Keunggulan Bersaing dan Efisiensi Pemasaran Dongkrak Kinerja Usaha Cengkeh di Semarang
Penelitian yang dipublikasikan tahun 2026 di International Journal of Asian Business and Management mengungkap bahwa keunggulan bersaing dan efisiensi pemasaran menjadi faktor paling kuat dalam meningkatkan kinerja pemasaran usaha cengkeh di Desa Gebugan, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Studi ini dilakukan oleh Viery Setiaji, S.E. dan Ari Siswati, S.E., M.M. dari Universitas Ngudi Waluyo. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa produksi tinggi saja tidak cukup tanpa strategi pemasaran yang kuat dan efisien.
Desa Gebugan dikenal sebagai salah satu sentra produksi cengkeh. Namun, para pelaku usaha di wilayah ini masih menghadapi tantangan klasik: rantai distribusi panjang, ketergantungan pada tengkulak, fluktuasi harga, serta keterbatasan inovasi produk. Kondisi ini membuat margin keuntungan petani dan pelaku usaha menjadi tidak optimal, meskipun kapasitas produksi relatif besar.
Dalam konteks ekonomi pedesaan Indonesia, komoditas cengkeh memiliki nilai strategis. Cengkeh digunakan dalam industri makanan, rempah-rempah, hingga rokok kretek. Karena itu, peningkatan kinerja pemasaran tidak hanya berdampak pada pelaku usaha, tetapi juga pada stabilitas ekonomi lokal.
Metodologi Sederhana dan Terukur
Penelitian dilakukan pada November 2025 hingga Januari 2026 dengan pendekatan kuantitatif. Sebanyak 97 pelaku usaha cengkeh di Desa Gebugan menjadi responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala penilaian 1–5.
Analisis dilakukan menggunakan metode statistik berbasis model struktural untuk melihat pengaruh tiga variabel utama terhadap kinerja pemasaran, yaitu:
- Orientasi kewirausahaan
- Efisiensi pemasaran
- Keunggulan bersaing
Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut secara bersama-sama menjelaskan 67,7 persen variasi kinerja pemasaran usaha cengkeh.
Temuan Utama Penelitian
Berikut hasil paling menonjol dari penelitian Viery Setiaji dan Ari Siswati:
1. Keunggulan Bersaing Paling Dominan
- Koefisien pengaruh: 0,682
- Signifikan secara statistik
Keunggulan bersaing menjadi faktor terkuat. Pelaku usaha yang menjaga kualitas produk, menetapkan harga kompetitif, dan memperluas akses pasar menunjukkan peningkatan penjualan dan laba yang lebih tinggi.
2. Efisiensi Pemasaran Meningkatkan Kinerja
- Koefisien pengaruh: 0,436
- Signifikan secara statistik
Pengendalian biaya distribusi, pemilihan saluran pemasaran yang tepat, serta pengelolaan margin secara efisien terbukti meningkatkan performa usaha.
3. Orientasi Kewirausahaan Berpengaruh Negatif namun Signifikan
- Koefisien pengaruh: -0,324
- Signifikan secara statistik
Temuan ini menarik. Inovasi, keberanian mengambil risiko, dan sikap proaktif ternyata tidak selalu berdampak positif jika tidak diimbangi kesiapan pasar dan kapasitas manajerial. Strategi yang terlalu agresif dalam konteks usaha kecil pedesaan justru dapat meningkatkan risiko kerugian.
Menurut Viery Setiaji dari Universitas Ngudi Waluyo, keunggulan bersaing yang terstruktur lebih menentukan daripada sekadar semangat inovasi. Sementara itu, Ari Siswati menegaskan bahwa orientasi kewirausahaan harus disertai sistem pemasaran yang efisien agar menghasilkan dampak nyata.
Implikasi bagi Pelaku Usaha dan Pemerintah
Hasil penelitian ini memberikan sejumlah rekomendasi praktis:
- Pelaku usaha perlu fokus pada konsistensi kualitas dan diferensiasi produk.
- Strategi harga harus disesuaikan dengan kondisi pasar regional.
- Rantai distribusi perlu dipersingkat untuk meningkatkan margin keuntungan.
- Pemerintah daerah dapat mendorong pembentukan koperasi pemasaran untuk memperkuat posisi tawar petani.
Dengan integrasi antara efisiensi pemasaran dan keunggulan bersaing, usaha cengkeh dapat meningkatkan daya saing di tingkat lokal maupun regional.
Penelitian ini juga memperkuat teori manajemen strategis bahwa performa bisnis tidak hanya ditentukan oleh faktor internal seperti semangat kewirausahaan, tetapi juga oleh strategi eksternal yang terukur dan sistematis.
Dampak Lebih Luas
Bagi sektor UMKM pertanian, studi ini menjadi referensi penting dalam merancang kebijakan pemberdayaan ekonomi desa. Model yang digunakan menunjukkan kemampuan prediksi yang kuat, sehingga dapat menjadi dasar perencanaan program pelatihan manajemen pemasaran.
Jika diterapkan secara konsisten, strategi berbasis keunggulan bersaing dan efisiensi pemasaran berpotensi:
- Meningkatkan pendapatan petani
- Mengurangi ketergantungan pada tengkulak
- Menciptakan stabilitas harga di tingkat produsen
- Memperluas akses pasar hingga luar daerah
Profil Penulis
Viery Setiaji, S.E.Universitas Ngudi Waluyo, Semarang.
Ari Siswati, S.E., M.M. Universitas Ngudi Waluyo, Semarang.
Sumber Penelitian
DOI: https://doi.org/10.55927/ijabm.v5i1.2
Officiall URL : https://journalijabm.my.id/index.php/ijabm/index
0 Komentar