Penelitian yang ditulis oleh Muhammad Zakaria, Mhd. Habibu Rahman, Yammipa Haruni Pasaribu, Nurul Syura, dan Nurhasanah dari University of Pembangunan Panca Budi pada 2026 menegaskan bahwa pembelajaran mendalam (deep learning) dalam Pendidikan Agama Islam harus dibangun di atas nilai-nilai spiritual agar menghasilkan pemahaman yang bermakna dan transformatif. Artikel ini dipublikasikan dalam Contemporary Journal of Applied Sciences dan menjadi kontribusi teoretis penting bagi pengembangan pendidikan Islam di era modern.
Gagasan ini muncul di tengah tuntutan pendidikan abad ke-21 yang tidak lagi cukup mengandalkan hafalan. Pendidikan dituntut melahirkan peserta didik yang mampu berpikir kritis, reflektif, dan memiliki kesadaran etis. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), pembelajaran tidak hanya mentransfer pengetahuan keagamaan, tetapi juga membentuk kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral.
Mengapa Perlu Rekonstruksi?
Selama ini, banyak studi tentang deep learning dalam PAI lebih menekankan pada model atau praktik kelas. Belum banyak yang merumuskan bagaimana nilai spiritual menjadi fondasi epistemologis pembelajaran bermakna. Kekosongan inilah yang dijawab oleh tim peneliti.
Menurut Muhammad Zakaria dan rekan-rekannya, pembelajaran mendalam harus dipahami sebagai proses konstruksi makna, bukan sekadar penyampaian informasi. Nilai spiritual berfungsi sebagai kompas yang mengarahkan tujuan belajar agar selaras dengan iman (iman), ilmu (‘ilm), dan amal (‘amal).
Metodologi: Analisis Konseptual Kritis
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-konseptual berbasis telaah literatur. Para penulis menganalisis teori deep learning kontemporer, teori meaningful learning, serta filsafat pendidikan Islam. Proses analisis dilakukan melalui:
-
Identifikasi konsep kunci
-
Perbandingan pendekatan pendidikan modern dan epistemologi Islam
-
Sintesis rekonstruktif untuk membangun kerangka teoretis baru
Pendekatan ini tidak menghasilkan data empiris lapangan, tetapi menawarkan model konseptual yang koheren dan terintegrasi.
Temuan Utama Penelitian
Hasil analisis menunjukkan tiga poin utama:
-
Deep learning berorientasi pada konstruksi makna
Pembelajaran dirancang agar peserta didik aktif menafsirkan, merefleksikan, dan mengaitkan materi dengan kehidupan nyata. -
Meaningful learning menjadi inti proses kognitif-reflektif
Pengetahuan menjadi tahan lama dan aplikatif ketika dihubungkan dengan pengalaman pribadi dan struktur kognitif yang sudah ada. -
Nilai spiritual menjadi fondasi epistemologis
Spiritualitas bukan elemen tambahan, melainkan dasar yang menentukan arah, tujuan, dan makna pembelajaran.
Dalam perspektif Islam, pendekatan ini selaras dengan konsep tafaqquh fi al-din, yaitu pemahaman agama yang mendalam dan transformatif, yang mengintegrasikan akal, hati, dan tindakan.
Dampak bagi Pendidikan dan Kebijakan
Kerangka ini menawarkan solusi atas fragmentasi pendidikan modern yang sering memisahkan prestasi kognitif dari pembentukan karakter. Dengan mengintegrasikan nilai spiritual:
-
Kurikulum dapat dirancang lebih reflektif dan kontekstual
-
Guru dapat mengembangkan metode dialogis dan berbasis pengalaman
-
Evaluasi pembelajaran tidak hanya mengukur hafalan, tetapi juga pemahaman etis
-
Lembaga pendidikan Islam dapat membangun model pembelajaran yang relevan dengan tantangan abad ke-21
Muhammad Zakaria dari University of Pembangunan Panca Budi menegaskan bahwa pendidikan Islam idealnya membentuk individu yang “tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran moral dan spiritual yang kokoh.”
Profil Penulis
- Muhammad Zakaria - University of Pembangunan Panca Budi
- Mhd. Habibu Rahman -University of Pembangunan Panca Budi
- Yammipa Haruni Pasaribu-University of Pembangunan Panca Budi
- Nurul Syura- University of Pembangunan Panca Budi
- Nurhasanah- University of Pembangunan Panca Budi
Sumber Penelitian
Zakaria, Muhammad., Rahman, Mhd. Habibu., Pasaribu, Yammipa Haruni., Syura, Nurul., & Nurhasanah. (2026). Deep Learning in Islamic Education: A Reconstruction of Meaningful Learning Grounded in Spiritual Values. Contemporary Journal of Applied Sciences, Vol. 4 No. 2, 55–70.

0 Komentar