Penelitian dilakukan pada akhir 2025 hingga awal 2026 di TKIT Al-Rahbini Gondanglegi, Kabupaten Malang. Tim peneliti melibatkan 25 anak usia dini yang seluruhnya teridentifikasi memiliki perilaku picky eating. Hasilnya menunjukkan bahwa pendekatan edukasi psikologis berbasis permainan sensorik mampu membantu anak lebih menerima variasi makanan secara bertahap, tanpa paksaan.
Masalah Picky Eating yang Kerap Dianggap Sepele
Picky eating merupakan kondisi ketika anak cenderung menolak makanan tertentu, baik karena tekstur, warna, aroma, maupun rasa. Pada tahap tertentu, perilaku ini masih dianggap wajar. Namun, masalah muncul ketika penolakan makanan berlangsung terus-menerus hingga kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi.
Data nasional menunjukkan bahwa persoalan gizi anak masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan tahun 2022 mencatat prevalensi stunting pada balita mencapai 21,6 persen, sementara angka malnutrisi meningkat menjadi 7,7 persen. Salah satu faktor yang berkontribusi adalah kebiasaan makan yang buruk sejak usia dini, termasuk picky eating.
Menurut Rendri Asokawati Wulan Cahya, banyak orang tua belum sepenuhnya memahami bahwa perilaku memilih makanan sering kali berkaitan dengan sensitivitas sensorik anak. “Anak bukan menolak makan karena tidak mau, tetapi karena belum nyaman dengan rangsangan sensorik tertentu, seperti tekstur kasar atau aroma menyengat,” tulis tim peneliti dalam artikelnya.
Pendekatan Bermain untuk Mengubah Respons Anak
Alih-alih memaksa anak makan, penelitian ini menggunakan pendekatan sensory play psychoeducation, yaitu edukasi psikologis yang dikemas melalui aktivitas bermain berbasis sensorik. Metode ini dirancang untuk membantu anak beradaptasi secara bertahap dengan rangsangan sensorik yang selama ini memicu penolakan terhadap makanan.
Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan model satu kelompok pretest–posttest. Sebelum intervensi, perilaku picky eating anak diukur menggunakan skala berisi 35 pernyataan. Setelah itu, anak mengikuti rangkaian sesi sensory play yang terstruktur.
Aktivitas dimulai dari permainan non-makanan, seperti bermain pasir, playdough, slime, dan air. Tahap ini bertujuan membangun rasa aman anak terhadap berbagai tekstur. Selanjutnya, anak diperkenalkan pada makanan secara visual dan penciuman tanpa tuntutan untuk makan. Pada tahap akhir, anak diajak menyentuh, mencium, hingga mencicipi makanan secara sukarela.
Pendekatan ini memberi ruang bagi anak untuk mengenal makanan melalui pengalaman positif, bukan tekanan. Anak tetap memegang kendali atas keputusan makan mereka, sehingga kecemasan terhadap makanan dapat ditekan.
Hasil Penelitian yang Signifikan
Hasil analisis statistik menunjukkan perubahan yang sangat jelas. Skor rata-rata perilaku picky eating anak sebelum intervensi tercatat sebesar 49,16. Setelah mengikuti program sensory play psychoeducation, skor tersebut turun menjadi 35,08. Artinya, terjadi penurunan rata-rata sebesar 14,08 poin.
Uji Paired Samples t-Test memperkuat temuan ini dengan nilai t = –24,276 dan signifikansi p = 0,000. Angka ini menunjukkan bahwa penurunan perilaku picky eating bukan terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan dampak langsung dari intervensi yang diberikan.
“Penurunan skor yang konsisten menunjukkan bahwa anak menjadi lebih terbuka terhadap makanan dan menunjukkan respons emosional yang lebih positif saat waktu makan,” tulis peneliti.
Dampak bagi Orang Tua dan Dunia Pendidikan
Temuan ini memberikan implikasi luas, terutama bagi orang tua, pendidik anak usia dini, dan praktisi kesehatan. Pendekatan sensory play dapat diterapkan di rumah maupun di sekolah tanpa memerlukan alat khusus atau biaya besar. Kunci utamanya adalah konsistensi, kesabaran, dan lingkungan yang bebas tekanan.
Bagi dunia pendidikan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa peran sekolah tidak hanya sebatas akademik, tetapi juga mendukung perkembangan kebiasaan hidup sehat anak. Guru dapat memanfaatkan aktivitas bermain sensorik sebagai bagian dari rutinitas kelas untuk membantu anak mengenal makanan dengan cara menyenangkan.
Dari sisi kebijakan publik, pendekatan ini berpotensi menjadi alternatif intervensi dini dalam program pencegahan stunting dan masalah gizi anak. Edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya stimulasi sensorik dapat menjadi bagian dari layanan kesehatan ibu dan anak.
0 Komentar