Pengaruh Rasio Likuiditas dan Rasio Leverage terhadap Financial Distress pada Subsektor Apparel dan Barang Mewah

Ilustrasi By AI

Banten Rasio Likuiditas dan Utang Bisa Mendeteksi Risiko Financial Distress pada Emiten Fashion di BEI. Penelitian yang dilakukan oleh Ratna Dumilah (Universitas Pamulang) yang dipublikasikan pada Januari 2026 di International Journal of Management Analytics (IJMA).

Penelitian yang dilakukan oleh Ratna Dumilah menunjukkan bahwa dua indikator sederhana—Current Ratio (CR) dan Debt to Equity Ratio (DER)—dapat digunakan untuk membaca tanda-tanda awal financial distress atau kondisi kesulitan keuangan pada perusahaan. Hasilnya penting karena financial distress sering muncul lebih dulu sebelum perusahaan jatuh ke kondisi yang lebih berat seperti gagal bayar, kerugian berkepanjangan, bahkan kebangkrutan.

Industri Fashion Tumbuh, Tapi Risiko Keuangan Tetap Mengintai

Dalam beberapa tahun terakhir, industri fashion Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Bahkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip CNBC menyebut subsektor tekstil dan pakaian jadi mengalami pertumbuhan 7,43% (year-on-year) pada kuartal III 2024. Angka ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama, yaitu 4,95%.

Namun, pertumbuhan sektor tidak selalu berarti semua perusahaan di dalamnya aman secara finansial.

Ratna Dumilah menyoroti bahwa perusahaan apparel dan luxury goods tetap menghadapi tekanan besar, seperti:

  • kondisi ekonomi yang fluktuatif
  • perubahan selera konsumen
  • persaingan ketat
  • kenaikan biaya produksi
  • pengelolaan keuangan yang kurang efektif
  • beban utang yang tinggi

Tekanan inilah yang membuat beberapa perusahaan berpotensi masuk fase financial distress.

Apa Itu Financial Distress dan Mengapa Penting Dipantau?

Financial distress adalah kondisi ketika perusahaan mulai kesulitan memenuhi kewajiban keuangannya, terutama kewajiban jangka pendek. Situasi ini biasanya menjadi sinyal awal sebelum perusahaan memasuki fase yang lebih serius seperti restrukturisasi besar, penutupan operasional, atau kebangkrutan.

Hasil Utama: Current Ratio Berpengaruh Signifikan, DER Tidak

Dari hasil regresi, peneliti memperoleh persamaan:

Z-Score = -2,465039 + 0,011180(CR) + 0,000325(DER)

Temuan pentingnya:

Current Ratio (CR) berpengaruh signifikan terhadap financial distress

  • t-statistik: 2,382174
  • probabilitas: 0,0263 (lebih kecil dari 0,05)

Artinya, kondisi likuiditas perusahaan benar-benar memengaruhi tingkat risiko financial distress. Perusahaan yang memiliki likuiditas baik cenderung lebih aman.

Debt to Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh signifikan secara parsial

  • t-statistik: 0,891224
  • probabilitas: 0,3825 (lebih besar dari 0,05)

Dengan kata lain, tingkat utang perusahaan tidak terbukti cukup kuat memengaruhi financial distress jika diuji sendiri dalam model penelitian ini.

Namun Secara Bersama-sama, CR dan DER Sangat Berpengaruh

Meskipun DER tidak signifikan secara individu, uji simultan (uji F) menunjukkan bahwa CR dan DER secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap financial distress.

  • F-statistik: 47,77315
  • probabilitas: 0,000000 (lebih kecil dari 0,05)

Penelitian ini juga menunjukkan kemampuan prediksi model yang sangat tinggi:

  • Adjusted R-square: 0,918633

Artinya, CR dan DER mampu menjelaskan sekitar 91,86% variasi financial distress pada perusahaan sampel.

Makna Temuan: Likuiditas Lebih Menentukan daripada Utang

Hasil penelitian ini memberikan pesan jelas: dalam subsektor apparel dan luxury goods, kemampuan perusahaan menjaga likuiditas jauh lebih menentukan daripada sekadar struktur utangnya.

Bahkan perusahaan dengan merek kuat bisa masuk kondisi sulit jika:

  • kas tidak cukup
  • utang lancar terlalu besar
  • pembayaran pemasok tersendat
  • biaya operasional tidak terkendali

Likuiditas yang sehat menjadi “penyelamat” utama agar perusahaan tidak terjebak pada kesulitan keuangan.

Dampak Praktis bagi Investor, Perusahaan, dan Pemerintah

1. Bagi manajemen perusahaan

Penelitian ini memperkuat pentingnya pengelolaan aset lancar dan kewajiban jangka pendek. Perusahaan perlu menjaga arus kas dan memastikan utang lancar tetap terkendali.

2. Bagi investor

Investor dapat menggunakan CR sebagai indikator awal sebelum membeli saham perusahaan fashion. CR yang terlalu rendah dapat menjadi sinyal risiko distress.

3. Bagi regulator dan pemerintah

Sektor apparel dan tekstil memiliki kontribusi besar terhadap lapangan kerja. Jika banyak perusahaan mengalami financial distress, dampaknya bisa luas, seperti:

  • PHK
  • gangguan rantai pasok
  • penurunan penerimaan pajak
  • melemahnya kepercayaan pasar

Profil Singkat Penulis

  • Ratna Dumilah : Universitas Pamulang

Sumber Penelitian

Ratna Dumilah “The Influence of Liquidity Ratio and Leverage Ratio on Financial Distress in The Apparel and Luxury Goods Sub-sector”
International Journal of Management Analytics (IJMA) Vol. 4 No. 1, Januari 2026 121–130
DOI:
https://doi.org/10.59890/ijma.v4i1.221                                                                                    URL: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijma

Posting Komentar

0 Komentar