Studi ini menjadi relevan di tengah meningkatnya kompleksitas mesin industri dan tuntutan operasi yang berjalan terus-menerus. Sistem pendingin mesin utama berfungsi menjaga suhu kerja tetap stabil. Ketika sistem ini gagal bekerja optimal, dampaknya tidak hanya berupa penurunan efisiensi, tetapi juga keausan komponen, risiko keselamatan, hingga terhentinya proses produksi. Penelitian ini menegaskan bahwa keandalan sistem pendingin tidak hanya bergantung pada desain teknis, tetapi juga pada pengalaman manusia yang mengoperasikannya.
Mengapa Pengalaman Operator Penting
Selama ini, kajian sistem pendingin mesin didominasi pendekatan teknis seperti desain mekanik, analisis termal, dan pemodelan numerik. Aspek manusia kerap dipandang sekadar pelaksana prosedur. Padahal, di lapangan, operator berhadapan dengan variasi kondisi beban mesin, lingkungan kerja, dan dinamika operasi yang sering tidak sepenuhnya tercakup dalam standar prosedur.
Tim peneliti menyoroti bahwa operator berpengalaman memiliki kemampuan membaca “sinyal awal” gangguan termal. Sinyal ini bisa berupa perubahan suara mesin, getaran, atau respons sistem pendingin yang terasa berbeda, meski indikator digital belum menunjukkan alarm. Dalam konteks industri berat, kemampuan ini sangat krusial karena memungkinkan tindakan korektif dilakukan lebih dini.
Cara Penelitian Dilakukan
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus eksploratif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi langsung di lokasi operasi industri manufaktur berat di Banten. Sebanyak 12 informan terlibat, terdiri dari enam operator mesin utama, tiga supervisor operasi, dan tiga teknisi perawatan.
Pendekatan ini dipilih untuk menggali pengalaman nyata operator dalam mengelola sistem pendingin mesin utama. Dengan analisis tematik, peneliti mengidentifikasi pola-pola pengalaman, strategi adaptasi, dan keputusan lapangan yang berkontribusi pada optimalisasi sistem pendingin.
Temuan Utama di Lapangan
Penelitian ini mengungkap empat temuan kunci yang menjelaskan peran strategis pengalaman operator.
Pertama, deteksi dini gangguan panas. Operator sering kali mengenali tanda-tanda awal ketidaknormalan sebelum sistem monitoring memberikan peringatan. Seorang operator menyebut bahwa perubahan nada suara pompa pendingin sudah cukup menjadi sinyal adanya masalah. Supervisor dan teknisi perawatan mengonfirmasi bahwa laporan operator kerap menjadi pemicu awal pemeriksaan teknis.
Kedua, penyesuaian parameter operasi secara adaptif. Operator berpengalaman tidak selalu mengikuti prosedur standar secara kaku. Mereka menyesuaikan aliran pendingin atau pengaturan beban mesin berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Penyesuaian ini dinilai efektif menjaga stabilitas suhu mesin, terutama saat terjadi lonjakan beban atau perubahan lingkungan kerja.
Ketiga, pencegahan gangguan berulang melalui pembelajaran pengalaman. Operator mengingat pola gangguan yang pernah terjadi dan menggunakan ingatan tersebut sebagai referensi untuk mencegah masalah serupa terulang. Pengetahuan ini sering dibagikan secara informal antaroperator, membentuk mekanisme pembelajaran kolektif yang tidak selalu terdokumentasi, tetapi terbukti efektif.
Keempat, kesenjangan antara prosedur standar dan praktik nyata. Penelitian menemukan bahwa prosedur operasi standar belum sepenuhnya merefleksikan kompleksitas kondisi lapangan. Dalam situasi kritis, pengalaman operator menjadi faktor penentu dalam pengambilan keputusan cepat untuk menjaga kestabilan sistem.
Dampak bagi Industri dan Pendidikan Teknik
Temuan ini membawa implikasi penting bagi dunia industri. Pertama, perusahaan perlu memandang pengalaman operator sebagai aset strategis, bukan sekadar faktor pendukung. Integrasi pengalaman lapangan ke dalam manajemen operasi dan perawatan dapat meningkatkan keandalan mesin serta mengurangi risiko kerusakan besar.
Kedua, hasil penelitian ini relevan untuk pengembangan pelatihan berbasis kondisi nyata. Program pelatihan operator tidak cukup hanya mengajarkan prosedur teknis, tetapi juga perlu memasukkan studi kasus lapangan dan transfer pengetahuan antaroperator berpengalaman dan operator baru.
Ketiga, dari sisi kebijakan industri, penelitian ini mendukung pendekatan human-centered engineering. Sistem pendingin dan antarmuka pemantauan mesin perlu dirancang dengan mempertimbangkan cara operator memahami dan merespons informasi, sehingga interaksi manusia–mesin menjadi lebih efektif.
Kontribusi Ilmiah dan Praktis
Secara ilmiah, penelitian ini memperkaya kajian teknik mesin dengan memasukkan perspektif faktor manusia dan ergonomi kognitif. Optimasi sistem pendingin tidak lagi dipandang semata-mata sebagai persoalan teknis, tetapi sebagai hasil interaksi antara teknologi dan pengalaman manusia.
Secara praktis, temuan ini memberi dasar bagi industri untuk menyempurnakan prosedur operasi, meningkatkan efisiensi perawatan, dan membangun sistem pembelajaran berbasis pengalaman lapangan. Dalam konteks industri Indonesia, khususnya di Banten, pendekatan ini berpotensi meningkatkan daya saing dan keberlanjutan operasi mesin berkapasitas besar.
Profil Penulis
Pierre Marcello Lopulalan, M.T. adalah dosen dan peneliti di Politeknik Pelayaran Banten dengan keahlian di bidang teknik mesin dan sistem operasi permesinan.
Hendi Prasetyo, M.T. merupakan akademisi Politeknik Pelayaran Banten yang fokus pada perawatan dan operasi mesin industri.
Surnata, M.T. adalah dosen di Politeknik Transportasi Sungai Danau dan Penyeberangan Palembang dengan keahlian sistem transportasi dan permesinan.
Rahmat Santoso, M.T. adalah peneliti Politeknik Pelayaran Banten di bidang teknik permesinan dan manajemen operasional.
Sumber Penelitian
Lopulalan, P. M., Prasetyo, H., Surnata, & Santoso, R. (2026). In-depth Analysis of Operator Experiences in Optimizing Main Engine Cooling Systems Based on On-site Operational Insights. Formosa Journal of Science and Technology,
Vol. 5 No. 1, hlm. 217–230.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i1.365
0 Komentar