Evaluasi dan Manajemen Lalu Lintas pada Simpang Jalan Lalove–Jalan Jati dan Jalan Lalove–Jalan Emmy Saelan akibat Dampak Operasional Jembatan Palu V

Ilustrasi by AI

Palu, Sulawesi Tengah— Evaluasi dan Manajemen Lalu Lintas pada Simpang Jalan Lalove–Jalan Jati dan Jalan Lalove–Jalan Emmy Saelan akibat Dampak Operasional Jembatan Palu V. Penelitian ini dilakukan oleh Arifky, Taslim Bahar, dan Arief Setiawan dari Program Magister Teknik Sipil Universitas Tadulako dalam artikel ilmiah yang terbit di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR) Volume 5 Nomor 2 tahun 2026.

Penelitian yang dilakukan oleh Arifky, Taslim Bahar, dan Arief Setiawan mengungkapkan bahwa pembukaan akses Jembatan Palu V memicu redistribusi arus lalu lintas secara signifikan, terutama pada simpang Jalan Lalove–Jati dan Jalan Emmy Saelan–Anoa–Lalove.

Infrastruktur baru, pola lalu lintas ikut berubah

Jembatan Palu V dibangun sebagai jalur alternatif pascabencana gempa dan tsunami yang merusak infrastruktur kota, termasuk Jembatan Palu IV. Harapannya, jembatan ini dapat mengurangi beban lalu lintas di pusat kota dan memperlancar konektivitas antarwilayah di Palu Barat dan Palu Selatan.

Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa tambahan akses baru tidak hanya mengurangi beban di satu titik, tetapi juga memindahkan arus kendaraan ke simpang lain.

Pada jam puncak sore hari (16.30–17.30 WITA), volume kendaraan di:

1.      Simpang Emmy Saelan–Anoa–Lalove mencapai sekitar 3.182 kendaraan setara mobil penumpang (pcu/jam)

2.      Simpang Jati–Lalove mencapai sekitar 2.894 pcu/jam

3.      Peneliti mencatat adanya peningkatan pergerakan baru sebesar 1.423 pcu/jam, yang terdiri dari:

4.      653 pcu/jam dari arah Emmy Saelan menuju Jati

5.      769 pcu/jam dari arah Jati menuju Emmy Saelan

Angka ini menunjukkan perubahan arus yang cukup besar akibat beroperasinya Jembatan Palu V.

Beberapa ruas membaik, sebagian mendekati jenuh

Dari sisi kinerja ruas jalan, beberapa segmen justru menunjukkan perbaikan setelah jembatan beroperasi.

Misalnya:

1.      Ruas Emmy Saelan bagian utara dan selatan masih mampu mengalirkan kendaraan dengan baik.

2.      Kecepatan rata-rata kendaraan di beberapa segmen mencapai sekitar 42 km/jam.

3.      Derajat kejenuhan (DS) pada sejumlah ruas masih berada di bawah batas kritis 0,85.

Namun, kondisi berbeda ditemukan di simpang tak bersinyal Jati–Lalove.

Pada jam sibuk sore, rasio volume terhadap kapasitas (V/C) mencapai sekitar 1,01, yang berarti volume kendaraan hampir melampaui kapasitas ideal jalan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan antrean dan perlambatan arus jika tidak dikelola dengan rekayasa lalu lintas tambahan.Analisis tingkat pelayanan (Level of Service/LOS) juga menunjukkan variasi kondisi, dari kategori baik (A dan B) hingga kategori rendah pada beberapa pendekat simpang yang menunjukkan potensi tundaan tinggi.

Komposisi kendaraan didominasi sepeda motor

Penelitian ini juga mengidentifikasi komposisi kendaraan pada kedua simpang utama.

Di simpang Emmy Saelan–Anoa–Lalove:

  1. Sepeda motor: sekitar 57 %
  2. Kendaraan ringan: sekitar 40 %
  3. Kendaraan berat: sekitar 2 %

Di simpang Jati–Lalove:

  1. Sepeda motor: sekitar 65 %
  2. Kendaraan ringan: sekitar 31 %
  3. Kendaraan berat: sekitar 2 %

Rekayasa lalu lintas jadi kunci

Menurut para peneliti dari Universitas Tadulako, pembangunan infrastruktur baru perlu diikuti dengan evaluasi menyeluruh terhadap jaringan jalan di sekitarnya. Tanpa manajemen lalu lintas yang adaptif, jembatan baru dapat menciptakan “titik leher botol” baru.

Beberapa langkah strategis yang direkomendasikan antara lain:

  1. Evaluasi ulang pengaturan sinyal lalu lintas di simpang strategis.
  2. Peninjauan kapasitas dan geometri jalan pada pendekat simpang.
  3. Rekayasa arus dan pengaturan prioritas kendaraan pada simpang tak bersinyal.
  4. Pemantauan berkala terhadap volume kendaraan pascaoperasional infrastruktur baru.

Pendekatan berbasis data seperti ini dinilai penting agar pembangunan infrastruktur tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga meningkatkan efisiensi sistem transportasi kota secara menyeluruh.

Relevansi bagi kota berkembang

Temuan ini memberikan pelajaran penting bagi kota-kota lain di Indonesia yang sedang membangun jembatan, flyover, atau jalan alternatif. Infrastruktur baru memang meningkatkan konektivitas, tetapi tanpa perencanaan manajemen lalu lintas terpadu, redistribusi arus kendaraan dapat menciptakan tekanan baru pada simpang eksisting.

Studi ini menegaskan bahwa solusi kemacetan tidak cukup dengan menambah jaringan jalan, melainkan perlu pengelolaan sistem transportasi yang komprehensif dan berkelanjutan.

Profil penulis

Arifky Universitas Tadulako.

Taslim Bahar Universitas Tadulako.

Arief Setiawan Universitas Tadulako

Sumber penelitian

Arifky, Bahar, T., & Setiawan, A. (2026). Evaluation and Traffic Management of The Intersection of Lalove Road–Jati Road and Lalove Road–Emi Saelan Road Due to the Impact of the Operation of Palu V Bridge.

East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 2, hlm. 477–496.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i2.1

URL Resmi: https://mtiformosapublisher.org/index.php/eajmr


Posting Komentar

0 Komentar