Peningkatan Kompetensi Literasi Numerasi Guru SPS melalui Workshop Media Board Game

Ilustrasi by AI

Jakarta Selatan— Peningkatan Kompetensi Literasi Numerasi Guru SPS melalui Workshop Media Board Game. Penelitian ini dilakukan oleh Sri Watini, Rahmah Ayuningtyas, Puji Widyaningrum, dan Meily Tri Rahmadani dari Universitas Panca Sakti Bekasi dalam artikel ilmiah yang terbit di Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF) pada awal 2026.

Penelitian yang dilakukan oleh Sri Watini, Rahmah Ayuningtyas, Puji Widyaningrum, dan Meily Tri Rahmadan mengungkapkan bahwa pendekatan workshop berbasis praktik dan permainan edukatif mampu meningkatkan pemahaman guru tentang literasi numerasi sekaligus mengubah praktik pembelajaran di kelas.

Literasi numerasi bukan sekadar berhitung

Penelitian ini menyoroti bahwa literasi numerasi pada jenjang PAUD masih sering dipahami secara sempit sebagai kegiatan membaca, menulis, dan berhitung melalui lembar kerja anak (LKA). Padahal, konsep literasi numerasi mencakup kemampuan memahami simbol, jumlah, pola, dan konteks kehidupan sehari-hari melalui pengalaman bermain dan interaksi sosial.

Di banyak satuan SPS, keterbatasan sumber daya dan pelatihan membuat guru cenderung menggunakan metode konvensional. Anak terlihat sibuk mengerjakan tugas, tetapi tidak selalu terlibat secara aktif dalam proses berpikir. Kondisi ini mendorong tim peneliti menghadirkan workshop yang menekankan game-based learning sebagai pendekatan alternatif

Workshop partisipatif: dari teori ke praktik langsung

Workshop dilaksanakan selama sekitar satu bulan dengan pendekatan pendampingan partisipatif. Guru tidak hanya menerima materi, tetapi juga merancang, menguji, dan merefleksikan media pembelajaran secara langsung.

Tahapan kegiatan meliputi:

  1. Asesmen awal untuk mengetahui pemahaman guru terkait literasi numerasi.
  2. Penguatan konsep literasi numerasi berbasis bermain.
  3. Praktik merancang board game sesuai tema pembelajaran.
  4. Uji coba di kelas masing-masing.
  5. Evaluasi dan refleksi bersama.

Metode ini memberi ruang bagi guru untuk bereksperimen sekaligus belajar dari pengalaman nyata, bukan sekadar menerima teori.

Peningkatan kompetensi guru secara signifikan

Hasil evaluasi menunjukkan perubahan yang cukup mencolok. Nilai rata-rata pre-test guru berada pada angka 48,3, menandakan kompetensi awal berada pada kategori sedang hingga rendah. Setelah workshop dan implementasi di kelas, nilai rata-rata post-test meningkat menjadi 86,7.

Tiga peningkatan utama yang terlihat:

  1. Guru lebih memahami konsep literasi numerasi berbasis bermain.
  2. Guru mampu merancang board game sesuai tujuan pembelajaran.
  3. Guru dapat membedakan aktivitas drilling dengan pembelajaran bermakna.

Board game tematik lahir dari kreativitas guru

Salah satu hasil menarik dari workshop ini adalah munculnya berbagai board game yang dibuat langsung oleh guru menggunakan bahan sederhana.

Beberapa contoh media yang dihasilkan:

  • “Pasar Mini”, permainan simulasi jual-beli yang melatih pengenalan angka dan konsep jumlah.
  • “Jelajah Angka”, permainan berbasis dadu dengan tantangan numerasi di setiap langkah.
  • “Rumah Warna dan Bentuk”, permainan mencocokkan warna, bentuk, dan jumlah objek.

Guru menyadari bahwa media menarik tidak harus mahal; kreativitas dan konteks lokal justru menjadi kunci.

Anak lebih aktif dan pembelajaran lebih bermakna

Refleksi guru menunjukkan bahwa penggunaan board game membuat anak lebih antusias, aktif berdiskusi, dan terlibat dalam pembelajaran. Anak yang sebelumnya pasif saat menggunakan LKA menjadi lebih fokus ketika belajar melalui permainan.

Selain meningkatkan motivasi belajar, board game juga membantu guru mengamati kemampuan anak secara alami melalui interaksi sosial dan pengambilan keputusan selama bermain.Sri Watini dan tim menekankan bahwa perubahan ini bukan hanya soal media baru, tetapi perubahan paradigma dari pembelajaran berbasis tugas menuju pengalaman belajar yang hidup.

Tantangan implementasi di lapangan

Meski menunjukkan hasil positif, beberapa tantangan tetap muncul, antara lain:

  • Keterbatasan waktu pelatihan.
  • Kebiasaan lama guru yang masih bergantung pada lembar kerja.
  • Kurangnya rasa percaya diri dalam merancang media.

Namun, diskusi kelompok dan kerja kolaboratif membantu guru mengatasi hambatan tersebut. Banyak peserta bahkan berencana mengembangkan variasi board game baru secara mandiri.

Implikasi bagi dunia pendidikan

Temuan ini memberi pesan penting bagi pengembangan pendidikan anak usia dini di Indonesia. Pelatihan guru yang kontekstual, praktis, dan berbasis pengalaman nyata terbukti lebih efektif dibanding pelatihan teoritis semata.

Beberapa implikasi utama yang diangkat peneliti:

  • Integrasi pembelajaran berbasis permainan untuk meningkatkan literasi numerasi.
  • Penguatan komunitas belajar guru sebagai ruang berbagi praktik baik.
  • Pendampingan berkelanjutan agar perubahan praktik mengajar dapat bertahan.

Profil penulis

Sri Watini – Universitas Panca Sakti Bekasi.

Rahmah Ayuningtyas– Universitas Panca Sakti Bekasi.

Puji Widyaningrum– Universitas Panca Sakti Bekasi.

Meily Tri Rahmadani– Universitas Panca Sakti Bekasi.

Sumber penelitian

Watini, S., Ayuningtyas, R., Widyaningrum, P., & Rahmadani, M. T. (2026). Peningkatan Kompetensi Literasi Numerasi Guru SPS melalui Workshop Media Board Game.

Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF), Vol. 5 No. 1, hlm. 45–56.
DOI: https://doi.org/10.55927/jpmf.v5i1.119

URL Resmi: https://ntlformosapublisher.org/index.php/jpmf


Posting Komentar

0 Komentar