Jakarta—
Karakter
Generasi Z Menekan Niat Resign Perawat Jika Rumah Sakit Mampu Bangun Kepuasan
Kerja. Penelitian yang dilakukan oleh Karissa Anita dan Bernard Widjaja dari
Universitas Kristen Krida Wacana yang dipublikasikan pada Januari 2026 di International
Journal of Business and Applied Economics (IJBAE).
Penelitian yang dilakukan oleh Karissa
Anita dan Bernard Widjaja mengungkap bahwa karakter khas Generasi Z justru
dapat menekan niat resign perawat, asalkan rumah sakit mampu menciptakan
kepuasan kerja yang memadai. Temuan ini penting di tengah tingginya
angka turnover tenaga kesehatan muda di Indonesia.
Generasi Z di Rumah Sakit: Tantangan
Sekaligus Peluang
Generasi Z mencakup individu yang lahir
antara 1997 hingga 2010. Mereka dikenal adaptif terhadap teknologi, menghargai
keseimbangan hidup dan kerja, membutuhkan umpan balik cepat, serta memiliki
ekspektasi tinggi terhadap pengembangan diri. Dalam konteks rumah sakit,
karakter ini sering dianggap sulit dipenuhi karena tuntutan kerja yang padat
dan sistem yang cenderung hierarkis.
Data internal Rumah Sakit Husada
menunjukkan bahwa perawat Generasi Z mencakup sekitar 25 persen dari total
tenaga keperawatan. Namun, pada periode 2024 hingga pertengahan 2025, kelompok
ini mendominasi angka pengunduran diri, dengan tingkat turnover melampaui 10
persen—angka yang tergolong tinggi dalam sektor kesehatan.
“Banyak organisasi melihat Generasi Z
sebagai kelompok yang mudah keluar masuk kerja. Padahal, persoalannya tidak
sesederhana itu,” tulis para peneliti dalam artikelnya.
Survei Seluruh Perawat Generasi Z
Penelitian ini melibatkan seluruh 62
perawat Generasi Z yang bekerja di Rumah Sakit Husada pada tahun 2025.
Alih-alih mengambil sampel sebagian, peneliti menggunakan metode sensus
sehingga seluruh populasi diteliti. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur
yang mengukur tiga hal utama: karakter Generasi Z, kepuasan kerja, dan niat
untuk keluar dari pekerjaan.
Untuk memastikan hasil yang akurat,
data dianalisis menggunakan pendekatan statistik modern yang mampu membaca
hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel. Meski teknik analisisnya
kompleks, hasil akhirnya disajikan dengan temuan yang sangat jelas dan relevan
bagi praktisi rumah sakit.
Temuan Utama: Kepuasan Kerja Adalah
Kuncinya
Hasil penelitian menunjukkan pola yang
konsisten dan kuat. Karakter Generasi Z terbukti meningkatkan kepuasan kerja
perawat. Artinya, semakin lingkungan kerja mampu selaras dengan nilai dan
kebutuhan Generasi Z—seperti fleksibilitas, pengakuan, dan peluang
berkembang—semakin tinggi kepuasan kerja yang dirasakan.
Lebih menarik lagi, kepuasan kerja
terbukti menurunkan niat resign secara signifikan. Perawat yang merasa puas
dengan pekerjaannya cenderung memiliki ikatan emosional yang lebih kuat dengan
rumah sakit dan tidak mudah berpikir untuk pindah kerja.
Penelitian ini juga menemukan bahwa
karakter Generasi Z tidak secara langsung meningkatkan niat keluar kerja.
Justru sebaliknya, karakter tersebut berperan sebagai faktor pelindung ketika
kepuasan kerja tercapai. Dengan kata lain, Generasi Z bukanlah “biang masalah”
turnover, melainkan kelompok yang sangat responsif terhadap kualitas lingkungan
kerja.
“Karakter Generasi Z tidak secara inheren meningkatkan turnover intention. Karakter tersebut menjadi kekuatan ketika organisasi mampu menciptakan kondisi kerja yang memuaskan,” tulis Karissa Anita dan Bernard Widjaja dalam kesimpulan penelitiannya.
Dampak Nyata bagi Manajemen Rumah Sakit
Temuan ini memiliki implikasi langsung
bagi pengelola rumah sakit dan pembuat kebijakan kesehatan. Upaya menekan
turnover perawat muda tidak cukup dilakukan dengan kontrak kerja atau sanksi
administratif. Fokus utama justru harus diarahkan pada peningkatan kepuasan
kerja.
Peneliti merekomendasikan pengembangan
sistem karier yang jelas, penghargaan berbasis kompetensi, serta kepemimpinan
yang suportif dan partisipatif. Transparansi kompensasi, pemanfaatan teknologi,
serta perhatian terhadap kesehatan mental dan keseimbangan hidup perawat juga
menjadi faktor penting.
Jika strategi ini diterapkan secara
konsisten, rumah sakit tidak hanya mampu menahan perawat Generasi Z lebih lama,
tetapi juga membangun tenaga keperawatan yang lebih loyal dan berkinerja
tinggi.
Relevan untuk Dunia Kesehatan dan
Kebijakan Publik
Di tengah krisis tenaga kesehatan
global, hasil penelitian ini memperkuat pesan bahwa regenerasi tenaga perawat
tidak bisa dilepaskan dari pemahaman lintas generasi. Rumah sakit yang gagal
beradaptasi berisiko kehilangan talenta muda, sementara institusi yang
responsif justru akan menuai stabilitas jangka panjang.
Bagi pembuat kebijakan, studi ini
menegaskan pentingnya regulasi dan standar kerja yang mendukung kesejahteraan
tenaga kesehatan muda, bukan sekadar menambah jumlah lulusan keperawatan.
Profil Singkat Penulis
- Karissa Anita, S.E., M.M.
- Universitas Kristen Krida Wacana.
- Dr. Bernard Widjaja, S.E., M.M.
- Universitas Kristen Krida Wacana.
Sumber Penelitian
Anita, K., & Widjaja, B. (2026). The Impact of Generation Z Characteristics on Turnover Intention among Nurses: The Mediating Role of Job Satisfaction at Husada Hospital. International Journal of Business and Applied Economics, Vol. 5 No. 1, Januari 2026, hlm. 242–254.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijbae.v5i1.564
URL Jurnal: https://nblformosapublisher.org/index.php/ijbae
.png)
0 Komentar