Risiko Gangguan Pernapasan Akut Terkait Paparan Sulfur Dioksida (SO₂) pada Pekerja Sektor Informal (Studi pada Pedagang Pasar Pinasungkulan)



                                                                           Ilustrasi By AI

Manado – Pedagang Pasar Pinasungkulan di Kota Manado menghadapi risiko nyata gangguan pernapasan akibat paparan gas sulfur dioksida (SO₂) selama jam kerja. Temuan ini diungkap oleh tim peneliti Universitas Sam Ratulangi Manado dalam studi yang dipublikasikan pada International Journal of Natural and Health Sciences edisi Januari 2026. Penelitian yang dipimpin oleh Verra Tapi bersama Oksfriani Jufri Sumampouw, Jehosua Samratson Victor Sinolungan, Jimmy Posangi, dan Zetly Estevanus Tamod menunjukkan bahwa sebagian besar pedagang terpapar SO₂ pada tingkat yang berisiko bagi kesehatan saluran pernapasan akut.

Penelitian lapangan dilakukan pada November–Desember 2025 dengan melibatkan 50 pedagang sebagai responden. Hasilnya menjadi penting karena pasar tradisional merupakan ruang kerja sektor informal yang selama ini luput dari pengawasan kesehatan kerja, meskipun para pekerjanya terpapar polusi udara dalam durasi panjang setiap hari.

Polusi udara di pasar tradisional sering terabaikan

Pasar tradisional dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi rakyat, tetapi juga menjadi titik temu berbagai sumber pencemar udara. Lalu lintas kendaraan pengangkut barang, generator berbahan bakar diesel, serta praktik pembakaran sampah di sekitar pasar menjadi penyumbang utama polusi udara.

SO₂ merupakan gas iritan yang terbentuk dari proses pembakaran bahan bakar mengandung sulfur. Meski konsentrasinya di udara ambien sering kali masih berada di bawah baku mutu nasional, paparan berulang dengan durasi panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan bagian atas.

Pedagang pasar termasuk kelompok yang paling rentan karena bekerja rata-rata lebih dari 13 jam per hari dan hampir sepanjang tahun di lokasi yang sama.

Mengukur risiko paparan secara langsung

Tim peneliti mengukur konsentrasi SO₂ secara langsung di Pasar Pinasungkulan menggunakan metode spektrofotometri pararosanilin. Pengukuran dilakukan pada pagi, siang, dan sore hari untuk menangkap fluktuasi paparan.

Selain pengukuran kualitas udara, peneliti juga mewawancarai pedagang mengenai keluhan pernapasan, durasi kerja, serta karakteristik individu. Semua data tersebut kemudian dianalisis menggunakan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) untuk menghitung Risk Quotient (RQ), yaitu indikator yang menunjukkan apakah paparan suatu zat telah melewati batas aman bagi tubuh.

Mayoritas pedagang berada pada zona risiko

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata RQ paparan SO₂ secara real-time mencapai 1,26, melebihi ambang aman (RQ > 1). Artinya, secara rata-rata, dosis SO₂ yang terhirup pedagang telah melampaui batas referensi yang dianggap aman bagi kesehatan.

Secara rinci:

  • 70 persen pedagang memiliki RQ di atas 1
  • 20 persen berada pada kategori risiko tinggi (RQ > 1,5)
  • 50 persen berada pada risiko sedang
  • Hanya 30 persen yang berada pada kategori risiko rendah

Kelompok dengan risiko tinggi umumnya berjualan di lokasi yang berdekatan dengan titik pembakaran sampah atau sumber emisi tidak tetap lainnya.

Keluhan pernapasan dirasakan langsung pedagang

Analisis menunjukkan hubungan yang jelas antara tingginya nilai RQ dengan keluhan pernapasan. Pedagang yang berada pada kategori risiko sedang dan tinggi lebih sering melaporkan batuk, iritasi tenggorokan, dan rasa tidak nyaman saat bernapas, terutama setelah jam kerja panjang.

Menurut Oksfriani Jufri Sumampouw, dosen kesehatan lingkungan Universitas Sam Ratulangi, keluhan tersebut sering dianggap wajar oleh pedagang. “Banyak yang mengira batuk dan tenggorokan kering adalah hal biasa, padahal itu bisa menjadi tanda awal dampak paparan SO₂,” jelasnya.

Secara medis, SO₂ mudah larut pada mukosa saluran napas dan dapat memicu iritasi hingga penyempitan saluran napas, terutama pada individu yang sensitif atau memiliki riwayat asma.

Pembakaran sampah jadi sumber utama paparan

Berbeda dengan asumsi umum yang menempatkan kendaraan bermotor sebagai sumber utama polusi, penelitian ini menemukan bahwa pembakaran sampah sporadis di area pasar menjadi penyumbang utama lonjakan konsentrasi SO₂.

Aktivitas ini menghasilkan paparan puncak dalam waktu singkat namun intens, yang sangat berpengaruh terhadap nilai RQ harian pedagang. Kondisi mikroklimat pasar, seperti kecepatan angin yang rendah, memperburuk situasi karena polutan terperangkap di area kerja.

Rekomendasi perlindungan kesehatan pedagang

Berdasarkan temuan tersebut, peneliti merekomendasikan langkah pencegahan berbasis tempat kerja, antara lain:

  • Larangan total pembakaran sampah di area pasar
  • Pengaturan zonasi dan rotasi pedagang dari titik paparan tinggi
  • Penyediaan respirator dengan filter khusus gas asam, karena masker kain tidak efektif menyaring SO₂
  • Edukasi kesehatan kerja agar pedagang mengenali risiko dan gejala awal gangguan pernapasan

Langkah-langkah ini dinilai lebih realistis dibandingkan pendekatan umum kualitas udara, karena langsung menyasar sumber dan karakteristik paparan di pasar tradisional.

Profil singkat penulis

  • Verra Tapi, S.KM – Peneliti kesehatan lingkungan
  • Dr. Oksfriani Jufri Sumampouw, SKM., M.Kes – Dosen Kesehatan Lingkungan, Universitas Sam Ratulangi
  • Jehosua Samratson Victor Sinolungan, SKM., M.Kes – Akademisi kesehatan masyarakat
  • Jimmy Posangi, SKM., M.Kes – Peneliti kesehatan kerja
  • Zetly Estevanus Tamod, SKM., M.Kes – Spesialis kesehatan lingkungan

Semua penulis berafiliasi dengan Universitas Sam Ratulangi Manado dan memiliki keahlian di bidang kesehatan lingkungan dan kesehatan kerja.

Sumber penelitian

Risk of Acute Respiratory Tract Disorders Related to Sulfur Dioxide (SO₂) Exposure in Informal Sector Workers (Study on Pinasungkulan Market Traders)
International Journal of Natural and Health Sciences, Vol.4 No.1, 2026
DOI: 10.59890/ijnhs.v4i1.159 
URL: https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijnhs


Posting Komentar

0 Komentar