Penelitian lapangan dilakukan pada November–Desember 2025
dengan melibatkan 50 pedagang sebagai responden. Hasilnya menjadi
penting karena pasar tradisional merupakan ruang kerja sektor informal yang
selama ini luput dari pengawasan kesehatan kerja, meskipun para pekerjanya
terpapar polusi udara dalam durasi panjang setiap hari.
Polusi udara di pasar tradisional sering terabaikan
Pasar tradisional dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi
rakyat, tetapi juga menjadi titik temu berbagai sumber pencemar udara. Lalu
lintas kendaraan pengangkut barang, generator berbahan bakar diesel, serta
praktik pembakaran sampah di sekitar pasar menjadi penyumbang utama polusi
udara.
SO₂ merupakan gas iritan yang terbentuk dari proses
pembakaran bahan bakar mengandung sulfur. Meski konsentrasinya di udara ambien
sering kali masih berada di bawah baku mutu nasional, paparan berulang dengan
durasi panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada saluran
pernapasan bagian atas.
Pedagang pasar termasuk kelompok yang paling rentan karena
bekerja rata-rata lebih dari 13 jam per hari dan hampir sepanjang tahun
di lokasi yang sama.
Mengukur risiko paparan secara langsung
Tim peneliti mengukur konsentrasi SO₂ secara langsung di
Pasar Pinasungkulan menggunakan metode spektrofotometri pararosanilin.
Pengukuran dilakukan pada pagi, siang, dan sore hari untuk menangkap fluktuasi
paparan.
Selain pengukuran kualitas udara, peneliti juga mewawancarai
pedagang mengenai keluhan pernapasan, durasi kerja, serta karakteristik
individu. Semua data tersebut kemudian dianalisis menggunakan Analisis
Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) untuk menghitung Risk Quotient (RQ),
yaitu indikator yang menunjukkan apakah paparan suatu zat telah melewati batas
aman bagi tubuh.
Mayoritas pedagang berada pada zona risiko
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata RQ
paparan SO₂ secara real-time mencapai 1,26, melebihi ambang aman (RQ >
1). Artinya, secara rata-rata, dosis SO₂ yang terhirup pedagang telah melampaui
batas referensi yang dianggap aman bagi kesehatan.
Secara rinci:
- 70
persen pedagang memiliki RQ di atas 1
- 20
persen berada pada kategori risiko tinggi (RQ > 1,5)
- 50
persen berada pada risiko sedang
- Hanya
30 persen yang berada pada kategori risiko rendah
Kelompok dengan risiko tinggi umumnya berjualan di lokasi
yang berdekatan dengan titik pembakaran sampah atau sumber emisi tidak tetap
lainnya.
Keluhan pernapasan dirasakan langsung pedagang
Analisis menunjukkan hubungan yang jelas antara tingginya
nilai RQ dengan keluhan pernapasan. Pedagang yang berada pada kategori risiko
sedang dan tinggi lebih sering melaporkan batuk, iritasi tenggorokan,
dan rasa tidak nyaman saat bernapas, terutama setelah jam kerja panjang.
Menurut Oksfriani Jufri Sumampouw, dosen kesehatan
lingkungan Universitas Sam Ratulangi, keluhan tersebut sering dianggap wajar
oleh pedagang. “Banyak yang mengira batuk dan tenggorokan kering adalah hal
biasa, padahal itu bisa menjadi tanda awal dampak paparan SO₂,” jelasnya.
Secara medis, SO₂ mudah larut pada mukosa saluran napas dan
dapat memicu iritasi hingga penyempitan saluran napas, terutama pada individu
yang sensitif atau memiliki riwayat asma.
Pembakaran sampah jadi sumber utama paparan
Berbeda dengan asumsi umum yang menempatkan kendaraan
bermotor sebagai sumber utama polusi, penelitian ini menemukan bahwa pembakaran
sampah sporadis di area pasar menjadi penyumbang utama lonjakan konsentrasi
SO₂.
Aktivitas ini menghasilkan paparan puncak dalam waktu
singkat namun intens, yang sangat berpengaruh terhadap nilai RQ harian
pedagang. Kondisi mikroklimat pasar, seperti kecepatan angin yang rendah,
memperburuk situasi karena polutan terperangkap di area kerja.
Rekomendasi perlindungan kesehatan pedagang
Berdasarkan temuan tersebut, peneliti merekomendasikan
langkah pencegahan berbasis tempat kerja, antara lain:
- Larangan
total pembakaran sampah di area pasar
- Pengaturan
zonasi dan rotasi pedagang dari titik paparan tinggi
- Penyediaan
respirator dengan filter khusus gas asam, karena masker kain tidak
efektif menyaring SO₂
- Edukasi
kesehatan kerja agar pedagang mengenali risiko dan gejala awal
gangguan pernapasan
Langkah-langkah ini dinilai lebih realistis dibandingkan
pendekatan umum kualitas udara, karena langsung menyasar sumber dan
karakteristik paparan di pasar tradisional.
Profil singkat penulis
- Verra
Tapi, S.KM – Peneliti kesehatan lingkungan
- Dr.
Oksfriani Jufri Sumampouw, SKM., M.Kes – Dosen Kesehatan Lingkungan,
Universitas Sam Ratulangi
- Jehosua
Samratson Victor Sinolungan, SKM., M.Kes – Akademisi kesehatan
masyarakat
- Jimmy
Posangi, SKM., M.Kes – Peneliti kesehatan kerja
- Zetly
Estevanus Tamod, SKM., M.Kes – Spesialis kesehatan lingkungan
Semua penulis berafiliasi dengan Universitas Sam
Ratulangi Manado dan memiliki keahlian di bidang kesehatan lingkungan dan
kesehatan kerja.
Sumber penelitian
Risk of Acute Respiratory Tract Disorders
Related to Sulfur Dioxide (SO₂) Exposure in Informal Sector Workers (Study on
Pinasungkulan Market Traders)
International Journal of Natural and Health Sciences, Vol.4 No.1, 2026
DOI: 10.59890/ijnhs.v4i1.159
URL: https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijnhs
0 Komentar