Kelas Terlalu Padat Menurunkan Prestasi Siswa SMP di Lagos, Nigeria


Ilustrasi by AI 

Lagos- Kepadatan ruang kelas terbukti berdampak langsung pada prestasi belajar siswa sekolah menengah pertama di Lagos, Nigeria. Kesimpulan ini disampaikan oleh Ayodele Fredrick Olayemi dan Oladeji Ige Olubunmi dari Federal College of Education (Technical) Akoka dalam sebuah studi yang meneliti hubungan antara ukuran kelas dan prestasi akademik mata pelajaran Business Studies di wilayah Kosofe Local Government Area, Lagos State. Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 ini menegaskan bahwa kelas yang terlalu besar melemahkan kualitas pembelajaran, terutama pada mata pelajaran yang menuntut keterampilan praktis.

Penelitian ini penting karena Lagos merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan penduduk tercepat di Afrika, sehingga sekolah negeri menghadapi tekanan besar akibat lonjakan jumlah siswa. Dalam konteks ini, Business Studies menjadi mata pelajaran strategis karena dirancang untuk membekali siswa dengan pengetahuan dasar kewirausahaan, pengelolaan keuangan sederhana, dan keterampilan perkantoran. Namun, tujuan tersebut sulit tercapai jika proses belajar berlangsung dalam ruang kelas yang penuh sesak.

Latar belakang masalah

Business Studies di tingkat junior secondary school tidak hanya berfokus pada hafalan konsep, tetapi menekankan praktik langsung, diskusi, simulasi transaksi bisnis, dan latihan keterampilan administrasi. Proses belajar semacam ini membutuhkan pengawasan guru yang intensif dan interaksi yang cukup dengan setiap siswa. Ketika jumlah siswa terlalu banyak, guru cenderung beralih ke metode ceramah karena keterbatasan waktu dan ruang, sehingga aspek praktik menjadi terabaikan.

Di wilayah urban seperti Kosofe, sekolah negeri sering menampung jumlah siswa yang jauh melebihi kapasitas ideal. Keterbatasan ruang kelas, minimnya fasilitas pendukung, serta rasio guru–siswa yang tinggi menciptakan lingkungan belajar yang kurang kondusif. Kondisi ini mendorong perlunya bukti empiris yang kuat untuk menilai sejauh mana ukuran kelas memengaruhi prestasi akademik siswa, khususnya pada mata pelajaran berbasis keterampilan.

Metodologi penelitian

Penelitian ini menggunakan desain korelasional untuk melihat hubungan antara ukuran kelas dan prestasi akademik tanpa melakukan intervensi langsung. Data dikumpulkan dari 100 siswa yang berasal dari empat sekolah menengah pertama negeri di Kosofe Local Government Area. Pemilihan sekolah dilakukan secara purposif, dengan mempertimbangkan jumlah siswa yang tinggi dan ketersediaan data akademik.

Peneliti menggunakan data arsip sekolah untuk mencatat jumlah siswa dalam setiap kelas Business Studies serta nilai ujian standar mata pelajaran tersebut. Selain itu, kuesioner persepsi diberikan kepada siswa untuk mengetahui pandangan mereka terhadap dampak ukuran kelas pada proses belajar. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan korelasi Pearson pada tingkat signifikansi 0,05.

Temuan utama penelitian

Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh sekolah yang diteliti memiliki ukuran kelas yang tergolong besar dan melampaui rekomendasi kebijakan pendidikan. Salah satu sekolah mencatat rata-rata 100 siswa dalam satu kelas, sementara sekolah dengan jumlah siswa paling sedikit pun masih memiliki sekitar 56 siswa per kelas.

Dari sisi prestasi akademik, sebagian besar siswa berada pada kategori nilai “rata-rata”. Hanya sebagian kecil yang mencapai kategori “sangat baik”, sedangkan masih terdapat siswa dengan prestasi “cukup” hingga “rendah”. Pola ini menunjukkan bahwa potensi akademik siswa belum berkembang secara optimal.

Analisis korelasi mengungkapkan hubungan negatif yang signifikan antara ukuran kelas dan prestasi akademik Business Studies. Nilai koefisien korelasi sebesar r = –0,59 dengan p-value 0,012 menandakan bahwa semakin besar ukuran kelas, semakin rendah prestasi siswa. Sebaliknya, terdapat hubungan positif antara ukuran kelas dan skor persepsi siswa (r = +0,64), yang menunjukkan bahwa siswa di kelas besar semakin menyadari hambatan belajar akibat kepadatan.

Perbandingan antar sekolah memperjelas temuan tersebut. Sekolah dengan ukuran kelas paling kecil mencatat nilai rata-rata tertinggi, sedangkan sekolah dengan kelas paling padat menunjukkan nilai rata-rata terendah. Tren ini konsisten dan menguatkan kesimpulan bahwa kepadatan kelas menjadi faktor kunci penurunan prestasi.

Implikasi dan dampak

Temuan ini memiliki implikasi langsung bagi kebijakan pendidikan, khususnya di wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa upaya meningkatkan kualitas pendidikan tidak cukup hanya melalui kurikulum, tetapi juga harus disertai pengelolaan ukuran kelas yang realistis. Tanpa perbaikan kondisi ruang kelas, mata pelajaran berbasis keterampilan seperti Business Studies berisiko kehilangan esensi praktiknya.

Bagi pembuat kebijakan, hasil penelitian ini mendukung kebutuhan mendesak untuk menambah ruang kelas, merekrut guru baru, dan menegakkan rasio guru–siswa yang lebih seimbang. Bagi sekolah yang belum mampu mengurangi ukuran kelas dalam waktu dekat, penggunaan strategi pembelajaran interaktif dan dukungan teknologi dapat menjadi solusi sementara untuk meningkatkan keterlibatan siswa.

Dalam jangka panjang, peningkatan kualitas pembelajaran Business Studies berpotensi berkontribusi pada kesiapan generasi muda menghadapi dunia kerja dan kewirausahaan, yang menjadi isu penting di tengah tantangan pengangguran di Nigeria.

Profil penulis

  • Ayodele Fredrick Olayemi, adalah akademisi di bidang pendidikan bisnis dengan minat pada manajemen kelas dan evaluasi pembelajaran.
  • Oladeji Ige Olubunmi, merupakan dosen pendidikan kejuruan dengan fokus pada kebijakan pendidikan dan pengembangan kurikulum.

Sumber penelitian

Posting Komentar

0 Komentar