Analisis Keberlanjutan Sosial-Ekonomi Hutan Komunitas Alue Simantok, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen


HKm Alue Simantok Dongkrak Pendapatan Warga Dua Kali Lipat, Jernang Paling Menguntungkan

Program Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Alue Simantok, Kabupaten Bireuen, Aceh, terbukti menggandakan pendapatan warga dari rata-rata Rp1,5 juta menjadi Rp3 juta per bulan. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Sustainable Social Science (2026) oleh Sri Julidar, Halus Satriawan, dan Ridwan Iriadi dari Universitas Almuslim, Bireuen. Penelitian dilakukan pada Oktober–Desember 2024 dan menilai keberlanjutan sosial-ekonomi pengelolaan HKm berbasis hasil hutan bukan kayu (HHBK). Hasilnya penting karena menunjukkan bahwa akses legal kelola hutan dapat meningkatkan kesejahteraan, tetapi tetap menyimpan risiko pasar jika tidak disertai strategi hilirisasi dan penguatan kelembagaan.

HKm Alue Simantok berdiri di atas lahan seluas 766 hektare di Desa Hagu, Kecamatan Peudada. Kawasan ini resmi ditetapkan melalui SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor S.4241/MENLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/7/2020 pada Juli 2020. Sejak itu, kelompok tani hutan (KTH) setempat mengelola berbagai komoditas unggulan seperti jernang (Daemonorops draco), madu hutan (Apis dorsata), madu kelulut (Trigona sp.), dan rotan (Calamus sp.).

Mengukur Untung-Rugi Secara Nyata

Penelitian ini melibatkan seluruh 61 anggota KTH melalui metode sensus. Tim menggunakan pendekatan campuran: survei kuantitatif untuk menghitung biaya, pendapatan, dan rasio keuntungan (R/C Ratio), serta analisis kualitatif untuk melihat dampak sosial dan kelembagaan.

R/C Ratio digunakan untuk mengukur kelayakan usaha. Jika nilainya di atas 1, usaha dinilai menguntungkan. Hasilnya menunjukkan perbedaan efisiensi yang sangat mencolok antar komoditas.

Ringkasan Kinerja Empat Komoditas Utama:

Jernang

-Pendapatan tahunan: Rp1,209 miliar

-Total biaya: Rp9,85 juta

-Laba bersih: Rp1,199 miliar

-R/C Ratio: 122,8 (sangat layak)

Madu Hutan

-Pendapatan: Rp180 juta

-R/C Ratio: 13,1 (layak)

Madu Kelulut

-Pendapatan: Rp108 juta

-R/C Ratio: 6,8 (layak)

Rotan (termasuk produk olahan)

-Pendapatan: Rp113,6 juta

-R/C Ratio: 11,8 (layak)

Jernang menjadi komoditas paling menguntungkan karena biaya produksi sangat rendah dan bergantung pada subsidi alami hutan. Namun, harga jualnya sangat fluktuatif. Dalam tiga tahun terakhir, harga turun tajam dari Rp280.000/kg (2022) menjadi Rp160.000/kg (2024), meski volume produksi meningkat.

Sri Julidar dari Universitas Almuslim menegaskan bahwa tingginya rasio keuntungan jernang tidak sepenuhnya mencerminkan efisiensi manajerial, melainkan “resource rent” atau keuntungan karena kelangkaan dan nilai pasar global. Ketergantungan pada satu komoditas berisiko tinggi jika terjadi gejolak harga.

Hilirisasi Naikkan Nilai Tambah

Berbeda dengan jernang yang masih dijual sebagai bahan mentah, madu dan rotan mulai dipasarkan dalam bentuk produk akhir. Madu dikemas dalam botol berlabel, sementara rotan diolah menjadi keranjang buah, tudung saji, hingga rangka lampu.

Data penelitian menunjukkan kontras yang jelas:

-Penjualan rotan mentah: Rp30 juta/tahun

-Produk kerajinan rotan: Rp83,6 juta/tahun

Artinya, pengolahan mampu hampir melipatgandakan pendapatan. Investasi mesin pitrit senilai Rp45 juta menjadi faktor penting dalam peningkatan kualitas dan efisiensi produksi rotan.

Menurut tim peneliti, transformasi dari penjual bahan mentah menjadi produsen barang jadi adalah kunci daya saing jangka panjang. Strategi ini juga memperkuat posisi tawar petani terhadap tengkulak.

Tantangan Pasar dan Branding

Meski pendapatan meningkat, HKm Alue Simantok masih menghadapi tiga kendala utama:

1. Produk belum memiliki merek dagang kuat.

2. Akses informasi harga dan tren pasar terbatas.

3. Jaringan pemasaran masih lokal dan belum menembus pasar industri atau ekspor.

Kondisi ini membuat petani rentan terhadap asimetri informasi dan fluktuasi harga global. Tanpa penguatan kelembagaan seperti koperasi atau BUMG, posisi tawar tetap lemah.

Dampak Sosial: Dari Eksploitasi ke Konservasi

Penelitian ini juga menemukan perubahan perilaku signifikan. Tradisi Kenduri Glee (kenduri hutan) menjadi modal sosial yang memperkuat kohesi kelompok. Anggota KTH kini rutin melakukan patroli dan gotong royong menjaga hutan.

Sebanyak 122 responden menyatakan kesadaran lingkungan meningkat sejak program berjalan. Aktivitas perambahan dan pembalakan liar menurun. Legalitas kelola memberi rasa aman dan mendorong investasi jangka panjang pada konservasi.

Sri Julidar dan tim menilai keberlanjutan HKm tidak hanya ditentukan oleh keuntungan ekonomi, tetapi juga oleh kekuatan sosial dan kelembagaan lokal.

Strategi Ke Depan

Peneliti merekomendasikan tiga langkah strategis:

-Percepatan hilirisasi dan branding, terutama untuk jernang agar tidak hanya dijual sebagai resin mentah.

-Pembentukan badan usaha kolektif untuk memperkuat akses modal dan pasar.

-Diversifikasi ekowisata, memanfaatkan potensi Air Terjun Putroe Dusun dan arboretum sebagai sumber pendapatan non-ekstraktif.

Kombinasi komoditas berisiko tinggi (jernang) dan komoditas stabil (madu budidaya dan kerajinan rotan) dinilai mampu membentuk portofolio ekonomi desa yang lebih tangguh.


Profil Peneliti

Sri Julidar, S.P., M.Si.
Dosen dan peneliti di Universitas Almuslim, Bireuen, Aceh.
Bidang keahlian: Manajemen Sumber Daya Alam dan Lingkungan.

Dr. Halus Satriawan, S.Hut., M.Si.
Akademisi Universitas Almuslim.
Bidang keahlian: Kebijakan Kehutanan dan Pemberdayaan Masyarakat.

Ridwan Iriadi, S.P., M.Si.
Peneliti Universitas Almuslim.
Bidang keahlian: Ekonomi Sumber Daya Hutan.


Sumber Penelitian

Sri Julidar, Halus Satriawan, Ridwan Iriadi. 2026.
“Socio-Economic Sustainability Analysis of Alue Simantok Community Forestry, Peudada District, Bireuen Regency.”
International Journal of Sustainable Social Science (IJSSS), Vol. 4 No. 1.


Posting Komentar

0 Komentar