Gereja Katolik Minoritas di Aceh Tenggara Bangun Model Reboisasi Berbasis Laudato Si’

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Aceh Tenggara -  Krisis ekologi di Aceh Tenggara mendorong dua akademisi dari STP St. Bonaventura Delitua menghadirkan model reboisasi berbasis iman. Penelitian yang dilakukan Paulinus Tibo dan Paulus Halek Bere sepanjang Maret–Juni 2025 ini dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Advanced Research Vol. 5 No. 2 (2026). Studi ini menunjukkan bahwa ajaran ensiklik Laudato Si’ karya Pope Francis dapat diterjemahkan menjadi gerakan ekologis konkret oleh komunitas Katolik yang hidup sebagai minoritas di wilayah mayoritas Muslim.

Penelitian ini penting karena Aceh Tenggara merupakan kawasan strategis dengan hutan tropis yang berperan sebagai penyerap karbon dan pusat keanekaragaman hayati. Tekanan berupa deforestasi, alih fungsi lahan, dan ancaman kebakaran hutan terus meningkat. Dalam konteks tersebut, peran komunitas agama terutama kelompok minoritas jarang dikaji secara mendalam.

Dari Dokumen Gereja ke Aksi Lapangan

Alih-alih berhenti pada khotbah moral, penelitian ini menemukan bahwa Gereja Katolik setempat mengembangkan model “ekologi integral” yang menyatukan tiga dimensi utama:

  1. Spiritual – pembinaan iman, khotbah, dan katekese ekologis yang menekankan pertobatan ekologis.
  2. Sosial – pembentukan struktur partisipatif yang melibatkan umat lintas usia.
  3. Teknis – penerapan metode reboisasi berkelanjutan seperti agroforestri dan pemilihan bibit lokal unggul.

Tibo dan Bere menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis. Mereka mewawancarai sembilan narasumber kunci dan menggelar diskusi kelompok terarah dengan 17 peserta, terdiri dari pengurus gereja, tokoh masyarakat, dan Orang Muda Katolik. Pendekatan ini menggali pengalaman nyata komunitas dalam menghadapi krisis ekologi.

Hasilnya menunjukkan bahwa reboisasi tidak dipandang sekadar proyek penghijauan, tetapi sebagai praktik iman. “Transformasi harus dimulai dari hati,” tulis peneliti, menegaskan bahwa perubahan ekologis berakar pada perubahan spiritual.

Strategi Reboisasi yang Sistematis

Program reboisasi dimulai dengan analisis lahan secara menyeluruh. Tim melakukan survei, koordinasi dengan pemerintah, serta identifikasi kondisi tanah dan topografi. Lahan dibersihkan tanpa pembakaran, mengikuti prinsip konservasi dan regulasi lingkungan.

Langkah teknis yang diterapkan meliputi:

  • Pembuatan lubang tanam berukuran 50x50x50 cm
  • Penambahan 30% pupuk organik
  • Penerapan sistem terasering dan rorak di lahan miring
  • Penanaman berbasis agroforestri
  • Pemilihan bibit lokal adaptif

Sumber bibit berasal dari tiga jalur: pembibitan mandiri umat, pengumpulan benih lokal, dan dukungan pemerintah daerah. Model ini memperkuat kemandirian sekaligus kolaborasi.

Tingkat keberhasilan hidup pohon diproyeksikan mencapai 80–90 persen. Target survival rate minimal ditetapkan sebesar 85 persen melalui sistem monitoring berkala. Pengukuran tinggi pohon, diameter batang, dan kesehatan daun dilakukan secara periodik dan terdokumentasi.

Partisipasi 100 Persen Umat

Salah satu temuan paling menonjol adalah tingkat partisipasi yang mencapai 100 persen dari target peserta. Program ini melibatkan siswa SMP, keluarga, hingga lansia dengan sistem rotasi perawatan pohon.

Pendekatan ini menekan biaya pemeliharaan hingga 50 persen karena mengandalkan gotong royong. Selain itu, muncul rasa kepemilikan kolektif yang memperkuat ketahanan sosial komunitas.

Penelitian ini juga mencatat tingkat kepuasan umat terhadap program mencapai 9 dari 10. Partisipasi bukan sekadar hadir saat penanaman, tetapi berlanjut pada pemantauan, evaluasi, dan penggantian bibit yang gagal tumbuh.

Menghadapi Tantangan Lapangan

Medan yang curam, vegetasi liar, keterbatasan alat, hingga ancaman satwa liar menjadi tantangan utama. Namun komunitas merespons dengan kerja manual bersama dan strategi adaptif.

Untuk mengatasi hama dan cuaca ekstrem, mereka menerapkan pendekatan ramah lingkungan berbasis bahan lokal. Monitoring rutin memungkinkan deteksi dini masalah.

Evaluasi program dilakukan secara berkelanjutan. Jika suatu jenis pohon menunjukkan tingkat hidup rendah, maka diganti dengan spesies yang lebih adaptif pada siklus berikutnya. Model ini mencerminkan pembelajaran ekologis yang adaptif.

Pendidikan Ekologi dari Mimbar ke Sekolah

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pendidikan lingkungan berbasis iman. Gereja mengintegrasikan nilai ekologis dalam:

  • Khotbah dan katekese
  • Retret yang menggabungkan iman dan ekologi
  • Pertemuan keluarga
  • Kegiatan sekolah dan remaja

Pendekatan ini membentuk kebiasaan konkret, bukan sekadar pengetahuan teoritis. Pendidikan lintas generasi memastikan kesinambungan gerakan ekologis.

Implikasi bagi Kebijakan dan Pendidikan

Studi ini menawarkan cetak biru konservasi berbasis nilai yang relevan untuk:

  • Pemerintah daerah – sebagai model kolaborasi komunitas agama dalam konservasi hutan
  • Gereja Katolik Indonesia – sebagai contoh penerapan kontekstual Laudato Si’
  • Dunia pendidikan – sebagai dasar pengembangan kurikulum ekoteologi dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi
  • Komunitas lintas agama – sebagai model kerja sama ekologis berbasis nilai spiritual

Penelitian ini menegaskan bahwa krisis ekologis tidak cukup dijawab dengan pendekatan teknis. Transformasi spiritual, dukungan komunitas, dan tindakan sistematis harus berjalan bersama.

Profil Penulis

Paulinus Tibo, S.Fil., M.Th. adalah dosen dan peneliti di STP St. Bonaventura Delitua, Medan. Ia menekuni bidang teologi kontekstual, katekese, dan ekoteologi.

Paulus Halek Bere, M.Th. adalah akademisi di institusi yang sama dengan fokus pada spiritualitas ekologis dan pendidikan iman berbasis komunitas.

Sumber Penelitian

Paulinus Tibo & Paulus Halek Bere. Contextualizing Laudato Si’ Responding to the Church’s Role in the Ecological Crisis in Southeast Aceh. Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5, No. 2, 2026, hlm. 203–220.

https://doi.org/10.55927/ijar.v5i2.16215

Posting Komentar

0 Komentar