Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Husada Jakarta ini menjadi penting karena tingkat turnover intention atau niat resign tenaga kesehatan terus meningkat, sementara rumah sakit menghadapi tekanan layanan, keterbatasan SDM, dan tuntutan kualitas pelayanan pasien yang semakin tinggi.
Tekanan Industri Kesehatan dan Masalah Turnover
Industri rumah sakit di Indonesia tumbuh pesat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap layanan kesehatan dan implementasi Jaminan Kesehatan Nasional. Namun, pertumbuhan ini tidak selalu diimbangi dengan pengelolaan sumber daya manusia yang optimal.
Data internal Rumah Sakit Husada menunjukkan fluktuasi tingkat pengunduran diri pegawai sepanjang 2019–2024. Pada 2023, tingkat turnover dokter umum bahkan mencapai 42,31 persen, sementara perawat sempat mencatat angka resign tertinggi pada 2020. Kondisi ini berdampak langsung pada distribusi beban kerja, risiko kelelahan, serta stabilitas layanan pasien.
“Beban kerja yang tinggi dan kepemimpinan yang kurang suportif membuat tenaga kesehatan lebih cepat mengalami kelelahan emosional,” tulis para peneliti dalam artikelnya.
Cara Penelitian Dilakukan
Riset ini melibatkan 170 tenaga medis dan non-medis Rumah Sakit Husada yang telah bekerja minimal satu tahun. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan pendekatan statistik Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat hubungan langsung dan tidak langsung antara gaya kepemimpinan, beban kerja, motivasi kerja, dan niat untuk keluar dari pekerjaan dengan bahasa data yang lebih prediktif dan aplikatif.
Temuan Utama Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan pola yang cukup tegas dan konsisten:
Menurut para peneliti, hasil ini menunjukkan bahwa faktor struktural dan emosional di tempat kerja rumah sakit lebih menentukan dibanding sekadar dorongan motivasi individual.
Implikasi bagi Manajemen Rumah Sakit
Temuan ini memberikan pesan jelas bagi pengelola rumah sakit. Upaya menekan tingkat resign tidak cukup hanya dengan pelatihan motivasi atau insentif psikologis jangka pendek.
“Intervensi kepemimpinan dan pengelolaan beban kerja menjadi kunci utama,” tulis Winda Wijaya dan tim. Kepemimpinan yang mampu memberi rasa aman, dukungan emosional, dan kejelasan arah kerja terbukti efektif menekan keinginan tenaga kesehatan untuk keluar.
Selain itu, evaluasi sistem shift, rasio tenaga kesehatan terhadap pasien, serta kebijakan kesejahteraan menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan layanan rumah sakit.
Relevansi bagi Kebijakan Publik
Di tengah isu kekurangan tenaga kesehatan nasional, hasil penelitian ini relevan bagi pembuat kebijakan. Tingginya angka turnover bukan hanya masalah internal rumah sakit, tetapi juga ancaman bagi kualitas layanan kesehatan publik.
Pendekatan berbasis data seperti ini dapat menjadi rujukan dalam merumuskan kebijakan retensi tenaga kesehatan, baik di rumah sakit swasta maupun fasilitas kesehatan milik pemerintah.

0 Komentar