Krisis Limbah Pangan dan Urgensi Global
Secara global, sekitar sepertiga makanan yang diproduksi setiap tahun hilang atau terbuang. Limbah pangan tidak hanya berarti pemborosan sumber daya seperti air, energi, dan lahan, tetapi juga menyumbang emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar. Kerugian ekonominya mencapai ratusan miliar dolar AS per tahun.
Di negara berkembang, food loss banyak terjadi pada tahap produksi, penyimpanan, dan distribusi akibat infrastruktur yang belum memadai. Di negara maju, food waste lebih sering terjadi di tingkat ritel dan konsumen karena pola konsumsi, standar estetika pangan, dan perilaku pembelian berlebihan.
Dalam konteks tersebut, riset ilmiah menjadi dasar penting untuk menyusun kebijakan dan solusi berbasis teknologi. Karena itu, pertumbuhan publikasi ilmiah di bidang ini mencerminkan meningkatnya perhatian dunia terhadap keberlanjutan sistem pangan.
Metode Analisis: 5.390 Artikel Selama 10 Tahun
Tim peneliti dari Poltekkes Pontianak menggunakan pendekatan bibliometrik kuantitatif. Data diambil dari basis data Scopus dengan kata kunci “food waste” dan “food loss” pada judul artikel.
Ringkasan metodologi:
- Periode analisis: 2014–2024
- Jumlah artikel: 5.390 publikasi jurnal
- Sumber data: Scopus
- Perangkat analisis: VOSviewer dan Microsoft Excel
- Fokus analisis: tren publikasi, kolaborasi internasional, institusi produktif, bidang ilmu dominan, dan dampak sitasi
Pendekatan ini memungkinkan pemetaan struktur pengetahuan global tanpa menilai isi masing-masing artikel secara mendalam.
Temuan Utama: Lonjakan Publikasi dan Dominasi China
1. Puncak Publikasi Terjadi pada 2022
Jumlah publikasi meningkat konsisten sejak 2014 dan mencapai puncaknya pada 2022. Meski terjadi sedikit penurunan pada 2023, tren jangka panjang menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Peningkatan ini sejalan dengan agenda global seperti ekonomi sirkular dan target pengurangan limbah pangan dalam kebijakan keberlanjutan.
2. China Memimpin dalam Jumlah Publikasi
China mencatat 1.722 publikasi dan menjadi negara paling produktif dalam riset food waste dan food loss. Delapan dari sepuluh institusi paling produktif berasal dari China, termasuk:
- Chinese Academy of Sciences
- Tsinghua University
- Shanghai Jiao Tong University
Dominasi ini berkaitan dengan kebijakan nasional China yang agresif dalam mengurangi limbah pangan, termasuk kampanye nasional dan regulasi anti food waste.
3. Dampak Sitasi Tertinggi Masih Didominasi Barat
Meskipun China unggul dalam jumlah publikasi, artikel dengan sitasi tertinggi banyak berasal dari Eropa dan Amerika Serikat.
Beberapa jurnal dengan pengaruh sitasi tinggi antara lain:
- Journal of Cleaner Production
- Waste Management
- Bioresource Technology
- Applied Energy
Applied Energy mencatat rata-rata sitasi per artikel tertinggi di antara jurnal-jurnal utama dalam analisis ini.
Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kuantitas publikasi dan pengaruh ilmiah global.
4. Bidang Lingkungan dan Teknik Mendominasi
Sebagian besar riset berada dalam rumpun:
- Ilmu Lingkungan (3.268 artikel)
- Energi
- Teknik
- Teknik Kimia
Sebaliknya, bidang Ilmu Sosial dan Ekonomi relatif lebih sedikit, padahal faktor perilaku konsumen dan kebijakan publik memainkan peran penting dalam pengurangan limbah pangan.
5. Empat Klaster Riset Utama
Analisis kata kunci mengidentifikasi empat klaster besar:
- Teknologi biokonversi dan bioenergi
- Ekonomi sirkular dan kebijakan lingkungan
- Ketahanan pangan dan perubahan iklim
- Solusi teknik lingkungan
Perkembangan ini menunjukkan bahwa riset tidak lagi hanya berfokus pada pengelolaan sampah, tetapi telah bergeser ke pendekatan sistemik dan keberlanjutan.
Implikasi bagi Kebijakan dan Industri
Hasil penelitian ini memberi beberapa implikasi strategis:
- Pemerintah dapat memperkuat kolaborasi internasional untuk meningkatkan kualitas dan dampak riset.
- Perguruan tinggi perlu mendorong penelitian lintas disiplin, terutama melibatkan ekonomi dan ilmu sosial.
- Industri pangan dapat memanfaatkan inovasi bioenergi dan ekonomi sirkular untuk mengurangi limbah sekaligus menciptakan nilai tambah.
- Negara berkembang perlu meningkatkan partisipasi dalam jejaring riset global agar solusi lebih kontekstual.
Iman Jaladri dari Poltekkes Pontianak menegaskan bahwa dominasi jumlah publikasi tidak otomatis berarti dominasi pengaruh ilmiah. “Kolaborasi internasional dan kualitas riset menjadi faktor kunci untuk meningkatkan dampak global,” jelasnya.
Profil Penulis
Iman Jaladri, SKM., M.Kes. adalah akademisi di Poltekkes Pontianak dengan bidang keahlian kesehatan masyarakat, sistem pangan, dan analisis bibliometrik.
Ia bekerja sama dengan Yanuarti Petrika, SKM., M.Kes., Jonny Syah R. Purba, dan Didik Haroyadi, yang juga berafiliasi dengan Poltekkes Pontianak. Tim ini fokus pada isu keberlanjutan pangan dan kebijakan kesehatan berbasis data.
0 Komentar