Medan— Studi USU Ungkap Realitas Ibu Muda
Angkola Batak Pascacerai di Padangsidimpuan. Penelitian yang dilakukan oleh Azhar
Rasyidah Lubis, Hadriana Marhaeni Munthe, dan Linda Elida dari Universitas
Sumatera Utara (USU) yang terbit di Contemporary Journal of Applied
Sciences (CJAS).
Tim
peneliti USU melakukan penelitian lapangan kualitatif di Kecamatan
Padangsidimpuan Utara, wilayah dengan angka perceraian tertinggi secara lokal
dalam lima tahun terakhir. Data dikumpulkan dari 16 informan, terdiri dari ibu
muda bercerai usia 20–40 tahun, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta anggota
keluarga. Wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi digunakan untuk
memetakan bagaimana masyarakat memaknai status mereka dan bagaimana para
perempuan ini memaknai diri sendiri. Pendekatan ini menyoroti realitas sosial,
bukan sekadar angka statistik.
Temuan
Utama Penelitian
1.
Kekerasan dalam rumah tangga menjadi pemicu utama perceraian.
Kekerasan fisik dan psikologis muncul sebagai penyebab paling dominan. Banyak
kasus terkait penyalahgunaan zat, emosi yang tidak stabil, serta lingkungan
rumah tangga yang tidak aman bagi perempuan dan anak. Perceraian dipilih
sebagai langkah bertahan hidup, bukan bentuk pembangkangan sosial.
2.
Ketidakstabilan ekonomi memperparah konflik.
Kegagalan suami memenuhi tanggung jawab finansial menciptakan tekanan
berkepanjangan. Sejumlah informan mengaku menanggung beban ekonomi dan
emosional sendirian sebelum akhirnya memutuskan berpisah.
3.
Campur tangan keluarga besar memicu ketegangan.
Konflik antara istri dan keluarga suami kerap memperburuk situasi. Dalam budaya
Angkola Batak, pernikahan menyatukan dua keluarga besar, sehingga konflik yang
tak terselesaikan dapat mempercepat perceraian.
4.
Status sosial menjadi “di antara”.
Setelah bercerai, perempuan kehilangan posisi formal dalam keluarga adat suami,
namun tidak sepenuhnya kembali pada status semula di keluarga asal. Peran
mereka dalam upacara adat menjadi terbatas, mencerminkan posisi sosial yang
ambigu.
5.
Ada penerimaan sosial, tetapi disertai pengawasan.
Meski stigma ada, sebagian besar ibu muda bercerai tidak dikucilkan secara
terbuka. Mereka tetap terlibat dalam kegiatan keagamaan dan sosial. Dukungan
muncul berupa kesempatan kerja, dorongan moral, serta bantuan keluarga dan
tetangga. Namun, perubahan penampilan atau kondisi ekonomi pascacerai dapat
memicu gosip atau kecurigaan.
Agama
memainkan peran penyeimbang. Ajaran Islam memandang perceraian sebagai hal yang
dibolehkan namun tidak dianjurkan, mendorong perdamaian sekaligus menolak
perlakuan tidak adil. Tokoh agama yang diwawancarai menegaskan perempuan yang
keluar dari hubungan penuh kekerasan tetap berhak atas martabat dan dukungan
sosial.
Secara adat, masyarakat membedakan marando
(perempuan cerai hidup) dan mabalu (janda karena kematian). Mabalu
umumnya dipandang lebih simpatik, sedangkan marando mendapat penilaian moral
lebih ketat. Meski demikian, praktik sosial menunjukkan perubahan bertahap.
Perceraian semakin dipahami sebagai realitas sosial, bukan semata aib.
Menurut
Azhar Rasyidah Lubis dan tim USU, ketahanan para ibu muda ini
menunjukkan pergeseran makna. Perceraian tidak lagi otomatis dimaknai sebagai
kegagalan, tetapi dapat mencerminkan keberanian melindungi diri dan anak dari
situasi berbahaya. Banyak informan menunjukkan kemandirian yang tetap berakar
pada nilai budaya dan agama.
Dampak
dan Implikasi
Hasil
studi ini memberi rujukan penting bagi berbagai pihak:
- Pembuat
kebijakan:
perlunya penguatan program penanganan kekerasan dalam rumah tangga,
pemberdayaan ekonomi perempuan, serta perlindungan hukum.
- Tokoh
adat dan masyarakat:
tradisi dapat beradaptasi tanpa kehilangan identitas, dengan memberi ruang
dukungan bagi perempuan.
- Lembaga
keagamaan: peran
dakwah dan bimbingan moral penting untuk mengurangi stigma.
- Pendidik
dan pekerja sosial:
pemahaman tentang konstruksi sosial stigma membantu merancang layanan
konseling yang lebih efektif.
Perceraian
dalam konteks ini muncul dari persilangan faktor ekonomi, budaya, dan
keselamatan, bukan sekadar keputusan pribadi. Respons sosial yang empatik dapat
memperkuat ketahanan keluarga dan komunitas.
Profil
Penulis
- Azhar
Rasyidah Lubis –Universitas
Sumatera Utara.
- Hadriana Marhaeni Munthe –Universitas Sumatera Utara.
- Linda Elida –Universitas Sumatera Utara.
Sumber
Penelitian
Lubis, A.R., Munthe,
H.M., & Elida, L. (2026). The Reality of Angkola Batak Women as Divorce
Single Parents in Padangsidimpuan. Contemporary Journal of Applied
Sciences (CJAS), 4(1), 11–22.
DOI: https://doi.org/10.55927/cjas.v4i1.115
URL resmi: https://ntlformosapublisher.org/index.php/cjas
.png)
0 Komentar