Region XI, Filipina— Kepemimpinan Sekolah Transformasional,
Pemberdayaan Psikologis, Iklim Organisasi, dan Keterikatan Kerja: Model
Persamaan Struktural terhadap Inovasi Organisasi pada Guru Sekolah Negeri.
Penelitian ini dilakukan oleh Cristoper L. Bodiongan dan Eugenio S.
Guhao, Jr. dari University of Mindanao, yang dipublikasikan dalam East
Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR) pada tahun 2026.
Penelitian yang dilakukan oleh
Cristoper L. Bodiongan dan Eugenio S. Guhao, Jr. mengungkapkan bahwa
faktor psikologis dan lingkungan kerja di sekolah memengaruhi kemampuan guru
untuk berinovasi, terutama di tengah tuntutan perubahan sistem pendidikan yang
semakin cepat.
Inovasi
pendidikan sebagai kebutuhan strategis
Para
peneliti menyoroti bahwa inovasi di lingkungan sekolah menjadi semakin penting
sejak pandemi, ketika banyak guru harus beradaptasi dengan pembelajaran jarak
jauh. Namun, tidak semua guru mampu berinovasi secara optimal karena
keterbatasan dukungan organisasi, sumber daya, maupun gaya kepemimpinan.
Kurangnya
inovasi berpotensi membuat praktik pembelajaran stagnan dan menghambat
pencapaian target pendidikan. Sebaliknya, inovasi dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran, keterlibatan siswa, serta kesiapan menghadapi dunia kerja global.
Oleh karena itu, memahami faktor yang memengaruhi inovasi guru menjadi langkah
penting dalam pengembangan kebijakan pendidikan.
Metode
penelitian dan pendekatan analisis
Penelitian
ini melibatkan 400 guru sekolah dasar negeri di Region XI Filipina. Para
responden dipilih dari lebih dari 26 ribu guru melalui metode stratified random
sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mengukur empat variabel
utama: kepemimpinan transformasional, pemberdayaan psikologis, iklim
organisasi, dan work engagement.
Tim
peneliti menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM) untuk
menganalisis hubungan antarvariabel dan menemukan model terbaik yang
menjelaskan inovasi organisasi. Analisis statistik juga mencakup korelasi,
regresi linier, dan pengujian indeks kecocokan model.
Temuan
utama penelitian
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa seluruh variabel berada pada kategori tinggi,
termasuk tingkat inovasi organisasi guru.
Beberapa
temuan penting meliputi:
- Kepemimpinan transformasional memiliki hubungan kuat dengan
inovasi organisasi (r = 0,758), menunjukkan pentingnya kepala sekolah
dalam memberi arah dan visi.
- Iklim organisasi memiliki korelasi paling kuat dengan inovasi
(r = 0,767), terutama melalui hubungan kolegial dan budaya kerja yang
suportif.
- Pemberdayaan psikologis guru berkontribusi signifikan (r =
0,632), terutama ketika guru merasa pekerjaannya bermakna dan berdampak.
- Work engagement juga berhubungan positif dengan inovasi (r =
0,689), terutama pada aspek energi kerja dan fokus terhadap tugas.
Model
struktural terbaik menunjukkan bahwa iklim organisasi dan pemberdayaan
psikologis menjadi faktor paling dominan dalam mendorong inovasi. Sementara
itu, kepemimpinan transformasional dan keterikatan kerja tidak menunjukkan
pengaruh langsung yang kuat dalam model akhir, meskipun tetap berperan secara
tidak langsung melalui variabel lain.
Menurut
Bodiongan dan Guhao dari University of Mindanao, hasil ini menegaskan bahwa
inovasi di sekolah lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan kerja yang
mendukung dan rasa berdaya guru dibandingkan faktor individu semata.
Iklim
organisasi sebagai kunci perubahan
Penelitian
ini menekankan bahwa iklim organisasi yang positif—ditandai dengan komunikasi
terbuka, hubungan kolegial, dan dukungan profesional—mendorong guru untuk
mencoba metode pembelajaran baru. Guru merasa lebih aman mengambil risiko
inovatif ketika lingkungan sekolah memberikan dukungan sosial dan struktural.
Sebaliknya,
iklim yang terlalu kaku atau minim kolaborasi dapat menghambat kreativitas.
Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan budaya organisasi menjadi salah satu
strategi paling efektif dalam meningkatkan inovasi pendidikan.
Peran
pemberdayaan psikologis guru
Pemberdayaan
psikologis menjadi faktor penting lain. Guru yang merasa pekerjaannya bermakna
cenderung lebih berkomitmen pada inovasi. Rasa otonomi dan dampak terhadap
organisasi membuat guru lebih berani mencoba pendekatan baru dalam
pembelajaran.
Penelitian
ini juga menemukan bahwa indikator “meaning” atau makna kerja memiliki nilai
tertinggi dibanding indikator lain. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi
intrinsik memainkan peran besar dalam mendorong inovasi.
Implikasi
bagi pendidikan dan kebijakan
Temuan
penelitian ini memberikan beberapa rekomendasi strategis bagi dunia pendidikan:
- Kepala sekolah perlu menciptakan lingkungan kerja kolaboratif yang mendukung kreativitas guru.
- Program pengembangan profesional harus fokus pada pemberdayaan psikologis, bukan hanya pelatihan teknis.
- Kebijakan pendidikan sebaiknya memperhatikan faktor budaya organisasi dalam mendorong inovasi.
- Departemen pendidikan dapat menggunakan model struktural ini sebagai dasar pengambilan keputusan berbasis data.
Selain
itu, penelitian ini mendukung tujuan Sustainable Development Goal 4 (SDG 4),
yaitu meningkatkan kualitas pendidikan melalui inovasi dan pembelajaran
berkelanjutan.
Profil
penulis
• Cristoper
L. Bodiongan – University of Mindanao.
• Eugenio
S. Guhao, Jr. – University of Mindanao.
Sumber
penelitian
Bodiongan, C. L., & Guhao, E. S.,
Jr. (2026). Transformational School Leadership, Psychological Empowerment,
Organizational Climate, and Work Engagement: A Structural Equation Model on
Organizational Innovation among Public School Teachers.
East Asian
Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 2, hlm. 497–516.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i2.37
URL Resmi: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar