Pengaruh Stabilitas Atmosfer (Stabilitas Pasquil) terhadap Jari-jari Distribusi dan Konsentrasi CO2 Menggunakan Model Phast 8.22 dari Fasilitas Pengolahan Minyak dan Gas di Jawa Tengah

Ilusstrasi by AI

Jakarta Stabilitas Atmosfer Tentukan Jangkauan Sebaran CO dari Fasilitas Migas Jawa Tengah. Penelitian yang dilakukan oleh Zulhaman Oktareno, Edison C. Sembiring, dan Soehatman Ramli dari Universitas Sahid Jakarta yang dipublikasikan pada Januari 2026 di Contemporary Journal of Applied Sciences (CJAS).

Peneliti menggunakan konsep stabilitas atmosfer Pasquill, metode klasifikasi yang menggambarkan kecenderungan udara untuk menahan atau menyebarkan polutan. Mereka memanfaatkan perangkat lunak PHAST 8.22, alat simulasi yang lazim dipakai industri migas untuk analisis risiko gas berbahaya. Data cuaca seperti kecepatan angin, suhu, dan kelembapan digabungkan dengan parameter operasional fasilitas, lalu dimodelkan untuk melihat radius sebaran CO pada berbagai skenario. Pendekatan ini memungkinkan prediksi jarak jangkauan gas dan konsentrasi yang mungkin terpapar ke lingkungan sekitar.

Temuan utama penelitian:

  • Pada konsentrasi 5.000 ppm, radius sebaran CO mencapai 17,06 meter saat venting normal dan 21,29 meter saat venting darurat, dalam kondisi stabilitas atmosfer kategori D dengan kecepatan angin 6,25 m/s.
  • Konsentrasi lebih tinggi cenderung terkonsentrasi dekat sumber. Pada 30.000 ppm, radius hanya 4,68 meter (normal) dan 2,50 meter (darurat).
  • Cuaca panas (35°C; kelembapan 60%) mendorong penyebaran lebih luas dibanding kondisi hujan (23°C; kelembapan 98%) yang sedikit menahan dispersi.
  • Kecepatan angin tinggi memperlebar jangkauan sebaran, sementara angin lemah membuat gas menumpuk di sekitar sumber.

Konsentrasi 5.000 ppm pada radius lebih dari 20 meter dinilai masih perlu diwaspadai bila paparan berlangsung lama. Pada level sangat tinggi, seperti 100.000 ppm, jarak sebaran memang pendek, tetapi risiko kesehatan akut meningkat karena gas terkonsentrasi di dekat titik pelepasan. Paparan CO tinggi dapat memicu sesak napas, pusing, hingga hilang kesadaran.

Menurut tim peneliti Universitas Sahid Jakarta, pemahaman pola dispersi ini memberi dasar teknis untuk pengelolaan risiko. Operator fasilitas dapat mengatur jadwal venting agar tidak bertepatan dengan kondisi atmosfer yang memperluas sebaran. Sistem pemantauan emisi real-time juga disarankan untuk mendeteksi lonjakan konsentrasi lebih dini. Di sisi lingkungan, penanaman vegetasi penyerap karbon dan penetapan zona penyangga di sekitar fasilitas bisa menekan paparan langsung ke masyarakat.

Temuan ini juga relevan bagi regulator. Data pemodelan memberi gambaran jarak aman aktivitas warga di sekitar fasilitas migas, terutama petani yang bekerja di lahan terbuka. Informasi ini dapat diterjemahkan menjadi kebijakan jarak aman, prosedur tanggap darurat, serta edukasi publik mengenai risiko paparan gas. Di tengah dorongan transisi energi dan pengendalian emisi, pendekatan berbasis pemodelan seperti ini membantu menjembatani aspek teknis industri dengan perlindungan kesehatan masyarakat.

Secara ilmiah, studi ini menegaskan bahwa stabilitas atmosfer bukan variabel kecil. Perubahan suhu, kelembapan, dan angin mampu mengubah peta risiko di lapangan. Dengan kata lain, cuaca dapat menentukan seberapa jauh dampak emisi menjalar dari sumbernya.

Profil Penulis

  • Zulhaman Oktareno –Universitas Sahid Jakarta.
  • Edison C. Sembiring –Universitas Sahid Jakarta.
  • Soehatman Ramli –Universitas Sahid Jakarta.

Sumber Penelitian

Oktareno, Z., Sembiring, E.C., & Ramli, S. (2026). The Effect of Atmospheric Stability (Pasquil Stability) on the Distribution Radius and Concentration of CO Using PHAST 8.22 Modeling from Oil and Gas Processing Facilities in Central Java.        Contemporary Journal of Applied Sciences (CJAS), Vol. 4(1), 43–54.

DOI: https://doi.org/10.55927/cjas.v4i1.122

URL resmi: https://ntlformosapublisher.org/index.php/cjas

 


Posting Komentar

0 Komentar