Riset tersebut menyoroti bagaimana tiga startup berbasis teknologi di Jawa Timur menyesuaikan sistem penilaian kinerja mereka agar tidak kaku dan tertinggal oleh perubahan teknologi. Temuan ini penting karena banyak organisasi masih mengandalkan sistem penilaian tahunan yang rigid, padahal dinamika kerja digital menuntut penyesuaian yang jauh lebih cepat dan fleksibel.
Tantangan Startup di Era Perubahan Teknologi
Transformasi digital tidak hanya mengubah produk dan layanan, tetapi juga cara kerja di dalam organisasi. Startup, sebagai organisasi yang tumbuh cepat dengan sumber daya terbatas, berada di garis depan perubahan ini. Teknologi baru, pembaruan sistem, hingga tuntutan pasar digital membuat target kerja dan peran karyawan sering berubah dalam waktu singkat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa sistem manajemen kinerja konvensional justru berpotensi menghambat inovasi. Ketika target ditetapkan terlalu lama dan evaluasi dilakukan secara periodik tahunan, karyawan kesulitan menyesuaikan diri dengan kebutuhan teknologi yang terus bergeser. Di sinilah manajemen kinerja adaptif berperan sebagai solusi yang lebih relevan.
Cara Penelitian Dilakukan
Tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus pada tiga startup teknologi di Jawa Timur. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 12 informan, mulai dari pendiri startup, manajer operasional, pemimpin tim, hingga karyawan inti. Proses ini diperkuat dengan analisis dokumen internal dan observasi terbatas.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali praktik manajemen kinerja secara nyata, bukan sekadar konsep di atas kertas. Hasilnya memberikan gambaran konkret tentang bagaimana startup menyesuaikan sistem kerja mereka dalam menghadapi perubahan teknologi yang cepat.
Empat Praktik Kunci Manajemen Kinerja Adaptif
Penelitian ini menemukan empat praktik utama yang menjadi ciri manajemen kinerja adaptif di startup:
1. Target Kerja yang Fleksibel Startup tidak menetapkan target kinerja tahunan yang kaku. Target disusun dalam jangka pendek, berbasis proyek atau sprint kerja, dan dapat diubah ketika teknologi atau kebutuhan klien berubah. Pendekatan ini membuat tim tetap realistis dan fokus pada prioritas terkini.
2. Umpan Balik Berkelanjutan Alih-alih menunggu evaluasi resmi, kinerja dievaluasi melalui diskusi dan umpan balik yang berlangsung terus-menerus. Ketika ada perubahan sistem atau teknologi baru, koreksi dan arahan langsung diberikan agar karyawan bisa segera menyesuaikan diri.
3. Pemanfaatan Platform Digital Penilaian kinerja didukung oleh platform digital yang mencatat progres kerja secara real-time. Kontribusi karyawan dinilai berdasarkan hasil kerja yang terlihat di sistem, bukan sekadar kehadiran fisik atau laporan administratif.
4. Keterlibatan Langsung Pimpinan Pendiri dan manajer terlibat aktif dalam penyesuaian target dan evaluasi kinerja. Keterlibatan ini memberi kejelasan arah dan rasa aman bagi karyawan ketika menghadapi perubahan teknologi yang signifikan.
Menurut para peneliti, kombinasi keempat praktik ini membentuk sistem manajemen kinerja yang responsif dan selaras dengan dinamika kerja startup.
Dampak bagi Karyawan dan Organisasi
Manajemen kinerja adaptif terbukti meningkatkan kelincahan organisasi dan kesiapan sumber daya manusia. Karyawan menjadi lebih siap menghadapi perubahan karena ekspektasi kerja selalu diperbarui dan dikomunikasikan secara jelas. Tekanan kerja juga dapat dikelola lebih baik karena target dipandang sebagai panduan yang fleksibel, bukan beban yang kaku.
Bagi organisasi, sistem ini membantu startup mengambil keputusan strategis dengan lebih cepat. Ketika teknologi berubah, penyesuaian target dan cara kerja bisa dilakukan tanpa mengganggu keberlangsungan operasional. Hal ini memperkuat daya saing startup di tengah persaingan digital yang semakin ketat.
Siti Mahmudah dan tim menegaskan bahwa manajemen kinerja adaptif bukan sekadar alat evaluasi, melainkan mekanisme strategis untuk membangun budaya belajar berkelanjutan dan inovasi di dalam organisasi.
Implikasi Lebih Luas
Temuan ini relevan tidak hanya bagi startup, tetapi juga bagi dunia usaha, pendidikan, dan pembuat kebijakan. Bagi pelaku usaha, riset ini memberikan panduan praktis untuk merancang sistem kinerja yang lebih selaras dengan era digital. Bagi institusi pendidikan, hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam menyiapkan lulusan yang siap bekerja di lingkungan kerja yang dinamis. Sementara bagi pembuat kebijakan, temuan ini menunjukkan pentingnya mendorong praktik manajemen sumber daya manusia yang adaptif dalam ekosistem startup.
Profil Penulis
· Siti Mahmudah. Dosen Politeknik NSC Surabaya. Keahlian di bidang manajemen sumber daya manusia dan organisasi.
· Tri Siwi Agustina. Dosen Universitas Airlangga. Fokus pada manajemen dan pengembangan organisasi.
· Moch Aminudin Hadi. Dosen Universitas Riau. Keahlian pada manajemen strategis dan kinerja organisasi.
Sumber Penelitian
Mahmudah, S., Agustina, T. S., & Hadi, M. A. (2026). Adaptive Performance Management Practices in Responding to Rapid Technological Change within Startup Companies. Formosa Journal of Science and Technology,
Vol. 5 No. 1, hlm. 295–308.
DOI: 10.55927/fjst.v5i1.364.
0 Komentar