Surabaya, Jawa Timur— Pengaruh
Hubungan Interpersonal, Pengalaman Kerja, dan Sistem Shift Kerja terhadap
Kinerja Barista di PT. XYZ. Penelitian ini dilakukan oleh Hilda Febrianti Sukma
dan Kustini dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPN Veteran Jatim), dalam
artikel ilmiah yang terbit di East Asian Journal of Multidisciplinary
Research (EAJMR) pada 2026.
Penelitian yang dilakukan oleh Hilda
Febrianti Sukma dan Kustini mengungkapkan bahwa kualitas hubungan antarpegawai
dan manajemen jadwal kerja memiliki pengaruh signifikan terhadap performa
barista, sementara pengalaman kerja justru tidak menunjukkan pengaruh berarti
dalam konteks operasional PT. XYZ.
Penurunan
performa dan tantangan industri kafe
Studi ini berasal
dari fenomena penurunan kinerja di PT. XYZ, sebuah perusahaan kafe yang
berkembang di Surabaya. Data internal perusahaan menunjukkan realisasi
penjualan turun dari 88,12% pada 2022 menjadi 87,68% pada 2023, lalu merosot
tajam ke 69,41% pada 2024.
Selain itu,
ulasan pelanggan di Google Maps memperlihatkan meningkatnya keluhan terkait
kebersihan area pelayanan dan sikap karyawan yang dinilai kurang ramah.
Penurunan rating ini menjadi sinyal adanya persoalan internal yang berdampak
langsung pada kepuasan pelanggan.
Dalam industri
food and beverage (FnB), barista memegang peran sentral karena berinteraksi
langsung dengan konsumen. Ketika performa mereka menurun, dampaknya tidak hanya
pada operasional, tetapi juga reputasi merek.
Menguji tiga
faktor penentu kinerja
Penelitian
melibatkan 42 barista yang seluruhnya bekerja di departemen operasional PT.
XYZ. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, serta
kuesioner berbasis Google Form dengan skala penilaian. Analisis dilakukan
menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares
(SEM-PLS).
Tim peneliti
menguji tiga variabel utama yang diduga memengaruhi kinerja barista:
- Human relations (hubungan interpersonal)
- Pengalaman kerja
- Sistem kerja berbasis shift
Hubungan
kerja dan shift jadi penentu utama
Penelitian
mencatat setidaknya tiga temuan penting:
- Hubungan interpersonal berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kinerja.
Budaya saling menghargai antarpegawai menjadi indikator terkuat. Namun, komunikasi dengan atasan dan koordinasi antarshift masih perlu diperbaiki. Minimnya briefing rutin menyebabkan kesalahan informasi terkait stok dan instruksi kerja. - Sistem kerja shift memiliki pengaruh paling kuat
terhadap kinerja.
Distribusi jumlah pekerja dalam setiap shift membantu mengurangi beban kerja dan kelelahan. Ketika jadwal tersusun rapi dan jumlah tim memadai, operasional menjadi lebih stabil dan pelayanan lebih konsisten. - Pengalaman kerja tidak berpengaruh signifikan.
Meski sebagian barista telah memiliki pengalaman di bidang FnB, pengalaman tersebut bersifat umum dan tidak spesifik pada specialty coffee. Selain itu, perusahaan tidak mensyaratkan keterampilan teknis khusus dalam proses rekrutmen, sehingga pengalaman tidak menjadi faktor pembeda performa.
Temuan ini
menunjukkan bahwa lama bekerja tidak otomatis menjamin kinerja lebih baik jika
tidak didukung sistem kerja dan relasi tim yang sehat.
Komunikasi
lintas shift masih menjadi tantangan
Penelitian juga
menemukan praktik “lompat shift” dan ketidakpastian jadwal istirahat yang
berdampak pada kualitas tidur dan stamina karyawan. Kondisi ini berpotensi
menurunkan konsistensi pelayanan.
Menurut Sukma dan Kustini dari UPN Veteran Jawa Timur, penguatan komunikasi lintas shift melalui briefing rutin menjadi langkah strategis untuk mencegah miskomunikasi. Informasi yang lengkap dan tersampaikan dengan baik akan meningkatkan efisiensi kerja serta mengurangi potensi kesalahan berulang.
Implikasi
bagi manajemen dan pelaku usaha
Hasil studi ini
memberikan pesan jelas bagi pemilik usaha kafe dan manajer sumber daya manusia:
investasi pada sistem kerja dan budaya tim lebih mendesak dibanding sekadar
mengejar kandidat berpengalaman.
Beberapa
langkah strategis yang direkomendasikan peneliti antara lain:
- Membangun budaya komunikasi terbuka antara atasan dan karyawan.
- Menetapkan briefing rutin antarshift untuk memastikan kesinambungan informasi.
- Menyusun jadwal shift yang stabil dan transparan.
- Menghindari rotasi shift yang terlalu cepat atau tidak terencana.
- Memastikan distribusi jumlah pekerja seimbang di setiap waktu operasional.
Pendekatan ini
dinilai lebih efektif menjaga kualitas pelayanan dan mempertahankan loyalitas
pelanggan dalam industri yang sangat kompetitif.
Relevansi
lebih luas di sektor layanan
Meski fokus
penelitian berada pada barista di PT. XYZ, temuan ini relevan bagi berbagai
sektor jasa yang mengandalkan interaksi langsung dengan konsumen, seperti
restoran, hotel, ritel, hingga layanan kesehatan.
Penelitian ini
memperkuat pandangan bahwa faktor organisasi internal—seperti hubungan
interpersonal dan manajemen jadwal—sering kali lebih menentukan dibandingkan
variabel individual seperti pengalaman kerja.
Profil
penulis
•
Hilda Febrianti Sukma- Universitas Pembangunan Nasional
Veteran Jawa Timur.
•
Kustini- Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur.
Sumber
penelitian
Sukma, H. F., &
Kustini. (2026). The Influence of Human Relation, Work Experience and Work
Shifts on Barista Performance at PT. XYZ.
East Asian Journal of
Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 2, hlm. 571–580.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i2.17
URL Resmi : https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar