Pengabdian yang dilakukan oleh Hotmaulina Sihotang bersama Erni Murniarti, A. Dan Kia, Kerdid Simbolon, dan Indri Jatmiko dari Universitas Kristen Indonesia menyoroti bahwa banyak kampus, terutama di daerah, masih membutuhkan pendampingan untuk memahami perubahan regulasi yang cepat dan kompleks.
Latar
Belakang: Transformasi Mutu Pendidikan Tinggi
Persaingan
global dan digitalisasi membuat kualitas pendidikan tinggi menjadi indikator
utama daya saing sumber daya manusia. Perguruan tinggi tidak lagi hanya fokus
pada pengajaran, tetapi juga pada penelitian dan pengabdian masyarakat yang
relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
STT
Arastamar Ngabang menyadari perlunya memperbarui sistem penjaminan mutu yang
sebelumnya masih mengacu pada regulasi lama. Perubahan kebijakan nasional
menuntut kampus untuk segera menyesuaikan dokumen, prosedur, dan budaya mutu
internal. Kegiatan bimbingan teknis ini
hadir sebagai respons langsung terhadap kebutuhan tersebut.
Metode Pendampingan: Dari Survei hingga Publikasi
Tim
UKI merancang kegiatan berbasis pengabdian masyarakat yang menggabungkan
edukasi, diskusi, dan pendampingan langsung. Sebanyak 38 peserta dari delapan
sekolah tinggi teologi (STT) di Kalimantan Barat mengikuti kegiatan yang
berlangsung selama empat hari.
Tahapan
kegiatan meliputi:
- Survei awal kondisi institusi.
- Wawancara mendalam dengan pimpinan
kampus.
- Pemetaan kebutuhan dan prioritas.
- Penyusunan program pendampingan.
- Penandatanganan kerja sama (MoA).
- Pelaksanaan bimbingan teknis.
- Pelaporan kegiatan.
- Publikasi hasil pengabdian.
Menurut
tabel tahapan kegiatan pada halaman 4, proses ini dirancang sistematis agar
transfer pengetahuan berlangsung berkelanjutan, bukan hanya pelatihan satu
kali.
Hasil
Utama: Pemahaman dan Komitmen Meningkat
Hasil
kegiatan menunjukkan perubahan signifikan pada pemahaman peserta terhadap
konsep dan urgensi IQA.
Temuan utama meliputi:
- Peserta memahami IQA sebagai sistem strategis, bukan sekadar syarat akreditasi
- Dokumen IQA berhasil direvisi dan dilengkapi secara langsung
- Terbentuk kepemimpinan mutu dan tim pengelola IQA
- Komitmen pimpinan kampus untuk membangun budaya mutu meningkat
Kegiatan
ini juga menghasilkan perangkat penting seperti kebijakan IQA, pedoman
pelaksanaan, standar mutu, serta sistem dokumentasi yang selaras dengan
indikator akreditasi.
Dampak
pada SDM dan Tata Kelola Kampus
Dari
sisi sumber daya manusia, pelatihan meningkatkan kapasitas pimpinan, dosen, dan
tenaga kependidikan dalam memahami peran masing-masing pada setiap tahap siklus
mutu. Para
peserta mulai menyadari bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh
kurikulum, tetapi juga oleh tata kelola organisasi, keuangan, sarana prasarana,
hingga layanan mahasiswa.
Menurut
tim keterlibatan seluruh sivitas akademika menjadi faktor kunci
keberhasilan implementasi IQA.
Profil
Singkat Penulis
Hotmaulina
Sihotang – Akademisi Universitas Kristen Indonesia,
bidang keahlian: penjaminan mutu pendidikan tinggi.
Erni Murniarti – Akademisi Universitas Kristen Indonesia,
bidang Keahlian: manajemen pendidikan.
A. Dan Kia – Akademisi Universitas Kristen Indonesia.
Kerdid Simbolon – Akademisi Universitas Kristen Indonesia.
Indri Jatmiko – Akademisi Universitas Kristen Indonesia.
Sumber
Penelitian
Hotmaulina Sihotang, Erni Murniarti, A. Dan Kia, Kerdid Simbolon, Indri Jatmiko.
Technical Counseling and Guidance: Transforming Higher Education through the
Implementation of the Internal Quality Assurance (IQA) at STT Arastamar Ngabang
West Kalimantan. Asian Journal of Community Services, Vol. 5 No. 2,
halaman 81–90. 2026.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajcs.v5i2.3
URL: https://journalajcs.my.id/index.php/ajcs

0 Komentar