Penelitian ini menjadi relevan di tengah tuntutan global terhadap praktik sustainable banking. Bank kini tidak lagi dinilai semata dari kinerja keuangan jangka pendek, tetapi juga dari kemampuan mengelola risiko secara konsisten demi menjaga stabilitas dan keberlanjutan jangka panjang.
Mengapa Manajemen Risiko Menentukan Masa Depan Bank
Dalam satu dekade terakhir, industri perbankan menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Risiko ekonomi global, volatilitas pasar, tuntutan tata kelola, hingga kewajiban mendukung pembangunan berkelanjutan memaksa bank memperkuat sistem pengendalian internal. Kegagalan mengelola risiko bukan hanya berdampak pada kerugian finansial, tetapi juga dapat memicu krisis kepercayaan publik.
Purwati menyoroti bahwa banyak kegagalan bank justru berakar pada lemahnya kesadaran risiko dan budaya organisasi, bukan semata karena ketiadaan aturan. Di tingkat operasional, karyawan memegang peran kunci karena merekalah yang setiap hari berhadapan langsung dengan potensi risiko, baik operasional, kepatuhan, maupun reputasi.
Di Indonesia, khususnya pada bank konvensional di daerah, tantangan ini menjadi lebih nyata. Keterbatasan sumber daya dan variasi kualitas tata kelola membuat penguatan faktor internal menjadi kebutuhan mendesak. Inilah celah yang coba dijawab oleh penelitian Purwati.
Cara Penelitian Dilakukan
Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang dibagikan kepada 80 karyawan bank umum konvensional di Kota Palembang. Responden dipilih secara purposif, yakni karyawan tetap dengan masa kerja minimal satu tahun dan terlibat langsung dalam aktivitas operasional atau administratif yang berkaitan dengan risiko.
Data yang terkumpul dianalisis menggunakan regresi linier berganda untuk melihat pengaruh kesadaran risiko dan budaya manajemen risiko terhadap keberlanjutan operasional perbankan. Analisis dilakukan secara parsial maupun simultan untuk memastikan kekuatan hubungan antarvariabel.
Temuan Utama: Budaya Risiko Lebih Dominan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua faktor internal tersebut sama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap keberlanjutan operasional bank. Namun, budaya manajemen risiko terbukti memiliki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan kesadaran risiko individu.
Secara ringkas, temuan utama penelitian ini adalah:
· Kesadaran risiko karyawan berpengaruh positif terhadap keberlanjutan operasional bank. Karyawan yang memahami risiko cenderung lebih berhati-hati, mampu mengantisipasi gangguan operasional, dan menyesuaikan perilaku kerja dengan prinsip kehati-hatian.
· Budaya manajemen risiko memiliki pengaruh paling dominan. Nilai, norma, dan kebiasaan kolektif terkait pengelolaan risiko terbukti lebih konsisten dalam menjaga stabilitas operasional dibandingkan pemahaman individu semata.
· Kombinasi keduanya menjelaskan 42,2 persen variasi keberlanjutan operasional bank. Artinya, hampir setengah dari faktor penentu keberlanjutan bank dapat dijelaskan oleh kesadaran risiko dan budaya manajemen risiko secara bersamaan.
Purwati mencatat bahwa budaya risiko yang kuat mampu menyelaraskan kebijakan formal dengan praktik sehari-hari. Ketika nilai kehati-hatian sudah menjadi kebiasaan bersama, kepatuhan tidak lagi bersifat terpaksa, melainkan tumbuh secara intrinsik.
Implikasi bagi Dunia Perbankan
Temuan ini membawa pesan penting bagi manajemen bank, terutama di tingkat regional. Penguatan sistem manajemen risiko tidak cukup dilakukan melalui prosedur tertulis atau pelatihan teknis semata. Bank perlu membangun budaya organisasi yang menempatkan risiko sebagai pertimbangan utama dalam setiap pengambilan keputusan.
Bagi manajemen, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam merancang strategi keberlanjutan yang lebih efektif, misalnya melalui:
· integrasi nilai manajemen risiko dalam penilaian kinerja,
· kepemimpinan yang memberi teladan dalam pengelolaan risiko,
· serta penguatan literasi risiko di semua level organisasi.
Dari sisi kebijakan publik, riset ini juga memberi masukan bagi regulator agar tidak hanya menekankan aspek kepatuhan formal, tetapi juga mendorong internalisasi budaya risiko di perbankan. Pendekatan ini dinilai lebih berkelanjutan dalam menjaga stabilitas sistem keuangan, khususnya di daerah.
Relevansi bagi Keberlanjutan Jangka Panjang
Dalam konteks sustainable banking, manajemen risiko berperan sebagai jembatan antara kinerja ekonomi, tanggung jawab sosial, dan ketahanan jangka panjang. Bank yang mampu mengelola risiko secara adaptif akan lebih siap menghadapi perubahan lingkungan bisnis, termasuk risiko non-keuangan seperti lingkungan dan tata kelola.
Purwati menegaskan bahwa keberlanjutan perbankan bukan semata hasil kepatuhan regulasi, melainkan produk dari perilaku kolektif yang konsisten. “Nilai dan budaya manajemen risiko yang terinternalisasi menjadi kunci agar keberlanjutan tidak berhenti di level kebijakan, tetapi benar-benar hidup dalam praktik sehari-hari,” tulisnya dalam artikel tersebut.
Profil Singkat Penulis
Purwati.
Afiliasi: Politeknik Negeri Sriwijaya, Palembang
Bidang keahlian: manajemen risiko perbankan, tata kelola keuangan, dan keberlanjutan operasional lembaga keuangan.
Sumber Penelitian
Judul artikel jurnal: Risk Awareness and Management Culture in Supporting Sustainable Banking Operations
Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology (FJST)
Volume 5, Nomor 1, Tahun 2026, halaman 121–136
DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i1.382
URL: https://traformosapublisher.org/index.php/fjst
0 Komentar