Penelitian dilakukan pada 80 ibu nifas dan bayi baru lahir usia 0–28 hari yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah di wilayah kerja beberapa puskesmas di Deli Serdang. Tim peneliti mengukur status gizi ibu menggunakan indeks massa tubuh (IMT), lingkar lengan atas (LILA/MUAC), asupan energi dan protein, serta kadar hemoglobin. Data berat lahir bayi diambil dari rekam medis fasilitas kesehatan.
Masalah Klasik di Komunitas Berpenghasilan Rendah
Di banyak wilayah Indonesia, termasuk Sumatera Utara, ibu hamil dari keluarga kurang mampu kerap menghadapi keterbatasan akses pangan bergizi dan layanan kesehatan berkualitas. Kondisi ini meningkatkan risiko kekurangan energi kronis dan anemia selama kehamilan. Secara biologis, kekurangan zat gizi dan rendahnya hemoglobin dapat menghambat pertumbuhan janin di dalam kandungan.
Berat lahir rendah tidak hanya berdampak pada periode neonatal, tetapi juga berhubungan dengan risiko stunting, gangguan perkembangan kognitif, hingga penyakit tidak menular di usia dewasa. Karena itu, memahami faktor-faktor yang paling berpengaruh menjadi krusial bagi perumusan kebijakan kesehatan ibu dan anak.
Apa yang Ditemukan Peneliti?
Analisis statistik menunjukkan tiga faktor gizi ibu yang paling kuat berhubungan dengan berat lahir bayi:
Selain faktor gizi, usia kehamilan dan frekuensi kunjungan antenatal juga berkontribusi positif terhadap berat lahir, namun pengaruhnya lebih kecil dibanding indikator gizi ibu.
Selvia Zuhra Putri menegaskan bahwa temuan ini menunjukkan kondisi biologis ibu adalah faktor terdekat yang menentukan pertumbuhan janin. “Perbaikan layanan kesehatan saja tidak cukup tanpa intervensi gizi yang memadai,” tulisnya dalam artikel ilmiah tersebut.
Mengapa Anemia Sangat Berpengaruh?
Hemoglobin berfungsi mengangkut oksigen ke jaringan tubuh, termasuk plasenta dan janin. Ketika kadar hemoglobin rendah, suplai oksigen terganggu. Akibatnya, pertumbuhan jaringan janin tidak optimal. Dalam konteks komunitas berpenghasilan rendah, anemia sering kali berkaitan dengan asupan zat besi yang kurang, infeksi, atau jarak kehamilan yang terlalu dekat.
Penelitian ini memperkuat bukti global bahwa anemia pada ibu hamil bukan sekadar masalah laboratorium, melainkan faktor risiko nyata terhadap berat lahir rendah.
Implikasi untuk Kebijakan dan Program Kesehatan
Temuan ini memiliki implikasi langsung bagi pemerintah daerah dan pengelola layanan kesehatan primer. Beberapa langkah strategis yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- Memperkuat skrining LILA dan hemoglobin pada kunjungan antenatal.
- Meningkatkan distribusi dan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah.
- Mengintegrasikan edukasi gizi berbasis komunitas dengan program bantuan pangan.
- Mendorong intervensi sebelum kehamilan, terutama pada perempuan usia subur di keluarga berpenghasilan rendah.
Pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci, karena masalah gizi ibu tidak hanya dipengaruhi faktor medis, tetapi juga kondisi sosial ekonomi dan pola konsumsi rumah tangga.
Keterbatasan dan Arah Riset Selanjutnya
Studi ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional), sehingga tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Selain itu, pengukuran asupan makan menggunakan kuesioner berpotensi mengandung bias ingatan. Meski demikian, penggunaan indikator objektif seperti LILA, hemoglobin, dan berat lahir memperkuat validitas hasil.
Peneliti merekomendasikan studi longitudinal untuk memantau perubahan status gizi ibu sepanjang kehamilan serta dampaknya terhadap kesehatan anak dalam jangka panjang.
Profil Penulis
Sri Juwarni, SKM., M.Kes., adalah dosen di Poltekkes Medan dengan fokus keahlian pada kesehatan ibu dan anak serta gizi masyarakat.
Selvia Zuhra Putri, S.Gz., M.Kes., merupakan akademisi di Poltekkes Kemenkes Aceh yang meneliti bidang gizi maternal, epidemiologi kesehatan, dan intervensi berbasis komunitas.
Sumber Penelitian
Sri Juwarni & Selvia Zuhra Putri. 2026. “Maternal Nutrition and Its Influence on Neonatal Birth Weight in Low-Income Communities.” Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5 No. 2, halaman 607–620.
URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst
DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i2.2
Artikel ini menegaskan satu pesan utama: memperbaiki gizi ibu hamil, terutama mencegah anemia dan kekurangan energi-protein, adalah langkah paling mendasar untuk melahirkan generasi yang lebih sehat sejak hari pertama kehidupan.
0 Komentar