Kepemimpinan dan Budaya Organisasi Islami Terbukti Dongkrak Kinerja Karyawan Bank Pasca-Merger
Perubahan besar dalam industri perbankan syariah menuntut strategi manajemen yang tidak hanya efektif, tetapi juga berakar pada nilai. Studi yang ditulis oleh Kahar, Prof. Muslimin Kara, Abdul Wahab, dan Amiruddin dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar mengungkap bahwa kepemimpinan Islami dan budaya organisasi berbasis nilai berperan penting dalam meningkatkan kepuasan kerja serta kinerja karyawan setelah merger bank. Penelitian yang terbit pada 2026 di International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR) ini menjadi relevan karena banyak institusi keuangan tengah menghadapi tantangan integrasi organisasi dan adaptasi budaya kerja baru.
Fokus penelitian berada pada karyawan Bank Syariah Indonesia (BSI) Cabang Makassar, salah satu bank yang lahir dari penggabungan beberapa institusi keuangan syariah nasional. Merger semacam ini biasanya membawa konsekuensi berupa perubahan sistem, struktur manajemen, hingga identitas perusahaan. Dalam situasi tersebut, menjaga produktivitas karyawan menjadi faktor kunci keberhasilan organisasi.
Tantangan SDM dalam Era Konsolidasi Perbankan
Pertumbuhan pesat sektor perbankan syariah di negara berkembang mendorong terjadinya konsolidasi untuk memperkuat daya saing global. Namun, integrasi organisasi bukan sekadar menyatukan operasional—melainkan juga menyelaraskan nilai, budaya, dan gaya kepemimpinan.
Lingkungan kerja yang tidak stabil dapat menurunkan kepuasan karyawan, memicu ketidakpastian, dan pada akhirnya berdampak pada performa. Karena itu, pendekatan manajemen berbasis nilai Islam semakin dipandang sebagai solusi strategis. Nilai seperti keadilan, amanah, tanggung jawab, dan kepedulian sosial diyakini mampu menciptakan rasa memiliki di antara karyawan sekaligus memperkuat loyalitas terhadap organisasi.
Meski berbagai studi telah membahas motivasi atau kepemimpinan secara terpisah, penelitian dari UIN Alauddin Makassar ini menghadirkan perspektif berbeda dengan menguji keterkaitan motivasi kerja Islami, kepemimpinan Islami, budaya organisasi Islami, kepuasan kerja, dan kinerja karyawan dalam satu model terpadu.
Metodologi dengan Pendekatan Kuantitatif
Tim peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif untuk memetakan hubungan antarvariabel secara terukur. Sebanyak 232 karyawan organik BSI Cabang Makassar dilibatkan sebagai responden melalui kuesioner terstruktur.
Data kemudian dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM-PLS)—metode statistik yang memungkinkan peneliti melihat pengaruh langsung maupun tidak langsung antar faktor dalam organisasi. Pendekatan ini membantu mengidentifikasi variabel mana yang paling menentukan peningkatan kinerja.
Temuan Utama: Nilai Organisasi Lebih Menentukan daripada Motivasi Individu
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor organisasi memiliki pengaruh lebih kuat terhadap kinerja dibanding dorongan pribadi semata. Beberapa temuan penting meliputi:
- Kepemimpinan Islami berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja dan kinerja karyawan. Pemimpin yang dianggap adil, dapat dipercaya, dan berorientasi pada kesejahteraan tim mampu menciptakan lingkungan kerja produktif.
- Budaya organisasi Islami terbukti meningkatkan kepuasan sekaligus performa kerja. Nilai bersama membantu karyawan beradaptasi lebih cepat dalam situasi pasca-merger.
- Motivasi kerja Islami meningkatkan kepuasan, tetapi tidak berdampak langsung pada kinerja. Artinya, motivasi perlu didukung lingkungan kerja yang positif agar menghasilkan performa nyata.
