Ekstrak Daun Bengkal Tunjukkan Efek Antidiabetes Kuat pada Uji Hewan Laboratorium

 
Ilustrasi by AI 
 
FORMOSA NEWS - Jambi - Daun bengkal (Nauclea orientalis L.), tanaman yang tumbuh luas di Indonesia, menunjukkan potensi kuat sebagai bahan antidiabetes alami. Temuan ini disampaikan oleh Lailan Azizah bersama Andy Brata dari Poltekkes Kemenkes Jambi melalui riset yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Science and Technology edisi 2026. Penelitian ini penting karena menawarkan alternatif berbasis bahan alam yang berpeluang lebih aman dan terjangkau dalam pengelolaan diabetes, penyakit kronis yang terus meningkat prevalensinya di Indonesia dan dunia.

Dalam studi yang dilakukan sepanjang 2025 di Laboratorium Farmasi Poltekkes Kemenkes Jambi, para peneliti menguji aktivitas antidiabetes fraksi etil asetat daun bengkal pada tikus putih jantan yang dibuat mengalami kondisi diabetes. Hasilnya, dosis tertentu dari ekstrak daun bengkal mampu menurunkan kadar gula darah secara signifikan, bahkan mendekati efektivitas obat standar yang biasa digunakan dalam terapi diabetes.

Diabetes dan Tantangan Pengobatan Modern

Diabetes melitus dikenal sebagai penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah. Perubahan gaya hidup, pola makan, dan urbanisasi membuat jumlah penderita diabetes terus bertambah. Pengobatan modern umumnya mengandalkan obat sintetis dan insulin, yang efektif tetapi tidak lepas dari risiko efek samping seperti hipoglikemia dan gangguan pencernaan, terutama jika digunakan jangka panjang.

Kondisi ini mendorong para peneliti farmasi untuk mencari sumber obat alami yang lebih aman. Tanaman obat menjadi perhatian karena mengandung senyawa bioaktif yang bekerja melalui berbagai jalur sekaligus. Di Indonesia, daun bengkal telah lama digunakan secara tradisional untuk membantu mengatasi diabetes, namun bukti ilmiahnya masih terbatas.

Menguji Potensi Daun Bengkal secara Ilmiah

Tim peneliti dari Poltekkes Kemenkes Jambi menguji daun bengkal dengan pendekatan farmasi modern. Daun segar dikeringkan, diekstraksi, lalu dipisahkan menjadi beberapa fraksi berdasarkan sifat kimianya. Fokus penelitian diarahkan pada fraksi etil asetat, bagian ekstrak yang kaya senyawa semi-polar seperti flavonoid dan alkaloid, yang dikenal memiliki aktivitas biologis tinggi.

Sebanyak 30 ekor tikus putih jantan digunakan dalam penelitian ini. Setelah diinduksi diabetes menggunakan zat aloksan, hewan uji dibagi ke dalam enam kelompok: kelompok kontrol negatif, kontrol positif yang diberi obat glibenklamid, serta empat kelompok perlakuan yang menerima fraksi etil asetat daun bengkal dengan dosis berbeda.

Kadar gula darah tikus diukur secara berkala pada hari ke-1, ke-3, dan ke-7 setelah pemberian perlakuan. Analisis statistik dilakukan untuk memastikan hasil yang diperoleh benar-benar mencerminkan efek biologis dari ekstrak daun bengkal.

Dosis Optimal Memberi Hasil Terbaik

Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat daun bengkal mampu menurunkan kadar gula darah secara signifikan. Penurunan paling menonjol terjadi pada dosis 450 mg per kilogram berat badan, dengan penurunan kadar gula darah mencapai 49,53 persen pada hari ke-7. Angka ini hampir setara dengan efek glibenklamid sebagai obat pembanding.

Menariknya, dosis yang lebih tinggi tidak selalu menghasilkan efek yang lebih baik. Pada dosis 600 mg/kg berat badan, efektivitas justru menurun. Temuan ini menegaskan bahwa penggunaan bahan alami juga memiliki rentang dosis optimal, dan peningkatan dosis berlebihan tidak selalu menguntungkan.

Menurut para peneliti, pola ini mencerminkan cara kerja senyawa alami yang kompleks. Pada dosis tepat, senyawa aktif bekerja sinergis menurunkan kadar gula darah. Namun pada dosis terlalu tinggi, interaksi antar senyawa dapat mengurangi efektivitas.

Kandungan Aktif dan Cara Kerja

Uji fitokimia menunjukkan bahwa fraksi etil asetat daun bengkal mengandung flavonoid, alkaloid, dan tanin. Ketiga kelompok senyawa ini dikenal berperan dalam pengendalian kadar gula darah. Flavonoid membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan melindungi sel pankreas dari stres oksidatif. Alkaloid berkontribusi pada peningkatan pemanfaatan glukosa oleh jaringan tubuh, sementara tanin dapat memperlambat penyerapan gula di saluran cerna.

Kombinasi mekanisme inilah yang diduga membuat fraksi etil asetat daun bengkal efektif menurunkan gula darah secara bertahap selama masa pengamatan.

Manfaat bagi Pengembangan Obat Herbal

Temuan ini memiliki implikasi luas, terutama bagi pengembangan fitofarmaka berbasis tanaman lokal. Dengan pembuktian ilmiah yang kuat, daun bengkal berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku obat herbal terstandar untuk membantu pengelolaan diabetes.

Bagi dunia pendidikan dan penelitian, studi ini memperkaya bukti ilmiah tentang pemanfaatan tanaman obat Indonesia dengan pendekatan modern. Sementara bagi masyarakat, hasil ini membuka peluang penggunaan bahan alam yang lebih aman dan terjangkau, tentu dengan pengolahan dan dosis yang tepat.

Andy Brata dari Poltekkes Kemenkes Jambi menekankan bahwa riset lanjutan tetap diperlukan, termasuk uji keamanan jangka panjang dan pengujian pada manusia. Namun, ia menilai hasil ini sebagai langkah penting untuk menjembatani pengetahuan tradisional dan sains modern.

Profil Penulis

Lailan Azizah, S.Farm. Dosen dan peneliti di Departemen Farmasi, Poltekkes Kemenkes Jambi. Bidang keahliannya meliputi farmakognosi dan pengembangan bahan alam sebagai obat.

Andy Brata, M.Farm., Apt. Dosen dan peneliti di Departemen Farmasi dan Centre of Excellence (COE), Poltekkes Kemenkes Jambi. Fokus risetnya pada farmakologi dan pengembangan fitofarmaka.

Sumber Penelitian

Azizah, L., & Brata, A. (2026). Antidiabetic Activity Test of Ethyl Acetate Fraction of Bengkal Leaves (Nauclea orientalis L.) on Male White Mice. Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5 No. 1, 271–284.

DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i1.397

URL: https://traformosapublisher.org/index.php/fjst

Posting Komentar

0 Komentar