ROE Jadi Penentu Utama Harga Saham Industri Kimia Dasar di BEI

Ilustrasi by AI

Malang- Harga saham perusahaan kimia dasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2021–2024 lebih banyak ditentukan oleh kinerja laba perusahaan ketimbang gejolak inflasi dan perubahan suku bunga. Temuan ini diungkapkan oleh Aminul Amin, dosen dan peneliti dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkucecwara, Malang, dalam artikel ilmiah yang terbit awal 2026.

Riset tersebut penting karena industri kimia dasar merupakan tulang punggung banyak sektor strategis, mulai dari pupuk, petrokimia, farmasi, hingga manufaktur. Pergerakan harga saham di sektor ini tidak hanya berdampak pada investor, tetapi juga mencerminkan kepercayaan pasar terhadap keberlanjutan industri penopang ekonomi nasional.

Fokus pada sektor strategis pasca-pandemi

Penelitian Aminul Amin menelaah perusahaan-perusahaan industri kimia dasar yang tercatat di BEI selama periode 2021–2024, masa pemulihan ekonomi setelah pandemi COVID-19. Pada periode ini, pasar modal Indonesia menghadapi ketidakpastian global, tekanan inflasi, serta kebijakan suku bunga yang dinamis.

Di tengah kondisi tersebut, investor kerap dihadapkan pada pertanyaan klasik: apakah faktor makroekonomi seperti inflasi dan suku bunga masih menjadi penentu utama harga saham, atau justru kinerja internal perusahaan yang lebih berperan?

“Industri kimia dasar memiliki karakteristik khusus, sensitif terhadap harga komoditas global dan biaya produksi. Karena itu, menarik untuk melihat faktor apa yang benar-benar diperhitungkan pasar,” tulis Aminul Amin dalam artikelnya.

Metode sederhana, data aktual

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan data keuangan perusahaan kimia dasar yang terdaftar di BEI dan mengaitkannya dengan data inflasi serta suku bunga selama empat tahun. Analisis dilakukan dengan pendekatan statistik modern yang memungkinkan peneliti melihat pengaruh masing-masing faktor secara langsung terhadap pertumbuhan harga saham.

Secara sederhana, penelitian ini membandingkan tiga variabel utama:

  • Inflasi, sebagai gambaran tekanan harga di tingkat nasional
  • Suku bunga, yang mencerminkan kebijakan moneter dan biaya modal
  • Return on Equity (ROE), indikator seberapa efisien perusahaan menghasilkan laba dari modal pemegang saham

Ketiganya diuji untuk melihat mana yang benar-benar berdampak pada kenaikan atau penurunan harga saham.

ROE unggul jauh dibanding variabel makro

Hasilnya cukup tegas. Return on Equity (ROE) terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan harga saham perusahaan kimia dasar. Semakin tinggi ROE, semakin besar kecenderungan harga saham perusahaan tersebut naik.

Secara statistik, ROE muncul sebagai faktor paling dominan dibandingkan inflasi maupun suku bunga. Artinya, pasar modal lebih merespons kemampuan perusahaan menghasilkan laba daripada perubahan kondisi makro yang bersifat umum.

Sebaliknya, inflasi dan suku bunga tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan harga saham sektor ini selama periode pengamatan. Meski secara teori inflasi cenderung menekan nilai riil keuntungan dan kenaikan suku bunga dapat mengurangi minat investasi saham, data menunjukkan efek tersebut tidak cukup kuat untuk memengaruhi harga saham secara konsisten.

“Dalam konteks industri kimia dasar dan periode penelitian ini, profitabilitas perusahaan menjadi sinyal paling dipercaya oleh investor,” jelas Aminul Amin.

Apa artinya bagi investor?

Temuan ini membawa pesan praktis yang jelas, terutama bagi investor ritel maupun analis pasar modal. Alih-alih terlalu fokus menebak arah inflasi atau menunggu perubahan suku bunga acuan, investor disarankan memberi perhatian lebih besar pada laporan keuangan perusahaan.

ROE yang tinggi mencerminkan efisiensi manajemen dalam mengelola modal dan menghasilkan keuntungan. Di mata pasar, hal ini menjadi indikator kesehatan perusahaan dan prospek pertumbuhan jangka menengah hingga panjang.

Dengan kata lain, saham perusahaan kimia dasar dengan ROE solid cenderung lebih tahan terhadap gejolak makroekonomi, setidaknya dalam periode pasca-pandemi yang dianalisis dalam penelitian ini.

Dampak bagi dunia usaha dan kebijakan

Bagi manajemen perusahaan, hasil riset ini menegaskan pentingnya strategi peningkatan profitabilitas. Efisiensi operasional, inovasi proses produksi, dan pengelolaan modal yang cermat terbukti berdampak langsung pada persepsi pasar.

Sementara bagi pembuat kebijakan dan otoritas pasar modal, temuan ini memberi gambaran bahwa stabilitas makro memang penting, tetapi kepercayaan investor juga sangat ditentukan oleh kualitas fundamental perusahaan. Transparansi laporan keuangan dan tata kelola yang baik tetap menjadi kunci.

Mengapa inflasi dan suku bunga “kalah pengaruh”?

Menurut Aminul Amin, ada beberapa kemungkinan penjelasan. Selama inflasi berada pada tingkat yang relatif terkendali dan tidak ekstrem, investor cenderung menganggapnya sebagai risiko yang bisa dikelola. Hal serupa berlaku untuk suku bunga, yang dampaknya bisa berbeda antar sektor.

Di industri kimia dasar, kemampuan perusahaan menjaga margin laba dan efisiensi produksi tampaknya lebih menentukan daripada perubahan suku bunga jangka pendek.

Profil Penulis

Aminul Amin
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkucecwara, Malang.

Sumber Penelitian

Artikel jurnal: The Effect of Inflation, Interest Rates, and Return on Equity (ROE) on Stock Price Growth in the Basic Chemical Industry on the IDX in 2021–2024
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR)
Volume 5, Nomor 1, Tahun 2026, halaman 99–112

Posting Komentar

0 Komentar