Penelitian ini mengkaji dinamika rantai pasok digital pada UMKM kuliner halal di Samarinda, Kalimantan Timur. Fokus utama kajian adalah bagaimana biaya platform digital dan keberlanjutan rantai pasok memengaruhi kinerja keuangan dan operasional UMKM. Hasilnya penting karena UMKM kuliner halal menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah sekaligus sektor yang paling aktif memanfaatkan layanan pesan-antar berbasis aplikasi.
Platform Digital: Membuka Pasar, Menambah Beban Biaya
Dalam satu dekade terakhir, ekonomi digital mengubah cara UMKM menjual produk. Platform pesan-antar makanan memungkinkan pelaku usaha menjangkau konsumen lebih luas tanpa harus membangun sistem distribusi sendiri. Namun, kemudahan ini datang bersama biaya yang tidak kecil, mulai dari komisi per transaksi, biaya layanan, hingga potongan promosi.
Rina Masithoh Haryadi menjelaskan bahwa banyak UMKM belum sepenuhnya menyadari dampak akumulatif biaya tersebut terhadap arus kas. “Platform digital memang meningkatkan transaksi, tetapi biaya yang terus dipotong membuat margin keuntungan semakin tipis,” tulisnya dalam artikel jurnal tersebut.
Kondisi ini menjadi relevan terutama bagi UMKM kuliner halal yang umumnya memiliki skala usaha kecil, modal terbatas, dan sensitivitas tinggi terhadap perubahan biaya.
Metode Penelitian yang Sederhana dan Terukur
Penelitian ini melibatkan 67 UMKM kuliner halal yang aktif menggunakan platform digital di Samarinda. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan model statistik untuk melihat hubungan sebab-akibat antarvariabel.
Peneliti mengukur biaya platform dari beberapa komponen utama, seperti komisi platform, biaya pengiriman dan layanan, serta biaya pendaftaran atau langganan. Sementara itu, kinerja keuangan dinilai dari margin laba, pendapatan bersih, dan arus kas. Kinerja operasional diukur dari kecepatan pemrosesan pesanan, pengelolaan stok, kualitas layanan, dan kemampuan manajerial.
Temuan Utama: Biaya Platform Berpengaruh Signifikan
Hasil analisis menunjukkan bahwa biaya platform digital berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan UMKM. Semakin besar biaya yang dibebankan platform, semakin besar pula tekanan terhadap laba dan arus kas pelaku usaha.
Sebaliknya, biaya platform tidak terbukti memengaruhi kinerja operasional. Artinya, meskipun biaya meningkat, UMKM tetap mampu menjalankan proses operasional secara efisien karena sistem platform sudah terstandarisasi.
Temuan lain yang cukup mengejutkan adalah bahwa keberlanjutan rantai pasok—seperti penggunaan bahan ramah lingkungan, proses produksi berkelanjutan, dan sertifikasi halal—belum menunjukkan dampak signifikan baik terhadap kinerja keuangan maupun operasional dalam jangka pendek.
Peneliti menilai bahwa praktik keberlanjutan pada UMKM masih bersifat administratif, belum terintegrasi secara nyata dalam proses operasional sehari-hari.
Mengapa Keberlanjutan Belum Berdampak?
Menurut Heriyanto, salah satu penulis, keberlanjutan rantai pasok membutuhkan investasi awal yang tidak kecil. “Bagi UMKM, manfaat keberlanjutan sering kali bersifat jangka panjang, sementara biaya harus ditanggung sekarang,” jelasnya.
Selain itu, kesadaran konsumen terhadap praktik keberlanjutan UMKM kuliner halal dinilai masih terbatas. Akibatnya, upaya berkelanjutan belum mampu dikonversi menjadi nilai ekonomi langsung, seperti peningkatan penjualan atau harga jual yang lebih tinggi.
Implikasi Penting bagi UMKM dan Pembuat Kebijakan
Temuan penelitian ini membawa pesan jelas bagi pelaku UMKM, pengelola platform digital, dan pemerintah.
Bagi UMKM, pengelolaan biaya platform menjadi kunci keberlanjutan usaha. Pelaku usaha perlu lebih cermat menghitung struktur biaya dan menyesuaikan strategi harga agar tidak terjebak pada volume penjualan tinggi tetapi keuntungan rendah.
Bagi perusahaan platform digital, hasil riset ini menunjukkan pentingnya skema biaya yang lebih adil dan transparan, terutama bagi UMKM kecil. Model insentif atau penyesuaian komisi bisa menjadi solusi agar pertumbuhan platform tidak mengorbankan mitra usaha.
Sementara itu, bagi pembuat kebijakan, riset ini menegaskan perlunya regulasi yang melindungi UMKM dalam ekosistem digital. Dukungan kebijakan juga diperlukan agar praktik keberlanjutan tidak hanya menjadi beban administratif, tetapi benar-benar memberikan nilai tambah ekonomi.
Kontribusi bagi Dunia Akademik dan Praktik Bisnis
Penelitian ini memperkaya literatur manajemen rantai pasok digital dengan menyoroti biaya platform sebagai faktor utama kinerja keuangan, bukan sekadar adopsi teknologi. Fokus pada UMKM kuliner halal juga memberikan perspektif baru dalam kajian ekonomi digital di negara dengan populasi Muslim besar seperti Indonesia.
Tasya Aspiranti menekankan bahwa riset ini membuka ruang diskusi lebih luas tentang keadilan ekonomi digital. “Digitalisasi seharusnya memperkuat UMKM, bukan justru membuat mereka semakin rentan,” tulisnya.
Profil Penulis
Rina Masithoh Haryadi, S.E., M.M.- Universitas Islam Bandung
Heriyanto, S.E., M.M.- Dosen Universitas Islam Bandung
Tasya Aspiranti, S.E., M.M.- Dosen Universitas Islam Bandung
Sumber Penelitian
Haryadi, R. M., Heriyanto, & Aspiranti, T. (2026). Supply Chain Dynamics: The Effect of Digital Platform Costs on the Financial Performance of MSMEs.
International Journal of Management Analytics, Vol. 4 No. 1, Januari 2026, hlm. 21–34.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijma.v4i1.287
URL: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijma

0 Komentar