Penelitian: Keputusan Awak Kapal Tentukan Efisiensi Energi Mesin Kapal

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Banten - Pierre Marcello Lopulalan dari Politeknik Pelayaran Banten menemukan bahwa efisiensi energi sistem propulsi kapal tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi mesin, tetapi juga oleh cara awak kapal memahami dan merespons kondisi operasional di laut. Temuan ini dipublikasikan pada 2026 dalam Formosa Journal of Science and Technology (Vol. 5, No. 2). Studi tersebut penting karena industri pelayaran global sedang ditekan untuk menurunkan emisi karbon dan meningkatkan efisiensi bahan bakar sesuai regulasi internasional.

Dalam artikelnya berjudul Operational Sense Making of Marine Propulsion Systems in Energy Efficiency Driven Shipping, Pierre Marcello Lopulalan menegaskan bahwa proses “sense making” atau pemaknaan operasional oleh operator mesin menjadi faktor kunci dalam mencapai penghematan bahan bakar dan menjaga keandalan sistem propulsi.

Latar Belakang: Tekanan Global Kurangi Emisi Kapal

Sektor pelayaran menyumbang sekitar 2–3 persen emisi CO₂ global. Organisasi Maritim Internasional (IMO) telah menerapkan kebijakan seperti Energy Efficiency Existing Ship Index (EEXI) dan Carbon Intensity Indicator (CII) untuk memastikan kapal lebih hemat energi dalam operasi nyata, bukan hanya dalam desain teknis.

Selama beberapa tahun terakhir, berbagai inovasi teknologi dikembangkan, mulai dari optimasi baling-baling, sistem propulsi hibrida, hingga pemantauan berbasis digital dan data real-time. Namun, di lapangan, kapal dengan spesifikasi teknis serupa sering menunjukkan performa konsumsi bahan bakar yang berbeda.

Menurut Pierre Marcello Lopulalan dari Politeknik Pelayaran Banten, perbedaan itu banyak dipengaruhi oleh faktor manusia dan budaya pengambilan keputusan di atas kapal.

Metode Penelitian: Observasi Langsung di Kapal Komersial

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada kapal komersial. Fokusnya adalah sistem propulsi utama dan awak mesin yang bertanggung jawab atas pengaturan beban mesin serta konsumsi energi.

Data dikumpulkan melalui:

  • Observasi operasional langsung di ruang mesin
  • Wawancara semi-terstruktur dengan operator berpengalaman
  • Analisis logbook mesin dan catatan konsumsi bahan bakar

Seluruh informan memiliki pengalaman minimal lima tahun dan terlibat langsung dalam pengambilan keputusan terkait kecepatan kapal dan pengaturan beban mesin.

Analisis dilakukan dengan mengelompokkan tema-tema utama yang muncul dari wawancara dan dokumen teknis. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat bagaimana operator memaknai data teknis dalam konteks kondisi laut yang dinamis.

Temuan Utama: Empat Faktor Penentu Efisiensi

Penelitian Pierre Marcello Lopulalan mengidentifikasi empat tema utama yang memengaruhi efisiensi energi kapal.

1. Interpretasi Kontekstual Beban Mesin

Operator tidak melihat parameter seperti RPM, suhu, atau konsumsi bahan bakar sebagai angka terpisah. Mereka menafsirkan data tersebut bersamaan dengan kondisi gelombang, arus laut, stabilitas kapal, dan jadwal pelayaran.

Dalam kondisi laut buruk, peningkatan beban mesin dapat menyebabkan lonjakan konsumsi bahan bakar yang tidak proporsional. Operator berpengalaman memilih menyesuaikan kecepatan agar mesin tetap berada di “zona kerja aman dan efisien”.

Salah satu kepala kamar mesin menyatakan:

“Kalau hanya mengikuti angka di panel, sering tidak ketemu efisiensinya. Yang penting membaca respons mesin terhadap kondisi laut.”

2. Keputusan Adaptif Turunkan Konsumsi 5–10 Persen

Awak kapal sering mengambil keputusan kompromi antara target kecepatan dan efisiensi energi. Saat arus dan gelombang berat, mereka menurunkan kecepatan sedikit agar pembakaran mesin lebih stabil.

Perbandingan logbook menunjukkan bahwa pendekatan adaptif ini mampu menjaga konsumsi bahan bakar sekitar 5–10 persen lebih rendah dibanding pola operasi yang hanya berorientasi pada target kecepatan.

3. Pengalaman dan Pengetahuan Tersirat

Operator senior mampu mendeteksi tanda-tanda inefisiensi bahkan sebelum alarm sistem berbunyi. Mereka mengenali karakter unik setiap kapal.

Seorang operator senior mengatakan:

“Setiap kapal punya karakter. Setelah lama di sini, kami tahu kapan mesin mulai tidak efisien, bahkan sebelum grafik berubah.”

Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi digital tidak sepenuhnya menggantikan pengalaman manusia.

4. Tantangan Banjir Data

Sistem modern menghasilkan data dalam jumlah besar. Alih-alih selalu membantu, informasi berlebihan bisa membingungkan operator.

Operator harus memilih data mana yang paling relevan untuk keputusan cepat. Tanpa desain antarmuka yang mendukung, sistem pemantauan justru dapat menghambat pengambilan keputusan efisien.

Implikasi bagi Industri dan Pendidikan Maritim

Hasil penelitian ini membawa implikasi penting:

Bagi Perusahaan Pelayaran

  • Investasi tidak hanya pada teknologi mesin, tetapi juga pada pelatihan pengambilan keputusan adaptif.
  • Mendorong budaya operasional yang fleksibel dan berbasis interpretasi situasional.

Bagi Regulator

  • Kebijakan efisiensi energi perlu mempertimbangkan faktor manusia sebagai bagian dari sistem.
  • Evaluasi kinerja kapal tidak hanya berbasis angka teknis, tetapi juga praktik operasional.

Bagi Pendidikan Maritim

  • Kurikulum perlu memasukkan pelatihan sense making operasional.
  • Simulasi kondisi laut dinamis dapat meningkatkan kemampuan interpretasi awak kapal.

Pierre Marcello Lopulalan dari Politeknik Pelayaran Banten menyimpulkan bahwa efisiensi energi adalah hasil interaksi dinamis antara manusia, teknologi, dan konteks operasional. Integrasi ketiga aspek ini menjadi kunci menuju pelayaran berkelanjutan.

Mengubah Cara Pandang Efisiensi Energi

Studi ini memperluas perspektif bahwa efisiensi energi bukan hanya soal mesin canggih atau algoritma optimasi. Kinerja kapal sangat bergantung pada kualitas keputusan manusia di ruang mesin.

Dalam era digitalisasi dan target dekarbonisasi hingga 2050, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas kognitif dan reflektif awak kapal sama pentingnya dengan inovasi teknologi.

Efisiensi energi kapal lahir dari kombinasi data, pengalaman, dan kemampuan membaca kondisi laut secara menyeluruh.

Profil Penulis

Pierre Marcello Lopulalan adalah akademisi dan praktisi di bidang teknik perkapalan dan manajemen energi maritim. Ia berafiliasi dengan Politeknik Pelayaran Banten. Bidang keahliannya meliputi sistem propulsi kapal, efisiensi energi pelayaran, manajemen energi maritim, dan faktor manusia dalam sistem sosio-teknis.

Sumber Penelitian

Lopulalan, Pierre Marcello. 2026. Operational Sense Making of Marine Propulsion Systems in Energy Efficiency Driven Shipping. Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5, No. 2, halaman 595–606.

Posting Komentar

0 Komentar