Dukungan Teknis Jadi Kunci Adopsi Fitur Keuangan PNM Digi di Kalangan Pegawai PNM Jambi

Ilustrasi by AI

Jambi - Transformasi digital di sektor keuangan tidak selalu berjalan mulus, bahkan di lingkungan internal lembaga keuangan negara. Temuan itu terungkap dalam riset Afjul Yazi dan Eduardus Suharto dari Perbanas Institute Jakarta yang meneliti penerimaan fitur layanan keuangan dalam aplikasi PNM Digi oleh pegawai PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Jambi. Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research ini menunjukkan bahwa faktor paling menentukan adopsi bukanlah persepsi manfaat atau kemudahan, melainkan dukungan teknis dan organisasi yang tersedia.

Riset tersebut penting karena PNM Digi merupakan tulang punggung digitalisasi internal PNM, sebuah BUMN yang berperan strategis dalam pembiayaan ultra mikro di Indonesia. Aplikasi ini tidak hanya digunakan untuk administrasi wajib, tetapi juga menyediakan fitur layanan keuangan sukarela seperti pinjaman digital, investasi, dan pembayaran personal. Namun, tidak semua pegawai memanfaatkan fitur tambahan tersebut secara optimal.

Digitalisasi Melaju, Adopsi Tidak Selalu Mengikuti

Indonesia saat ini tercatat sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Transaksi keuangan digital meningkat pesat, dan masyarakat semakin terbiasa dengan layanan berbasis aplikasi. Di sisi lain, lembaga keuangan negara juga dituntut beradaptasi cepat agar tetap relevan dan efisien.

PNM menjawab tantangan itu dengan mengembangkan PNM Digi sebagai ekosistem digital internal. Aplikasi ini dirancang untuk memudahkan pekerjaan pegawai sekaligus memperkenalkan layanan keuangan modern. Masalahnya, fitur keuangan dalam PNM Digi bersifat sukarela. Artinya, pegawai bebas memilih untuk menggunakannya atau tidak.

“Kondisi ini membuka ruang kesenjangan antara ketersediaan teknologi dan tingkat pemanfaatannya,” tulis Afjul Yazi dan Eduardus Suharto dalam artikelnya.

Survei 173 Pegawai, Fokus pada Perilaku Nyata

Penelitian dilakukan terhadap 173 pegawai PNM Cabang Jambi dari total populasi 654 orang. Responden mayoritas berasal dari unit Mekaar, didominasi pegawai perempuan, dengan usia produktif dan pengalaman kerja awal hingga menengah. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan dianalisis menggunakan pendekatan statistik model UTAUT (Unified Theory of Acceptance and Use of Technology).

Secara sederhana, model ini menilai apakah seseorang mau menggunakan teknologi berdasarkan empat faktor utama: persepsi manfaat, kemudahan penggunaan, pengaruh sosial, dan kondisi pendukung seperti infrastruktur serta bantuan teknis. Penelitian ini juga menguji apakah literasi keuangan, usia, dan pengalaman kerja memperkuat atau memperlemah pengaruh faktor-faktor tersebut.

Temuan Utama: Infrastruktur Lebih Penting dari Persepsi

Hasilnya cukup mengejutkan. Tiga faktor yang selama ini sering dianggap penentu adopsi teknologi—persepsi manfaat, kemudahan penggunaan, dan pengaruh sosial—ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap niat pegawai menggunakan fitur keuangan PNM Digi.

Sebaliknya, satu faktor justru tampil dominan: kondisi pendukung.

Beberapa temuan kunci penelitian ini antara lain:

  • Dukungan teknis dan organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat menggunakan fitur keuangan PNM Digi.
  • Kondisi pendukung juga langsung meningkatkan penggunaan aktual aplikasi.
  • Niat menggunakan aplikasi terbukti kuat mendorong penggunaan nyata.
  • Literasi keuangan, usia, dan pengalaman kerja tidak memperkuat maupun memperlemah hubungan antarvariabel tersebut.

Dengan kata lain, pegawai akan menggunakan fitur keuangan digital jika merasa didukung oleh sistem, pelatihan, dan bantuan teknis yang memadai—bukan semata karena aplikasi itu dianggap berguna atau mudah.

Mengapa Persepsi Manfaat Tidak Berpengaruh?

Menurut para peneliti, konteks organisasi memainkan peran besar. Pegawai PNM sudah wajib menggunakan PNM Digi untuk keperluan administratif. Akibatnya, fitur keuangan tambahan dipandang sebagai pelengkap, bukan kebutuhan utama dalam pekerjaan sehari-hari.

“Dalam situasi di mana aplikasi sudah menjadi sistem wajib, motivasi penggunaan fitur sukarela lebih ditentukan oleh kesiapan organisasi daripada persepsi individu,” tulis penulis.

Temuan ini berbeda dengan banyak studi fintech di kalangan konsumen atau UMKM, yang umumnya menempatkan persepsi manfaat dan pengaruh sosial sebagai faktor utama. Di lingkungan kerja yang terstruktur, dukungan institusi justru menjadi penentu.

Literasi Keuangan Bukan Penentu Utama

Menariknya, literasi keuangan juga tidak terbukti memengaruhi penerimaan fitur keuangan PNM Digi. Artinya, pegawai dengan tingkat pemahaman keuangan yang lebih tinggi tidak otomatis lebih berminat menggunakan fitur tersebut.

Penelitian menduga variasi literasi keuangan di antara pegawai belum cukup kuat untuk memengaruhi perilaku. Selain itu, kompleksitas fitur keuangan digital bisa membuat pengetahuan finansial saja tidak cukup tanpa pendampingan praktis.

Dampak bagi Dunia Kerja dan Kebijakan Digital

Temuan ini membawa pesan penting bagi lembaga keuangan, BUMN, dan organisasi lain yang tengah mendorong digitalisasi internal. Investasi pada aplikasi canggih tidak akan optimal tanpa:

  • bantuan teknis yang responsif,
  • pelatihan yang relevan dengan kebutuhan pegawai,
  • serta dukungan organisasi yang konsisten.

Bagi PNM, hasil riset ini menyarankan agar fokus pengembangan tidak hanya pada penambahan fitur, tetapi juga pada penguatan ekosistem pendukung agar pegawai merasa aman dan nyaman menggunakan layanan keuangan digital.

Profil Penulis

Afjul Yazi berafiliasi dengan Perbanas Institute Jakarta.
Eduardus Suharto Perbanas Institute Jakarta 

Sumber Penelitian

Yazi, A., & Suharto, E. (2026). Analysis of the Acceptance of Financial Service Features in the PNM Digi Application by PNM Jambi Employees Using the UTAUT Model: The Moderating Role of Financial Literacy. East Asian Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 1, 309–324.

Posting Komentar

0 Komentar