Keputusan Material Ramah Lingkungan di Proyek Konstruksi Menengah Ditentukan Negosiasi, Bukan Kesadaran Individu

 
Ilustrasi by AI 
 
FORMOSA NEWS - Balikpapan - Pemilihan material ramah lingkungan dalam proyek konstruksi skala menengah di Indonesia ternyata tidak ditentukan oleh idealisme pribadi para insinyur. Faktor penentunya justru berada pada mekanisme negosiasi lintas peran di dalam proyek. Temuan ini diungkap oleh Sahrullah dari Politeknik Negeri Samarinda dalam riset yang dipublikasikan pada 2026 di Formosa Journal of Science and Technology (FJST). Penelitian berbasis studi kasus di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, ini penting karena memberi gambaran realistis tentang bagaimana keputusan keberlanjutan benar-benar diambil di lapangan, jauh dari asumsi teoritis bahwa kesadaran lingkungan individu adalah faktor utama

Di tengah meningkatnya dorongan global untuk menerapkan konstruksi berkelanjutan, sektor konstruksi masih menjadi salah satu penyumbang emisi karbon dan konsumsi sumber daya alam terbesar. Material bangunan memainkan peran kunci dalam persoalan ini. Namun, adopsi material ramah lingkungan di proyek-proyek non-ikonik, terutama proyek menengah dengan keterbatasan anggaran, sering kali berjalan lambat dan tidak konsisten. Penelitian Sahrullah berangkat dari realitas tersebut.

Realitas Lapangan Konstruksi Berkelanjutan

Dalam praktik sehari-hari, proyek konstruksi skala menengah menghadapi tekanan yang berbeda dibanding proyek besar atau proyek pemerintah. Anggaran terbatas, tenggat waktu ketat, serta tuntutan efisiensi membuat setiap keputusan teknis harus melalui pertimbangan yang sangat pragmatis. Material ramah lingkungan, meskipun diakui memiliki nilai keberlanjutan, sering dianggap berisiko dari sisi biaya, ketersediaan, dan waktu pelaksanaan.

Sahrullah mencatat bahwa di Balikpapan—salah satu kota dengan pertumbuhan pembangunan pesat di Kalimantan Timur—keputusan material tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu menjadi hasil tarik-menarik antara berbagai kepentingan profesional dalam proyek.

Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan delapan informan kunci yang terlibat langsung dalam pengambilan keputusan material di proyek konstruksi menengah. Para informan terdiri dari project engineer, structural engineer, project manager, dan quantity surveyor.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali proses pengambilan keputusan secara kontekstual, termasuk diskusi internal, perbedaan pandangan antarperan, hingga kompromi yang akhirnya diambil. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola dan dinamika keputusan yang berulang.

Negosiasi Jadi Inti Pengambilan Keputusan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan material ramah lingkungan bukanlah proses linear yang dimulai dari pertimbangan teknis lalu berakhir pada keputusan final. Sebaliknya, keputusan terbentuk melalui proses negosiasi yang dinamis dan berulang.

Beberapa temuan utama penelitian ini antara lain:

·     Keputusan material merupakan hasil negosiasi lintas peran. Insinyur mengajukan alternatif material dari sisi teknis dan keberlanjutan, tetapi keputusan akhir dibentuk melalui diskusi dengan manajer proyek dan quantity surveyor.

·       Efisiensi biaya menjadi poros utama keputusan. Material dengan nilai keberlanjutan tinggi tetap berpotensi ditolak jika dianggap membebani anggaran proyek.

·      Tekanan jadwal dan persepsi risiko berfungsi sebagai pengendali. Material yang belum umum digunakan sering dinilai berisiko memperlambat pekerjaan atau menimbulkan masalah teknis di lapangan.

·     Manajer proyek dan quantity surveyor memegang peran penentu. Mereka memiliki otoritas manajerial dan kontrol anggaran yang membuat suara mereka dominan dalam keputusan akhir.

Dalam banyak kasus, rekomendasi teknis dari insinyur harus disesuaikan dengan realitas biaya dan waktu. Keputusan yang diambil sering kali merupakan “jalan tengah” antara idealisme keberlanjutan dan keterbatasan proyek.

Kesadaran Lingkungan Bukan Faktor Penentu

Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah bahwa kesadaran lingkungan individu bukan faktor utama dalam adopsi material ramah lingkungan. Semua informan mengaku memahami pentingnya keberlanjutan dan dampak lingkungan konstruksi. Namun, pemahaman tersebut tidak secara otomatis diterjemahkan menjadi keputusan material yang lebih hijau.

Menurut Sahrullah, kesadaran individu hanya berperan sebagai latar belakang normatif. Keputusan nyata tetap ditentukan oleh sistem, struktur organisasi proyek, dan mekanisme pengambilan keputusan kolektif. Dengan kata lain, seberapa peduli seorang insinyur terhadap lingkungan tidak cukup kuat untuk mengubah keputusan jika struktur proyek tidak mendukung.

Dampak bagi Dunia Konstruksi

Temuan ini membawa implikasi penting bagi dunia usaha konstruksi dan pembuat kebijakan. Upaya mendorong konstruksi berkelanjutan tidak bisa hanya bertumpu pada kampanye kesadaran atau pelatihan individu. Fokus perlu diarahkan pada perbaikan mekanisme tata kelola proyek.

Bagi kontraktor dan pengembang, penelitian ini menunjukkan pentingnya melibatkan manajer proyek dan quantity surveyor dalam agenda keberlanjutan. Tanpa pemahaman mereka terhadap nilai jangka panjang material ramah lingkungan, keputusan akan terus didominasi pertimbangan jangka pendek.

Bagi pembuat kebijakan, hasil penelitian ini menegaskan perlunya insentif struktural, seperti regulasi, standar biaya, atau skema dukungan, agar material ramah lingkungan menjadi pilihan yang realistis secara ekonomi di proyek skala menengah.

Kontribusi bagi Dunia Akademik dan Praktik

Secara akademik, penelitian ini memperkaya kajian konstruksi berkelanjutan dengan menyoroti aspek sosial dan organisasional dalam pengambilan keputusan material. Selama ini, banyak studi lebih menekankan model penilaian teknis dan perhitungan numerik, tanpa menggali proses negosiasi yang terjadi di lapangan.

Secara praktis, temuan ini memberi dasar empiris bagi pengembangan strategi konstruksi hijau yang lebih kontekstual, khususnya di negara berkembang. Keberlanjutan tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan material, tetapi sebagai hasil dari sistem keputusan yang kompleks.

Profil Penulis

Sahrullah. Dosen Politeknik Negeri Samarinda. Bidang keahlian meliputi manajemen konstruksi, teknik sipil, dan pengambilan keputusan proyek, dengan fokus penelitian pada keberlanjutan dan tata kelola proyek konstruksi.

Sumber Penelitian

Sahrullah. (2026). Decision-Making Dynamics of Engineers in Selecting Environmentally Friendly Materials for Medium-Scale Construction Projects. Formosa Journal of Science and Technology,

Vol. 5 No. 1, hlm. 309–320.

DOI: 10.55927/fjst.v5i1.366

 

Posting Komentar

0 Komentar