Gaya Kepemimpinan dan Beban Kerja Picu Niat Mundur Tenaga Kesehatan Rumah Sakit

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Tingginya niat tenaga kesehatan untuk meninggalkan tempat kerja ternyata lebih banyak dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan dan beban kerja, bukan oleh motivasi kerja semata. Temuan ini disampaikan oleh Winda Wijaya, bersama Hery Winoto Tj dan Fushen F, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), Jakarta, dalam riset yang dipublikasikan pada 2026 di Formosa Journal of Multidisciplinary Research.

Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Husada Jakarta ini menjadi penting karena tingkat turnover intention atau niat resign tenaga kesehatan terus meningkat, sementara rumah sakit menghadapi tekanan layanan, keterbatasan SDM, dan tuntutan kualitas pelayanan pasien yang semakin tinggi.

Tekanan Industri Kesehatan dan Masalah Turnover

Industri rumah sakit di Indonesia tumbuh pesat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap layanan kesehatan dan implementasi Jaminan Kesehatan Nasional. Namun, pertumbuhan ini tidak selalu diimbangi dengan pengelolaan sumber daya manusia yang optimal.

Data internal Rumah Sakit Husada menunjukkan fluktuasi tingkat pengunduran diri pegawai sepanjang 2019–2024. Pada 2023, tingkat turnover dokter umum bahkan mencapai 42,31 persen, sementara perawat sempat mencatat angka resign tertinggi pada 2020. Kondisi ini berdampak langsung pada distribusi beban kerja, risiko kelelahan, serta stabilitas layanan pasien.

“Beban kerja yang tinggi dan kepemimpinan yang kurang suportif membuat tenaga kesehatan lebih cepat mengalami kelelahan emosional,” tulis para peneliti dalam artikelnya.

Cara Penelitian Dilakukan

Riset ini melibatkan 170 tenaga medis dan non-medis Rumah Sakit Husada yang telah bekerja minimal satu tahun. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan pendekatan statistik Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat hubungan langsung dan tidak langsung antara gaya kepemimpinan, beban kerja, motivasi kerja, dan niat untuk keluar dari pekerjaan dengan bahasa data yang lebih prediktif dan aplikatif.

Temuan Utama Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan pola yang cukup tegas dan konsisten:

1. Gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan menurunkan niat resign.
Semakin komunikatif, suportif, dan empatik gaya kepemimpinan atasan, semakin kecil keinginan pegawai untuk meninggalkan rumah sakit.
2. Beban kerja meningkatkan niat keluar dari pekerjaan.
Tekanan kerja yang tinggi, jam kerja panjang, dan tuntutan pelayanan pasien berkontribusi langsung terhadap meningkatnya keinginan resign.
3. Motivasi kerja tidak terbukti menurunkan niat resign.
Meskipun kepemimpinan yang baik mampu meningkatkan motivasi kerja, motivasi tersebut tidak cukup kuat untuk menahan pegawai agar tetap bertahan ketika beban kerja dan tekanan emosional terlalu tinggi.
4. Motivasi kerja tidak berperan sebagai mediator.
Artinya, pengaruh kepemimpinan dan beban kerja terhadap niat resign terjadi secara langsung, tanpa melalui jalur peningkatan atau penurunan motivasi kerja.

Menurut para peneliti, hasil ini menunjukkan bahwa faktor struktural dan emosional di tempat kerja rumah sakit lebih menentukan dibanding sekadar dorongan motivasi individual.

Implikasi bagi Manajemen Rumah Sakit

Temuan ini memberikan pesan jelas bagi pengelola rumah sakit. Upaya menekan tingkat resign tidak cukup hanya dengan pelatihan motivasi atau insentif psikologis jangka pendek.

“Intervensi kepemimpinan dan pengelolaan beban kerja menjadi kunci utama,” tulis Winda Wijaya dan tim. Kepemimpinan yang mampu memberi rasa aman, dukungan emosional, dan kejelasan arah kerja terbukti efektif menekan keinginan tenaga kesehatan untuk keluar.

Selain itu, evaluasi sistem shift, rasio tenaga kesehatan terhadap pasien, serta kebijakan kesejahteraan menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan layanan rumah sakit.

Relevansi bagi Kebijakan Publik

Di tengah isu kekurangan tenaga kesehatan nasional, hasil penelitian ini relevan bagi pembuat kebijakan. Tingginya angka turnover bukan hanya masalah internal rumah sakit, tetapi juga ancaman bagi kualitas layanan kesehatan publik.

Pendekatan berbasis data seperti ini dapat menjadi rujukan dalam merumuskan kebijakan retensi tenaga kesehatan, baik di rumah sakit swasta maupun fasilitas kesehatan milik pemerintah.

Profil Penulis

Winda Wijaya
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), Jakarta.
Bidang keahlian: manajemen sumber daya manusia dan perilaku organisasi.

Dr. Hery Winoto Tj
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA).
Bidang keahlian: kepemimpinan dan manajemen strategis.

Fushen
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA).
Bidang keahlian: riset kuantitatif dan manajemen organisasi.

Sumber Penelitian

Wijaya, W., Tj, H. W., & Fushen. (2026). The Mediating Role of Work Motivation in the Relationship between Leadership Style, Workload, and Turnover Intention among Health Workers at Husada Hospital. Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 1, 347–364.

Posting Komentar

0 Komentar