Model Bisnis Indomaret di Sidoarjo Perlu Lebih Adaptif terhadap Pasar Lokal

Ilustrasi by AI

Bandung- Sebuah kajian terbaru dari Telkom University Bandung mengungkap bahwa model bisnis gerai waralaba Indomaret di Kabupaten Sidoarjo masih kuat secara sistem, tetapi belum sepenuhnya adaptif terhadap kebutuhan pasar lokal. Riset ini ditulis oleh Alif Sulthan Rassya, Putu Nina Madiawati, dan Yogi Suprayogi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University, serta dipublikasikan pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research. Temuan ini penting karena Sidoarjo merupakan wilayah penyangga Surabaya dengan persaingan ritel modern yang sangat ketat.

Penelitian tersebut menyoroti satu gerai Indomaret tipe reguler di kawasan Kesamben, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Meski mengusung merek nasional dengan sistem operasional yang mapan, gerai ini menghadapi tantangan klasik ritel modern: kekosongan stok produk laris, hubungan pelanggan yang masih transaksional, serta keterbatasan fleksibilitas akibat dominasi kebijakan pusat.

Ritel modern tumbuh, tantangan ikut membesar

Indomaret dikenal sebagai jaringan minimarket terbesar di Indonesia, hadir dari kota besar hingga wilayah pedesaan. Daya tarik utamanya adalah lokasi strategis, kecepatan layanan, dan kelengkapan kebutuhan harian. Namun, di daerah dengan persaingan tinggi seperti Sidoarjo—yang juga berbatasan langsung dengan Surabaya—keunggulan tersebut tidak selalu cukup.

Menurut penulis, Sidoarjo mengalami pertumbuhan ekonomi yang kuat dan pergeseran perilaku belanja masyarakat dari pasar tradisional ke ritel modern. Kondisi ini membuka peluang besar, tetapi sekaligus meningkatkan tekanan kompetisi, baik dari sesama minimarket seperti Alfamart dan Alfamidi, maupun dari layanan quick commerce berbasis aplikasi.

“Masalahnya bukan pada potensi pasar, melainkan pada kesenjangan antara desain model bisnis di tingkat pusat dan realitas operasional di tingkat gerai,” tulis para peneliti.

Memetakan masalah lewat Business Model Canvas

Untuk membaca persoalan secara menyeluruh, tim peneliti menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC) yang memetakan sembilan elemen utama bisnis, mulai dari segmen pelanggan, proposisi nilai, hingga struktur biaya.

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa gerai Indomaret di Sidoarjo masih sangat bergantung pada penjualan offline dan layanan kasir konvensional. Hubungan dengan pelanggan bersifat pasif dan transaksional, tanpa sistem pencatatan keluhan atau preferensi pelanggan. Aplikasi digital seperti Klik Indomaret belum dimanfaatkan secara optimal di tingkat gerai.

Yang paling krusial, penelitian menemukan kekosongan stok pada produk dengan permintaan tinggi, seperti mi instan, rokok, dan beras. Kondisi ini membuat proposisi nilai “serba ada dan cepat” menjadi tidak konsisten, sekaligus berpotensi menggerus kepercayaan pelanggan.

Analisis SWOT: kuat di merek, lemah di eksekusi lokal

Melalui analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) yang diperdalam dengan matriks IFAS dan EFAS, peneliti menilai posisi strategis gerai tersebut.

Di sisi kekuatan, Indomaret unggul dalam:

  • Ekuitas merek yang kuat dan terpercaya,
  • Sistem operasional dan rantai pasok yang terstandarisasi,
  • Pendapatan yang relatif stabil dan terdiversifikasi.

Namun, kelemahannya juga signifikan:

  • Kekosongan stok produk utama,
  • Hubungan pelanggan yang belum dikelola secara aktif,
  • Biaya operasional tinggi dan ketergantungan pada kebijakan pusat.

Sementara itu, peluang datang dari pertumbuhan ekonomi Sidoarjo dan meningkatnya perilaku belanja omnichannel. Ancaman utama berasal dari persaingan minimarket yang padat dan munculnya layanan belanja cepat berbasis aplikasi.

Gabungan faktor tersebut menempatkan gerai Indomaret di Kuadran I (strategi agresif): pasar sangat potensial, tetapi membutuhkan transformasi internal agar peluang tidak hilang.

Usulan model bisnis baru: lebih lokal dan lebih digital

Sebagai solusi, penelitian ini menawarkan Business Model Canvas versi usulan yang lebih adaptif terhadap karakter pasar lokal Sidoarjo. Fokus utamanya adalah memperkuat dua titik lemah: proposisi nilai dan hubungan pelanggan.

Proposisi nilai diperluas menjadi tiga pilar:

  1. Cepat – melalui jalur kasir cepat dan layanan pesan via WhatsApp,
  2. Selalu tersedia – dengan pemantauan stok prioritas untuk produk laris,
  3. Siap untuk komunitas – lewat kolaborasi dengan UMKM makanan lokal.

Dalam hal hubungan pelanggan, peneliti mendorong pergeseran dari sekadar transaksi ke pendekatan loyalitas berbasis komunitas. Contohnya, membangun grup pelanggan melalui WhatsApp atau media sosial, menerapkan budaya layanan 3S (senyum, sapa, salam), serta menjadikan karyawan sebagai penghubung aktif antara layanan offline dan online.

Model baru ini juga membuka sumber pendapatan tambahan, seperti kerja sama sewa ruang dengan UMKM, tanpa harus mengubah format gerai secara besar-besaran.

Dampak bagi dunia usaha dan kebijakan

Menurut estimasi peneliti, penerapan model bisnis usulan berpotensi:

  • Mengurangi kehilangan penjualan hingga 2–5 persen,
  • Meningkatkan pendapatan sekitar 7–10 persen,
  • Memperkuat loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.

Temuan ini relevan tidak hanya bagi pemilik waralaba Indomaret, tetapi juga bagi pelaku ritel modern lainnya. Bagi pengambil kebijakan, riset ini menegaskan pentingnya memberi ruang fleksibilitas terbatas bagi gerai waralaba agar mampu menyesuaikan diri dengan karakter lokal, tanpa mengorbankan konsistensi merek nasional.

Profil singkat penulis

  • Alif Sulthan Rassya Telkom University.
  • Dr. Putu Nina Madiawati Telkom University.
  • Yogi Suprayogi Telkom University.

Sumber penelitian

Rassya, A. S., Madiawati, P. N., & Suprayogi, Y. (2026). Development of the Indomaret Franchise Business Model in Sidoarjo Using the Business Model Canvas. East Asian Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 1, 277–292.

Posting Komentar

0 Komentar