Pemanfaatan Barang Bekas sebagai Alternatif Sumber Tambahan Pendapatan Warga RT 15 RW 16 Desa Waluya, Cikarang Timur

Ilustrasi by AI

Bekasi, Jawa Barat— Pemanfaatan Barang Bekas sebagai Alternatif Sumber Tambahan Pendapatan Warga RT 15 RW 16 Desa Waluya, Cikarang Timur. Penelitian ini dilakukan oleh Wahyudin Ahmadi, Muhammad Syahril Sidiq, Anggi Puspita Sari, Siti Nurchaliza, Samsu, Rehan Setiadi, Muhammad Adio Fauzan, Meri Tri Nurhidayanti, Mansur S., Sudirman, dan Febrito Handayani Sitohang dari Universitas Panca Sakti Bekasi, yang dipublikasikan dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF) Volume 5 Nomor 1 pada Februari 2026.

Penelitian yang dilakukan oleh Wahyudin Ahmadi, Muhammad Syahril Sidiq, Anggi Puspita Sari, Siti Nurchaliza, Samsu, Rehan Setiadi, Muhammad Adio Fauzan, Meri Tri Nurhidayanti, Mansur S., Sudirman, dan Febrito Handayani Sitohang mengungkapkan bahwa perubahan perilaku di tingkat rumah tangga dapat berdampak langsung pada ekonomi keluarga sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan.

Sampah Bernilai Ekonomi, Tapi Selama Ini Terabaikan

Tim peneliti menemukan bahwa sebelum program berjalan, warga cenderung menjual barang bekas dalam kondisi tercampur. Kardus basah, logam kotor, dan plastik campuran membuat pengepul memberikan harga rendah. Padahal, barang-barang tersebut memiliki nilai ekonomi lebih tinggi jika dipilah dan dijaga kualitasnya.

Rendahnya pengetahuan, keterampilan, serta kebiasaan memilah sampah menjadi penyebab utama. Selain itu, belum adanya sistem pengelolaan terstruktur membuat potensi ekonomi barang bekas belum optimal dimanfaatkan.

Pendekatan Partisipatif: Warga Jadi Pelaku Utama

Program ini melibatkan 50 warga dengan pendekatan partisipatif. Warga tidak hanya menerima materi, tetapi langsung mempraktikkan teknik pemilahan di rumah masing-masing.

Pelaksanaan dilakukan melalui empat tahap utama:

  1. Persiapan dan koordinasi dengan perangkat desa.
  2. Sosialisasi mengenai konsep 3R dan nilai ekonomi barang bekas.
  3. Pelatihan teknis pemilahan kardus, logam, dan plastik.
  4. Pendampingan lapangan serta evaluasi.

Evaluasi dilakukan melalui kuesioner, observasi lingkungan, dan perbandingan harga jual sebelum dan sesudah pemilahan. Kombinasi edukasi dan praktik ini terbukti efektif mengubah pengetahuan sekaligus perilaku warga.

Kenaikan Harga Jual yang Terukur

Data menunjukkan peningkatan nyata pada nilai jual barang bekas setelah dipilah:

  • Kardus: dari Rp1.650/kg menjadi Rp2.100/kg (naik 27,27%)
  • Logam: dari Rp5.500/kg menjadi Rp6.750/kg (naik 22,73%)
  • Plastik campuran: dari Rp2.100/kg menjadi Rp2.600/kg (naik 23,81%)

Secara umum, seluruh komoditas mengalami kenaikan harga antara 16,67% hingga 33,33%. Kenaikan terbesar terjadi pada kardus karena kualitasnya meningkat setelah dikeringkan dan disimpan dengan baik.

Selain kenaikan harga, skor kesadaran warga mencapai 3,74 (tertinggi), menunjukkan perubahan sikap yang signifikan terhadap pengelolaan sampah. Skor penerapan praktik pemilahan mencapai 3,50, menandakan kebiasaan baru mulai terbentuk secara konsisten.

Dampak Lingkungan dan Perubahan Perilaku

Program ini tidak hanya berdampak pada pendapatan, tetapi juga pada kebersihan lingkungan. Sampah tercampur berkurang, lingkungan menjadi lebih rapi, dan warga mulai memiliki sistem penyimpanan sederhana di rumah.

Sebelum kegiatan, warga belum memiliki kebiasaan memilah sampah dan belum ada koordinasi kolektif dalam pengelolaannya. Setelah program berjalan, partisipasi sosial meningkat dan kesadaran lingkungan tumbuh lebih kuat.

Muhammad Syahril Sidiq dari Universitas Panca Sakti Bekasi menegaskan bahwa perubahan perilaku menjadi kunci keberhasilan program. Ketika warga memahami manfaat ekonominya secara langsung, motivasi untuk konsisten memilah sampah ikut meningkat.

Tantangan di Lapangan

Meski hasilnya positif, sejumlah kendala masih ditemukan, antara lain:

  • Konsistensi pemilahan belum merata.
  • Keterbatasan wadah penyimpanan di rumah warga.
  • Kurangnya informasi harga pasar barang bekas.
  • Partisipasi yang belum sepenuhnya merata.

Tim peneliti merekomendasikan pembentukan kelompok pengelola atau bank sampah untuk menjaga keberlanjutan program. Pelatihan lanjutan mengenai kewirausahaan dan pengolahan barang bekas juga dinilai penting untuk memperluas dampak ekonomi.

Model Ekonomi Sirkular Skala Komunitas

Program ini menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular di tingkat mikro. Dengan metode sederhana dan biaya rendah, warga mampu meningkatkan pendapatan tanpa modal besar. Model ini dinilai mudah direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa.

Bagi pemerintah daerah, temuan ini dapat menjadi dasar kebijakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Bagi sektor industri daur ulang, pemilahan di tingkat sumber akan meningkatkan kualitas bahan baku. Sementara bagi keluarga, praktik ini membuka peluang tambahan pendapatan yang berkelanjutan.

Profil Penulis

Wahyudin Ahmadi Universitas Panca Sakti Bekasi.
Muhammad Syahril Sidiq Universitas Panca Sakti Bekasi. 
Anggi Puspita Sari, Siti Nurchaliza,, Samsu, Rehan Setiadi, Muhammad Adio Fauzan,  Meri Tri Nurhidayanti, Mansur S., Sudirman, Febrito Handayani Sitohang Universitas Panca Sakti Bekasi 

Sumber Penelitian

Ahmadi, W., Sidiq, M. S., Sari, A. P., Nurchaliza, S., Samsu, Setiadi, R., Fauzan, M. A., Nurhidayanti, M. T., Mansur S., Sudirman, & Sitohang, F. H. (2026). The Utilization of Used Goods as an Alternative Source of Additional Income for Residents of RT 15 RW 16 Waluya Village, East Cikarang.

Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF), Vol. 5 No. 1, hlm. 15–24.

DOI: https://doi.org/10.55927/jpmf.v5i1.116

URL Resmi: https://ntlformosapublisher.org/index.php/jpmf


Posting Komentar

0 Komentar