Pelaksanaan Inovasi Program Mama Sayang untuk Mewujudkan Hidup Sehat dan Sejahtera di Puskesmas Sukodono


Ilustrasi by AI 

Program Mama Sayang Tingkatkan Deteksi Dini Kanker Perempuan di Sidoarjo

Program inovasi layanan kesehatan “Mama Sayang” di Puskesmas Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, terbukti meningkatkan partisipasi perempuan dalam deteksi dini kanker serviks dan payudara. Temuan ini dipublikasikan dalam edisi terbaru Internasional Journal of Integrative Sciences Volume 5 Nomor 2 Tahun 2026 oleh Safa Naumi Arista, Ika Devy Pramudiana, Dandy Patrija Wirawan, dan Amirul Mustofa dari Universitas Dr. Soetomo Surabaya. Penelitian diterima pada Februari 2026 dan menyoroti pentingnya inovasi berbasis komunitas untuk memperluas akses skrining IVA dan SADANIS di tingkat layanan primer.

Sejak beberapa tahun terakhir, risiko kanker serviks dan kanker payudara pada perempuan usia subur menjadi perhatian serius layanan kesehatan dasar. Meski skrining sudah tersedia, banyak perempuan enggan memeriksakan diri karena takut, malu, atau kurang informasi. Program Mama Sayang hadir menjawab hambatan tersebut dengan pendekatan edukatif, humanis, dan berbasis komunitas.

Program ini mengintegrasikan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dan SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis) ke dalam kegiatan rutin masyarakat seperti posyandu, PKK, dan forum desa. Pemeriksaan tidak lagi hanya dilakukan di gedung puskesmas, tetapi juga melalui layanan keliling yang mendekatkan akses ke lingkungan warga.

Diteliti dengan Kerangka Difusi Inovasi

Tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif evaluatif untuk menilai bagaimana program ini diperkenalkan, diterima, dan diadopsi masyarakat. Kerangka analisis merujuk pada teori difusi inovasi dari Everett M. Rogers, yang menilai keberhasilan inovasi berdasarkan lima karakteristik: keuntungan relatif, kesesuaian, kompleksitas, kemudahan diuji coba, dan kemudahan diamati hasilnya.

Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tenaga kesehatan, kader, serta peserta program, observasi partisipatif, dan telaah dokumen. Analisis dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman untuk memetakan proses adopsi inovasi di wilayah kerja Puskesmas Sukodono.

Lima Faktor Kunci Keberhasilan

Hasil penelitian menunjukkan Mama Sayang memenuhi lima atribut inovasi menurut Rogers

1. Keuntungan relatif (relative advantage)
Layanan lebih mudah diakses, lebih dekat dengan rumah warga, dan menghadirkan suasana yang nyaman. Banyak peserta menyebut pemeriksaan terasa “lebih santai” dibanding layanan reguler di fasilitas kesehatan.

2. Kesesuaian (compatibility)
Program terintegrasi dengan budaya dan kegiatan sosial lokal seperti PKK dan posyandu. Inovasi tidak terasa asing karena menjadi bagian dari rutinitas warga.

3. Kompleksitas rendah (low complexity)
Edukasi disampaikan dengan bahasa sederhana dan media visual. Bidan serta kader menggunakan pendekatan komunikatif untuk mengurangi ketakutan peserta.

4. Kemudahan diuji coba (trialability)
Adanya layanan mobile memungkinkan perempuan mencoba pemeriksaan secara bertahap tanpa tekanan. Banyak peserta mengaku awalnya hanya melihat, lalu memutuskan ikut pada jadwal berikutnya.

5. Kemudahan diamati hasilnya (observability)
Peningkatan jumlah peserta skrining dan testimoni positif menjadi bukti nyata manfaat program. Efek “dari mulut ke mulut” mempercepat penyebaran informasi.

Menurut Amirul Mustofa dari Universitas Dr. Soetomo, keberhasilan ini bukan hanya soal layanan medis, tetapi juga strategi komunikasi. “Kader dan bidan menjadi jembatan kepercayaan antara puskesmas dan masyarakat. Pendekatan interpersonal membuat perempuan merasa aman dan didampingi,” ujarnya dalam laporan penelitian.

Peran Kader sebagai Agen Perubahan

Penelitian menegaskan bahwa kader posyandu, pengurus PKK, bidan, dan tenaga promosi kesehatan berperan sebagai agen perubahan. Mereka melakukan kunjungan rumah, memberikan edukasi dalam bahasa lokal, hingga mendampingi saat pemeriksaan berlangsung.

Kedekatan emosional antara kader dan warga terbukti efektif mengurangi stigma serta ketakutan terhadap skrining kanker. Dukungan keluarga, terutama suami dan tokoh masyarakat, juga memperkuat penerimaan program.

Partisipasi perempuan meningkat secara bertahap. Wawancara menunjukkan perubahan nyata pada tiga aspek:

1. Pengetahuan: Peserta memahami risiko dan manfaat deteksi dini.

2. Sikap: Ketakutan berkurang, kesadaran meningkat.

3. Perilaku: Muncul kebiasaan melakukan pemeriksaan rutin dan mengajak orang lain.

Difusi inovasi terjadi tidak hanya secara vertikal melalui tenaga kesehatan, tetapi juga horizontal melalui jaringan sosial warga.

Dampak bagi Layanan Kesehatan Primer

Mama Sayang tidak sekadar meningkatkan cakupan skrining, tetapi membentuk budaya baru yang lebih sadar deteksi dini. Model ini menunjukkan bahwa inovasi kesehatan berbasis komunitas dapat berhasil jika:

1. Selaras dengan nilai sosial lokal
2. Didukung agen perubahan yang dipercaya
3. Dikomunikasikan melalui pendekatan interpersonal
4. Dipadukan dengan media digital seperti grup WhatsApp

Secara praktis, temuan ini membuka peluang replikasi di puskesmas lain dengan penyesuaian konteks sosial budaya. Bagi pembuat kebijakan, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya investasi pada pelatihan kader dan strategi komunikasi kesehatan, bukan hanya penyediaan alat medis.

Profil Penulis

Safa Naumi Arista, Universitas Dr. Soetomo, Surabaya.
Ika Devy Pramudiana, Universitas Dr. Soetomo.
Dandy Patrija Wirawan Universitas Dr. Soetomo.
Amirul Mustofa, Universitas Dr. Soetomo, Surabaya.

Sumber Penelitian

Arista, S. N., Pramudiana, I. D., Wirawan, D. P., & Mustofa, A. (2026). Implementation of the Mama Sayang Program Innovation to Achieve Healthy and Prosperous Living at the Sukodono Community Health Center. Internasional Journal of Integrative Sciences, Vol. 5 No. 2, 251–268.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijis.v5i2.1

Posting Komentar

0 Komentar