa optimasi produksi bukan hanya teori kampus. Penerapannya langsung berdampak pada efisiensi dan daya saing usaha kecil.

Implikasi praktisnya antara lain:

  1. UMKM dapat meningkatkan laba tanpa menambah modal besar.
  2. Pengusaha dapat memfokuskan anggaran pada bahan yang memiliki nilai marginal tertinggi.
  3. Pemerintah daerah dapat menggunakan pendekatan serupa untuk pembinaan UMKM berbasis data.
  4. Penggunaan perangkat lunak sederhana seperti POM-QM mempercepat pengambilan keputusan manajerial.

Dalam konteks Aceh Jaya, ketergantungan pada pasokan bahan tambahan dari luar daerah sering menjadi hambatan produksi. Penelitian ini memperkuat temuan bahwa stabilitas rantai pasok bahan penunjang lebih krusial dibanding penambahan tenaga kerja.

Model yang Bisa Direplikasi

Pendekatan Linear Programming dapat diterapkan pada berbagai usaha pengolahan pangan lain, seperti keripik singkong, usaha roti, atau industri olahan hasil pertanian. Selama ada keterbatasan bahan dan perbedaan margin produk, metode ini relevan.

Penelitian lanjutan bahkan membuka peluang penggunaan Integer Programming agar jumlah produksi berbentuk bilangan bulat penuh, lebih sesuai praktik lapangan. Model juga dapat dikembangkan dengan memasukkan variabel biaya pemasaran atau fluktuasi permintaan pasar.

Profil Penulis

Agustiar, S.E., M.M.
Dosen Universitas Teuku Umar, Aceh. Bidang keahlian: manajemen operasi dan optimasi produksi UMKM.

Muhammad Riski Firwanda
Peneliti Universitas Teuku Umar. Fokus pada manajemen kuantitatif dan pengembangan UMKM.

Meli Maria Gultom
Akademisi Universitas Teuku Umar dengan minat riset pada efisiensi produksi dan kewirausahaan.

Qhisthina Atikah
Dosen Universitas Syiah Kuala, bidang manajemen dan analisis keputusan.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Production Optimization of “Aku Pisang” Banana Chips in Aceh Jaya Regency Using POM-QM for Windows Software
Journal: International Journal of Sustainability in Research
Volume 4, Nomor 1, 2026, halaman 33–40

Posting Komentar

0 Komentar