Jakarta—
Manajemen Isu LAZISNU Perkuat Kepercayaan Publik terhadap NU Care Jakarta. Penelitian dilakukan oleh Ahmad
Soleh, Tria Patrianti, Evi Satispi, dan Sa’diyah El Adawiyah dari Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Jakarta yang dipublikasikan
dalam Indonesian Journal of Business Analytics (IJBA) edisi Februari
2026.
Penelitian
yang dilakukan oleh Ahmad Soleh, Tria Patrianti, Evi Satispi, dan Sa’diyah
El Adawiyah menelaah bagaimana strategi manajemen isu diterapkan di LAZISNU
dalam menghadapi potensi krisis komunikasi dan menjaga legitimasi publik. etidaksesuaian
data penghimpunan zakat yang muncul di berbagai kanal publik mendorong LAZISNU
melakukan penguatan manajemen isu untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan
masyarakat terhadap NU Care Jakarta.
Latar
Belakang: Disparitas Data dan Fluktuasi Zakat
Penelitian
mencatat adanya perbedaan data penghimpunan zakat pada 2024. Aplikasi NU Online
Super App mencatat Rp1,6 miliar, sementara laporan resmi pusat NU Care-LAZISNU
menyebut angka Rp105,8 miliar pada periode yang sama .
Di
tingkat Jakarta, laporan bulanan juga menunjukkan fluktuasi tajam. April
mencatat Rp412 juta, namun Mei turun drastis menjadi Rp123 juta.
Tanpa
penjelasan terbuka, kondisi ini berpotensi menimbulkan persepsi negatif dan
melemahkan kepercayaan publik. Dalam konteks era digital, masyarakat semakin
kritis terhadap transparansi lembaga pengelola dana publik.
Metode:
Studi Kualitatif Partisipatif
Penelitian
menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode partisipatif
lapangan.
Total
15 informan diwawancarai, terdiri dari:
- 3
pimpinan LAZISNU (informan kunci)
- 7
relawan LAZISNU (informan utama)
- 5
perwakilan majelis, Baznas, dan NU Care (informan tambahan)
Analisis
data menggunakan model Miles & Huberman, dengan validasi melalui
triangulasi sumber untuk memastikan kredibilitas temuan.
Tiga
Isu Utama yang Mempengaruhi Kepercayaan
Hasil
penelitian mengidentifikasi tiga isu utama:
1️⃣ Transparansi pengelolaan dana
2️⃣
Stigma negatif terhadap lembaga filantropi
3️⃣
Rendahnya partisipasi publik
Ketiga
isu ini saling terkait dan dapat berkembang menjadi krisis reputasi jika tidak
dikelola secara sistematis.
Strategi
Manajemen Isu LAZISNU
Penelitian
menemukan bahwa LAZISNU menerapkan proses manajemen isu yang terstruktur dalam
tiga tahap utama:
1️⃣ Identifikasi Isu
Dilakukan
melalui survei persepsi publik, evaluasi internal, dan pemantauan lingkungan.
Umpan balik dari pemangku kepentingan dikumpulkan secara aktif.
2️⃣ Analisis Isu
LAZISNU
memetakan perspektif stakeholder dan memprioritaskan isu mendesak. Diskusi
dilakukan secara inklusif melibatkan pimpinan, relawan, dan unsur pengawas.
3️⃣ Evaluasi Dampak
Organisasi
menilai konsekuensi operasional, finansial, dan reputasional dari isu yang
muncul, serta menyusun rencana mitigasi agar tidak berkembang menjadi krisis.
Pendekatan
ini menunjukkan bahwa manajemen isu tidak sekadar respons teknis, tetapi bagian
dari strategi menjaga legitimasi institusi.
Tiga
Mekanisme Penguatan Kepercayaan
Dalam
praktiknya, LAZISNU menerapkan tiga mekanisme utama untuk memperkuat trust:
🔹 Transparansi Keuangan dan Audit Independen
Laporan
keuangan dipublikasikan secara terbuka dan diaudit untuk memastikan
akuntabilitas.
🔹 Pengawasan Eksternal
Majelis
dan stakeholder terkait dilibatkan dalam proses pengawasan penghimpunan dan
distribusi dana.
🔹 Keterbukaan Informasi
Komunikasi
dilakukan melalui platform digital (website resmi, media sosial, aplikasi
NU-Care) serta forum tatap muka seperti pengajian dan musyawarah warga.
Model
komunikasi ini bersifat hibrida: digital untuk memperluas akses informasi, dan
tatap muka untuk membangun kedekatan emosional di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Manajemen
Isu sebagai Strategi Legitimasi
Penelitian
menegaskan bahwa kepercayaan publik bersifat multidimensional. Tidak cukup
hanya dengan laporan terbuka, tetapi harus dibangun melalui:
- Konsistensi
komunikasi
- Respons
cepat terhadap isu
- Partisipasi
publik dalam perencanaan dan evaluasi program
Dengan
melibatkan masyarakat dalam survei, pengawasan, dan verifikasi program,
kepercayaan menjadi relasional, bukan sekadar transaksional.
Menurut
para peneliti, manajemen isu yang efektif mampu mengubah potensi ancaman
reputasi menjadi peluang untuk memperkuat kredibilitas institusi.
Implikasi
bagi Lembaga Filantropi
Temuan
ini menunjukkan bahwa di era keterbukaan informasi, lembaga zakat dan
filantropi harus:
- Memastikan
konsistensi data lintas kanal
- Mengintegrasikan
komunikasi digital dan langsung
- Membangun
sistem audit dan supervisi berlapis
- Menjadikan
manajemen isu sebagai fungsi strategis, bukan reaktif
Kepercayaan
publik bukan hasil sesaat, melainkan proses berkelanjutan yang memerlukan
dialog dan transparansi.
Profil
Penulis
- Ahmad Soleh-Universitas Muhammadiyah Jakarta.
- Tria Patrianti-Universitas Muhammadiyah Jakarta
- Evi Satispi-Universitas Muhammadiyah Jakarta
- Sa’diyah El Adawiyah-Universitas Muhammadiyah Jakarta
Sumber
Penelitian
Soleh, A., Patrianti, T., Satispi, E.,
& El Adawiyah, S. (2026).Issue Management of the LAZISNU Philanthropic
Institution in Strengthening Public Trust in NU-Care Jakarta.
Indonesian Journal of Business Analytics (IJBA), Vol. 6 No. 1, hlm.
85–94.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijba.v6i1.16185
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijba

0 Komentar