Efisiensi Operasional Lebih Menentukan Nilai Bank daripada Green Financing, Studi LQ45 2019–2023

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Penelitian terbaru oleh Tri Kartini Putri dari Universitas Mercu Buana menunjukkan bahwa nilai perusahaan perbankan di Indonesia lebih dipengaruhi oleh efisiensi operasional dan risiko kredit dibandingkan kebijakan green financing atau kecukupan modal. Studi yang menganalisis enam bank konvensional dalam indeks LQ45 periode 2019–2023 ini dipublikasikan pada 2026 di Asian Journal of Applied Business and Management dan memberikan gambaran penting tentang faktor nyata yang diperhatikan investor di sektor perbankan. 

Temuan ini relevan karena sektor perbankan merupakan tulang punggung intermediasi keuangan nasional, dengan aset perbankan Indonesia mencapai lebih dari separuh PDB. Dalam konteks tekanan global pascapandemi, kenaikan suku bunga, serta tuntutan keuangan berkelanjutan, pemahaman tentang faktor yang benar-benar meningkatkan nilai bank menjadi semakin penting bagi regulator, investor, dan manajemen perbankan.

Latar Belakang: Antara Keuangan Hijau dan Kinerja Nyata

Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan pembiayaan hijau atau green financing semakin mendapat perhatian karena dianggap mampu meningkatkan reputasi bank, mengurangi risiko lingkungan, dan menarik investor ESG. Di sisi lain, indikator klasik seperti kecukupan modal, risiko kredit, dan efisiensi operasional tetap menjadi dasar evaluasi kesehatan bank.

Namun, penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang tidak konsisten mengenai pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap profitabilitas maupun nilai perusahaan. Kondisi inilah yang mendorong Tri Kartini Putri menguji secara simultan pengaruh green financing, kecukupan modal, risiko kredit, dan efisiensi terhadap nilai perusahaan dengan profitabilitas sebagai variabel perantara.

Metode Penelitian Singkat

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis data sekunder laporan keuangan bank konvensional yang masuk indeks LQ45 selama 2019–2023.

Secara sederhana, penelitian ini membandingkan hubungan beberapa indikator penting bank:

  • Green financing
  • Capital Adequacy Ratio (CAR)
  • Non-Performing Loan (NPL) sebagai risiko kredit
  • BOPO sebagai indikator efisiensi operasional
  • ROA sebagai ukuran profitabilitas
  • PBV sebagai indikator nilai perusahaan

Analisis dilakukan menggunakan model regresi data panel untuk melihat pengaruh langsung maupun tidak langsung antarvariabel.

Temuan Utama Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin penting:

1. Green financing tidak berpengaruh signifikan pada nilai perusahaan maupun profitabilitas
Artinya, selama periode penelitian, investor belum melihat pembiayaan hijau sebagai faktor utama dalam menentukan nilai bank.

2. Kecukupan modal juga tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan
Hal ini mengindikasikan bahwa CAR lebih dipandang sebagai kewajiban regulasi daripada sumber nilai jangka pendek.

3. Risiko kredit memiliki dampak negatif signifikan
Semakin tinggi rasio kredit bermasalah, semakin rendah nilai perusahaan dan profitabilitas bank.

4. Efisiensi operasional berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan
Inefisiensi langsung menurunkan kinerja dan persepsi investor.

5. Profitabilitas terbukti meningkatkan nilai perusahaan
ROA yang lebih tinggi memberi sinyal kuat kepada pasar mengenai prospek bank.

6. Profitabilitas hanya memediasi hubungan efisiensi terhadap nilai perusahaan
Dengan kata lain, efisiensi meningkatkan nilai bank melalui peningkatan laba.

Temuan ini menegaskan bahwa faktor internal yang langsung memengaruhi kinerja keuangan masih menjadi penentu utama nilai bank di Indonesia.

Dampak bagi Industri dan Kebijakan

Hasil penelitian memberikan beberapa implikasi praktis:

Bagi manajemen bank
Prioritas utama sebaiknya tetap pada pengendalian risiko kredit dan peningkatan efisiensi operasional. Kebijakan green financing perlu diintegrasikan secara strategis agar memberi dampak nyata terhadap kinerja, bukan sekadar memenuhi regulasi.

Bagi investor
Penelitian ini menunjukkan bahwa pasar masih menilai bank berdasarkan kinerja keuangan aktual, bukan komitmen keberlanjutan semata.

Bagi regulator
Temuan ini memberi sinyal bahwa kebijakan keuangan berkelanjutan membutuhkan waktu lebih panjang untuk diakui sebagai faktor pembentuk nilai perusahaan.

Tri Kartini Putri dari Universitas Mercu Buana menegaskan bahwa profitabilitas tetap menjadi jalur utama yang menghubungkan efisiensi operasional dengan nilai perusahaan. Artinya, bank yang mampu mengelola biaya dan risiko kredit secara efektif akan lebih mudah meningkatkan kepercayaan pasar.

Mengapa Temuan Ini Penting

Dalam konteks transformasi industri perbankan menuju digitalisasi dan keberlanjutan, penelitian ini menunjukkan bahwa:

  • Efisiensi operasional masih menjadi fondasi utama daya saing bank
  • Risiko kredit tetap menjadi indikator paling sensitif bagi investor
  • Green financing berpotensi menjadi sumber nilai di masa depan, tetapi belum terlihat dalam jangka pendek

Hal ini membantu menjelaskan mengapa beberapa bank dengan program keberlanjutan kuat belum tentu memiliki valuasi pasar tinggi.

Profil Penulis

Tri Kartini Putri
Peneliti dan akademisi dari Universitas Mercu Buana, Indonesia.
Bidang keahlian meliputi keuangan perbankan, manajemen keuangan, dan analisis kinerja perusahaan. Fokus penelitiannya mencakup hubungan antara kebijakan keuangan, risiko, dan nilai perusahaan di sektor jasa keuangan.

Sumber Penelitian

Putri, Tri Kartini. 2026.
“Green Credit, Bank Health, and Efficiency on Firm Value of LQ45 Banks.”
Asian Journal of Applied Business and Management, Vol. 5 No. 1, hlm. 157–166.

Posting Komentar

0 Komentar