IPAL Sekolah Kimia di Padang Stabil, Tapi Rentan Lonjakan pH dan Amonia

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Padang - Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebuah sekolah menengah kejuruan kimia di Padang terbukti konsisten memenuhi baku mutu untuk parameter organik selama 2021–2024. Namun, sistem ini masih rentan terhadap lonjakan keasaman (pH) dan fluktuasi amonia. Temuan ini dipublikasikan oleh Desrita Gevia, Erismar Amri, dan Nefilinda dari Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas UPGRISBA, dalam jurnal Formosa Journal of Science and Technology tahun 2026.

Riset ini penting karena sekolah kejuruan kimia menghasilkan limbah laboratorium dengan karakter unik: volumenya relatif kecil, tetapi bisa mengandung konsentrasi tinggi bahan kimia, logam berat, dan amonia. Jika tidak dikelola stabil, limbah semacam ini dapat mengganggu proses biologis di IPAL dan berisiko mencemari lingkungan sekitar.

Tren Empat Tahun: Organik Terkendali, pH Sempat Ekstrem

Tim peneliti menganalisis data pemantauan semester IPAL periode 2021–2024, lalu membandingkannya dengan baku mutu nasional yang diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2014.

Hasilnya menunjukkan:

  • COD dan BOD selalu di bawah ambang batas nasional, Ini menandakan pengolahan bahan organik berjalan stabil.
  • pH sempat turun ekstrem hingga 4,15 pada semester 2023.1. Angka ini jauh di bawah rentang aman 6–9.
  • Amonia relatif fluktuatif, dengan efisiensi penyisihan yang tidak selalu optimal, Logam berat seperti Fe, Mn, Zn, dan Pb umumnya masih memenuhi standar, meski ada variasi konsentrasi antarsemester.

Secara umum, IPAL sekolah ini andal dalam mengendalikan beban organik. Namun, kejadian pH yang terlalu asam menunjukkan adanya potensi “shock” dari buangan laboratorium.

Desrita Gevia menjelaskan bahwa perubahan pH yang cepat dapat mengganggu mikroorganisme pengolah limbah. “Saat kondisi terlalu asam, proses biologis seperti nitrifikasi menjadi kurang efektif. Ini menjelaskan mengapa pengendalian amonia lebih sensitif dibandingkan BOD dan COD,” tulisnya dalam artikel tersebut.

Uji Wetland Mini Eceng Gondok

Selain analisis tren, tim juga menguji solusi tambahan berupa wetland mini dengan tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes). Sistem ini dirancang sebagai unit “polishing” atau pemoles akhir setelah air keluar dari IPAL.

Spesifikasi uji coba:

  • Volume reaktor sekitar 13 liter
  • 10 rumpun eceng gondok (±160 gram per rumpun)
  • Waktu tinggal hidrolik sekitar 8 hari
  • Parameter yang diuji: pH, BOD, COD, amonia (NH3-N), serta logam berat seperti Fe, Cu, Mn, Zn, Cd, Pb, dan Cr

Hasil snapshot pengujian menunjukkan:

Kinerja IPAL utama (tanpa wetland):

  • Penyisihan BOD: 98,9%
  • Penyisihan COD: 90,4%
  • Penyisihan amonia: 47%
  • Penurunan signifikan beberapa logam

Kinerja tambahan wetland mini:

  • pH naik dari 5,4 menjadi 6,7 dalam 8 hari
  • Penyisihan Fe meningkat total hingga 95%
  • Penyisihan Cu meningkat total hingga 92%
  • Namun, COD dan amonia justru meningkat setelah melewati wetland
  • Mn dan Zn juga menunjukkan tren kenaikan

Dengan kata lain, wetland mini efektif membantu menstabilkan pH dan meningkatkan penurunan Fe serta Cu. Namun, dalam konfigurasi yang diuji, sistem ini belum stabil untuk parameter organik dan nitrogen.

Mengapa COD dan Amonia Bisa Naik?

Peneliti menjelaskan bahwa eceng gondok memang memiliki kemampuan fitoremediasi melalui penyerapan logam dan interaksi di zona akar (rizosfer). Namun, tanaman juga melepaskan eksudat akar dan dapat mengalami peluruhan biomassa.

Jika oksigen terlarut rendah dan tidak ada pengaturan aerasi, kondisi ini dapat:

  • Menambah beban bahan organik (menaikkan COD)
  • Meningkatkan mineralisasi nitrogen
  • Menghambat proses nitrifikasi

Artinya, keberhasilan wetland sangat bergantung pada desain: media tambahan, aerasi, waktu tinggal, serta panen biomassa secara rutin.

Implikasi bagi Sekolah dan Kebijakan

Studi ini memberi pelajaran penting bagi pengelola sekolah kejuruan dan institusi pendidikan yang memiliki laboratorium:

1. Kepatuhan baku mutu belum tentu berarti aman secara ekologis.
Sistem bisa lolos standar rata-rata, tetapi tetap rentan terhadap kejadian ekstrem.

2. Pengendalian pH harus menjadi prioritas.
Unit equalization atau netralisasi sebelum proses biologis sangat penting untuk mencegah shock system.

3. Wetland bisa menjadi solusi murah, tetapi harus dirancang matang.
Tanpa aerasi dan manajemen biomassa, unit tambahan justru bisa menambah beban pencemar tertentu.

4. Monitoring jangka panjang krusial.
Data multi-tahun membantu mengidentifikasi titik lemah operasional yang tidak terlihat dari satu kali pengujian.

Bagi pemerintah daerah dan pengelola pendidikan, temuan ini relevan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya target air bersih dan sanitasi yang aman.

Rekomendasi Teknis

Peneliti merekomendasikan:

  • Memperkuat sistem netralisasi pH sebelum unit biologis
  • Meningkatkan aerasi untuk mendukung nitrifikasi
  • Mendesain ulang wetland dengan media tambahan dan zona aerob–anoksik
  • Melakukan panen rutin tanaman untuk mencegah pelepasan kembali polutan
  • Melakukan uji berulang lintas musim untuk memastikan stabilitas kinerja

Studi ini juga menekankan perlunya pengukuran oksigen terlarut dan variasi konfigurasi wetland pada penelitian lanjutan.

Profil Penulis

Desrita Gevia, M.Si.
Dosen Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas UPGRISBA, Padang.
Bidang keahlian: pengelolaan air limbah dan teknologi lingkungan berbasis alam.

Erismar Amri, M.Si.
Dosen Ilmu Lingkungan, Universitas UPGRISBA.
Fokus riset: pengendalian pencemaran dan manajemen kualitas air.

Nefilinda, M.Si.
Akademisi Ilmu Lingkungan, Universitas UPGRISBA.
Bidang minat: evaluasi kinerja IPAL dan keberlanjutan sistem sanitasi.

Sumber Penelitian

Gevia, D., Amri, E., & Nefilinda. 2026. Effluent Quality Trends of a Vocational School WWTP (2021–2024) and Performance of a Mini Water Hyacinth Wetland as a Polishing Unit. Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5(2): 443–452.

Artikel ini bersifat akses terbuka dan dapat diunduh melalui laman resmi jurnal.

Posting Komentar

0 Komentar