Integrasi Proses Bikin Pengolahan Limbah Industri Lebih Hemat Energi dan Ramah Lingkungan

 
Ilustrasi by AI 
 
FORMOSA NEWS - Palembang - Pengelolaan limbah industri kini tidak lagi sekadar soal membuang sisa produksi dengan aman. Netty Herawati, dosen Program Studi Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Palembang, menunjukkan bahwa integrasi proses dapat mengubah sistem pengolahan limbah menjadi lebih hemat energi, efisien sumber daya, dan berdampak langsung pada keberlanjutan lingkungan. Temuan ini dipublikasikan pada 2026 dalam Formosa Journal of Science and Technology dan relevan bagi industri yang menghadapi tekanan biaya energi serta tuntutan regulasi lingkungan yang makin ketat.

Dalam artikelnya, Herawati mengulas praktik integrasi proses pada sistem pengolahan limbah industri berkelanjutan. Penelitian ini penting karena pertumbuhan aktivitas industri berbanding lurus dengan meningkatnya limbah cair, padat, dan gas. Tanpa pendekatan yang tepat, limbah berisiko mencemari air, tanah, dan udara, serta menimbulkan dampak kesehatan. Integrasi proses menawarkan cara pandang baru: limbah tidak hanya diolah, tetapi dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi dan material bernilai.

Dari “end-of-pipe” ke sistem terpadu

Selama bertahun-tahun, banyak industri mengandalkan pendekatan end-of-pipe—limbah diolah di tahap akhir tanpa memikirkan efisiensi keseluruhan proses. Pendekatan ini sering boros energi dan menghasilkan residu yang masih tinggi. Herawati menegaskan bahwa cara tersebut sudah tidak memadai untuk agenda pembangunan berkelanjutan.

Integrasi proses hadir sebagai alternatif. Konsep ini menyatukan berbagai unit operasi dalam satu kerangka sistemik agar aliran energi dan material saling mendukung. Panas sisa dari satu unit, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk memanaskan aliran masuk di unit lain. Air proses yang telah diolah dapat digunakan kembali, sementara material bernilai dipisahkan dan dimanfaatkan ulang.

Metodologi yang membumi

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif berbasis analisis sistem proses. Herawati mengombinasikan telaah literatur, pemodelan konseptual, serta analisis neraca massa dan energi. Salah satu alat kunci yang digunakan adalah pinch analysis, metode yang membantu mengidentifikasi titik optimal pertukaran panas agar kebutuhan energi eksternal dapat ditekan serendah mungkin.

Selain itu, studi ini mengevaluasi potensi pemulihan sumber daya, seperti air proses dan material bernilai, sebelum dan sesudah integrasi proses diterapkan. Kinerja sistem diukur menggunakan indikator keberlanjutan yang mencakup intensitas energi, tingkat pemanfaatan ulang material, dan potensi penurunan emisi.

Temuan utama: energi turun, nilai naik

Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem pengolahan limbah yang terintegrasi memberikan kinerja jauh lebih baik dibandingkan sistem konvensional. Beberapa temuan kunci antara lain:

·     Konsumsi energi menurun signifikan karena panas internal dimanfaatkan kembali melalui jaringan penukar panas yang dirancang berdasarkan pinch analysis.

·         Intensitas energi proses lebih rendah, sehingga biaya operasional ikut turun.

·    Tingkat pemulihan sumber daya meningkat, termasuk penggunaan ulang air proses dan pemanfaatan material bernilai dari aliran limbah.

·         Volume residu akhir berkurang, yang berarti beban pembuangan dan dampak lingkungan lebih kecil.

·         Potensi penurunan emisi lebih besar akibat berkurangnya kebutuhan energi dari luar sistem.

Menurut Herawati, integrasi proses mengubah cara industri memandang limbah. “Limbah tidak lagi dilihat sebagai beban akhir, tetapi sebagai bagian dari sistem yang masih memiliki nilai energi dan material,” tulisnya dalam artikel tersebut.

Mendukung ekonomi sirkular

Temuan ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular yang mendorong penggunaan sumber daya secara berulang dan meminimalkan limbah. Dengan integrasi proses, aliran limbah dapat dihubungkan kembali ke sistem produksi sebagai input alternatif. Hal ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan baku primer, tetapi juga meningkatkan daya saing industri.

Bagi sektor dengan konsumsi air tinggi, seperti kimia dan manufaktur, peningkatan daur ulang air menjadi manfaat nyata. Di sisi lain, pemulihan material bernilai membuka peluang penghematan biaya dan inovasi produk.

Implikasi bagi industri dan kebijakan

Dari sudut pandang rekayasa proses, integrasi proses bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan karakteristik limbah di berbagai sektor industri. Meski membutuhkan analisis sistem yang matang dan investasi awal, manfaat jangka panjangnya—penghematan energi, penurunan biaya operasional, dan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan—dinilai sepadan.

Bagi pembuat kebijakan, hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah untuk mendorong penerapan desain sistem pengolahan limbah yang terintegrasi. Insentif bagi industri yang menerapkan efisiensi energi dan pemulihan sumber daya dapat mempercepat transisi menuju industri hijau.

Tantangan dan arah riset lanjutan

Herawati juga menyoroti tantangan implementasi, seperti variasi karakteristik limbah antarindustri dan keterbatasan data operasional. Karena itu, ia merekomendasikan penelitian lanjutan berbasis studi kasus spesifik industri serta integrasi life cycle assessment agar dampak lingkungan dapat dievaluasi sepanjang siklus hidup sistem.

Profil Penulis

Netty Herawati, S.T., M.T. Dosen Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Palembang.
Bidang keahlian: rekayasa proses kimia, integrasi proses, pengolahan limbah industri, dan keberlanjutan industri.

Sumber Penelitian

Herawati, N. (2026). Exploring Process Integration Practices in Sustainable Industrial Waste Treatment Systems. Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5 No. 1, 135–146.
DOI:
https://doi.org/10.55927/fjst.v5i1.386

URL: https://traformosapublisher.org/index.php/fjst

Posting Komentar

0 Komentar