- Kepuasan kerja menjadi mediator kunci, terutama dalam menjembatani hubungan antara motivasi dan kinerja.
Para penulis menegaskan bahwa kepemimpinan berbasis etika bukan hanya soal arah strategis, tetapi juga keteladanan moral. Ketika karyawan merasa dihargai dan diperlakukan adil, tingkat komitmen meningkat—dan hal ini tercermin dalam produktivitas.
Mengapa Kepemimpinan Berbasis Nilai Menjadi Faktor Dominan?
Dalam organisasi berbasis syariah, pemimpin berfungsi sebagai figur teladan yang menerjemahkan prinsip moral ke dalam praktik kerja sehari-hari. Kepemimpinan Islami menekankan transparansi, tanggung jawab, dan orientasi pada kemaslahatan bersama.
Budaya organisasi kemudian memperkuat efek tersebut dengan menyediakan kerangka perilaku yang konsisten. Integritas, kerja sama, dan spiritualitas menjadi panduan dalam pengambilan keputusan, sehingga karyawan memiliki arah yang jelas meski organisasi sedang mengalami transformasi besar.
Sebaliknya, motivasi individu cenderung tidak cukup kuat tanpa dukungan sistem organisasi. Temuan ini menegaskan bahwa performa tinggi adalah hasil interaksi antara dorongan pribadi dan lingkungan kerja yang sehat.
Dampak Strategis bagi Industri Perbankan dan Dunia Kerja
Studi ini menawarkan sejumlah pelajaran penting bagi sektor keuangan maupun organisasi lain yang sedang menghadapi perubahan struktural:
- Investasi pada pengembangan kepemimpinan etis dapat meningkatkan stabilitas organisasi.
- Penyelarasan kebijakan SDM dengan nilai perusahaan membantu mempercepat adaptasi karyawan setelah merger.
- Penguatan budaya organisasi berperan sebagai jangkar psikologis di tengah ketidakpastian.
Secara lebih luas, penelitian ini menunjukkan bahwa organisasi modern tidak cukup hanya mengandalkan efisiensi operasional. Keberhasilan jangka panjang juga ditentukan oleh kemampuan membangun makna kerja dan nilai bersama.
Seperti disoroti oleh Kahar dan tim dari UIN Alauddin Makassar, organisasi yang memadukan profesionalisme dengan prinsip etika memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan kinerja tinggi, bahkan dalam fase transformasi besar.
Kontribusi bagi Dunia Akademik
Pendekatan holistik yang digunakan penelitian ini memperkaya literatur manajemen Islami, khususnya dalam konteks perbankan pasca-merger. Dengan menempatkan kepuasan kerja sebagai variabel penghubung, studi ini membuka ruang bagi riset lanjutan—misalnya penelitian jangka panjang untuk melihat bagaimana nilai organisasi memengaruhi kinerja dari waktu ke waktu.
Temuan tersebut juga relevan bagi pembuat kebijakan pendidikan dan pelatihan manajemen, terutama dalam merancang kurikulum kepemimpinan yang mengintegrasikan kompetensi profesional dan kecerdasan moral.
Profil Singkat Penulis
- Kahar — Mahasiswa program doktoral di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dengan fokus pada manajemen dan studi organisasi berbasis nilai.
- Prof. Dr. Muslimin Kara — Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Alauddin Makassar, pakar ekonomi dan manajemen syariah.
- Dr. Abdul Wahab — Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Alauddin Makassar yang meneliti perilaku organisasi dan manajemen sumber daya manusia.
- Dr. Amiruddin — Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Alauddin Makassar dengan keahlian pada tata kelola dan kinerja organisasi.
Sumber Penelitian
Kahar, Muslimin Kara, Abdul Wahab, & Amiruddin. “Islamic Leadership, Organizational Culture, and Job Satisfaction as Drivers of Employee Performance in Post-Merger Islamic Banking.” International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR), Vol. 4 No. 1, 2026.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijgsr.v4i1.129
0 Komentar