Penelitian yang dilakukan sepanjang Mei hingga Juli 2025 ini menyoroti kondisi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sektor sayuran di pasar tradisional. Hasilnya penting karena UMKM selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, menyumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto dan menyerap hampir seluruh tenaga kerja nasional.
Namun di balik peran vital tersebut, banyak pedagang pasar tradisional justru mengalami stagnasi usaha. Mereka bertahan puluhan tahun, tetapi tidak mengalami peningkatan skala bisnis yang berarti.
Pasar Tradisional: Kuat Bertahan, Sulit Berkembang
Pasar Kliwon Karanglewas merupakan salah satu pusat distribusi pangan penting di Banyumas. Pedagang sayur di pasar ini berperan sebagai penghubung utama antara petani dan konsumen perkotaan. Namun komoditas sayuran memiliki tantangan berat: mudah rusak, tergantung musim, dan nilainya cepat turun jika terlambat dijual.
Kondisi ini membuat pedagang terbiasa bekerja di bawah tekanan waktu dan risiko kerugian harian. Dalam praktiknya, banyak pedagang hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan hari ini dan modal esok hari, tanpa sempat memikirkan pengembangan usaha jangka panjang.
Di sinilah penelitian ini mengambil posisi berbeda. Alih-alih hanya menyoroti persoalan modal atau fasilitas pasar, tim peneliti mengkaji aspek psikologis dan kompetensi kewirausahaan pedagang secara mendalam.
Metode Penelitian yang Membumi
Riset ini melibatkan 75 pedagang sayur aktif dari total sekitar 150–200 pedagang di Pasar Kliwon. Responden dipilih dari lima zona pasar untuk memastikan representasi yang seimbang.
Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dengan skala penilaian sederhana, sehingga mudah dipahami oleh responden. Para peneliti kemudian menganalisis delapan aspek jiwa kewirausahaan, mulai dari rasa tanggung jawab, kepercayaan diri, hingga keberanian mengambil risiko.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti memotret kondisi nyata pedagang, bukan hanya angka keuangan semata.
Paradoks Kompetensi Pedagang Sayur
Hasil penelitian menunjukkan adanya fenomena yang disebut sebagai competence paradox atau paradoks kompetensi.
Di satu sisi, pedagang memiliki kemampuan operasional yang sangat kuat. Skor tanggung jawab dan kepercayaan diri berada pada kategori “sangat tinggi”. Artinya, mereka disiplin membuka lapak sejak dini hari, bertanggung jawab terhadap barang dagangan, dan percaya diri melayani pelanggan.
Namun di sisi lain, aspek strategis justru menjadi titik lemah. Keberanian mengambil risiko tercatat sebagai skor terendah dibanding indikator lain. Banyak pedagang enggan mencoba inovasi, menambah variasi produk, atau mengubah pola usaha karena takut rugi total.
Situasi ini membuat mereka seperti “berlari di tempat”: sangat ahli bertahan, tetapi sulit melompat ke level usaha yang lebih besar.
Perempuan dan Pedagang Usia Lanjut Mendominasi
Penelitian ini juga mengungkap profil sosial pedagang Pasar Kliwon. Sebanyak 68 persen pedagang adalah perempuan, dan lebih dari sepertiga berusia di atas 50 tahun. Mayoritas memiliki tingkat pendidikan menengah ke bawah dan belum pernah mengikuti pelatihan bisnis formal.
Bagi banyak pedagang perempuan, usaha di pasar bukan sekadar bisnis, melainkan bagian dari sistem ketahanan keluarga. Mereka menanggung peran ganda sebagai pencari nafkah sekaligus pengelola rumah tangga. Akibatnya, stabilitas pendapatan harian sering kali lebih diprioritaskan dibanding peluang ekspansi usaha.
Sementara itu, pedagang usia lanjut cenderung mengandalkan pengalaman lama dan merasa nyaman dengan pola usaha tradisional. Mereka memiliki pengetahuan pasar yang kuat, tetapi kurang terbuka terhadap perubahan dan pencatatan keuangan modern.
Hambatan Utama Bukan Modal, Tapi Pola Pikir
Salah satu temuan paling menarik dari riset ini adalah bahwa hambatan internal lebih dominan dibanding faktor eksternal. Lebih dari separuh pedagang menyebut kurangnya inovasi dan motivasi sebagai kendala utama.
Akses modal dan masalah pasokan memang ada, tetapi porsinya lebih kecil. Banyak pedagang sebenarnya mampu mengembangkan usaha, namun terjebak dalam pola pikir bertahan hidup dan menghindari risiko.
Ketidakdisiplinan dalam pencatatan keuangan juga memperparah kondisi ini. Tanpa data arus kas yang jelas, setiap langkah inovasi terasa seperti perjudian, bukan keputusan bisnis yang terukur.
Implikasi bagi Kebijakan dan Pasar Tradisional
Menurut Gentur Ageng Sejati, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penguatan UMKM pasar tradisional tidak cukup hanya dengan bantuan modal. Yang lebih mendesak adalah perubahan cara berpikir dan peningkatan literasi keuangan pedagang.
“Ketika pedagang mulai memahami kondisi keuangan usahanya secara sederhana, rasa takut terhadap risiko bisa ditekan karena keputusan diambil berdasarkan data, bukan perasaan,” tulis tim peneliti.
Selain itu, kerja kolektif antarpedagang juga dinilai penting. Pembelian bersama langsung ke petani, misalnya, dapat menekan biaya dan meningkatkan daya tawar. Peran pengelola pasar pun perlu bergeser dari sekadar administrator menjadi fasilitator aktif yang menciptakan lingkungan usaha lebih tertib dan adil.

0 Komentar