Penelitian ini mengkaji usaha makanan-minuman Chito Roll, sebuah bisnis kuliner yang menjual sawi gulung sehat dengan isian ayam atau tahu serta minuman es le boh timun. Dengan membandingkan beberapa periode penjualan yang memiliki tingkat promosi berbeda, para peneliti ingin melihat seberapa besar pengaruh promosi terhadap pertumbuhan jumlah konsumen.
Promosi di Era Digital, Kunci Bertahan Usaha Kecil
Dalam beberapa tahun terakhir, perilaku konsumen Indonesia berubah drastis. Media sosial seperti Instagram dan WhatsApp kini menjadi rujukan utama sebelum seseorang memutuskan membeli produk. Konsumen tidak hanya mencari informasi, tetapi juga pengalaman visual dan emosional.
“Promosi digital kini berfungsi sebagai magnet,” tulis tim peneliti Universitas Sriwijaya. Artinya, promosi tidak lagi hanya memberi tahu adanya produk, tetapi menarik perhatian, membangun ingatan, dan memicu keinginan membeli.
Tanpa promosi, produk mudah terlupakan. Inilah konteks yang mendorong penelitian ini dilakukan, terutama untuk melihat dampaknya secara konkret pada bisnis kuliner skala kecil.
Metode Sederhana, Data Nyata dari Lapangan
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan membandingkan tiga sesi penjualan (batch) Chito Roll:
- Batch 1: Penjualan dengan promosi digital aktif
- Batch 2: Penjualan tanpa promosi
- Batch 3: Penjualan offline dengan promosi minimal
Data dikumpulkan melalui pencatatan jumlah konsumen, observasi aktivitas promosi, serta wawancara singkat dengan pembeli. Para peneliti kemudian menganalisis data menggunakan uji statistik sederhana untuk melihat perbedaan dan hubungan antara promosi dan jumlah konsumen.
Hasilnya Jelas: Promosi Aktif, Konsumen Melonjak
Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok antar sesi penjualan.
Jumlah konsumen Chito Roll:
- Batch 1 (promosi aktif): 73 konsumen
- Batch 2 (tanpa promosi): 17 konsumen
- Batch 3 (offline): 44 konsumen
Uji statistik memperkuat temuan ini. Analisis Chi-Square menunjukkan perbedaan jumlah konsumen antar batch sangat signifikan secara statistik. Artinya, naik-turunnya konsumen bukan kebetulan, tetapi terkait langsung dengan ada atau tidaknya promosi.
Lebih lanjut, korelasi antara intensitas promosi dan jumlah konsumen menunjukkan hubungan positif sempurna. Semakin tinggi intensitas promosi, semakin besar jumlah konsumen yang datang.
“Ketika promosi dihentikan, jumlah konsumen turun drastis. Saat promosi aktif kembali atau digantikan interaksi langsung, konsumen meningkat,” tulis para peneliti.
Mengapa Promosi Begitu Berpengaruh?
Menurut analisis penulis, promosi digital bekerja pada beberapa level sekaligus. Unggahan visual makanan, informasi open pre-order, dan pengingat rutin menciptakan kesadaran dan rasa penasaran. Konsumen tidak hanya melihat produk, tetapi juga membayangkan pengalaman mengonsumsinya.
Sebaliknya, pada batch tanpa promosi, produk kehilangan visibilitas. Tidak ada pengingat, tidak ada urgensi, dan tidak ada stimulus emosional. Konsumen pun pasif, meskipun kualitas produk tetap sama.
Menariknya, penjualan offline pada batch ketiga menunjukkan bahwa interaksi langsung juga dapat berfungsi sebagai promosi alami. Aroma, tampilan fisik produk, dan keputusan spontan di lokasi mampu meningkatkan penjualan. Namun, tanpa dukungan promosi digital, potensi ini sulit menjangkau konsumen yang lebih luas.
Dampak bagi UMKM, Pendidikan, dan Kebijakan
Temuan ini membawa implikasi luas, terutama bagi pelaku UMKM kuliner. Promosi yang konsisten terbukti bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Bahkan usaha dengan produk unik dan sehat tetap membutuhkan eksposur rutin agar tidak tenggelam di tengah banjir informasi digital.
Bagi dunia pendidikan dan kewirausahaan, studi ini memberi contoh konkret bagaimana teori pemasaran bekerja di lapangan. Data sederhana, jika dianalisis dengan tepat, mampu menghasilkan rekomendasi strategis yang aplikatif.
Dalam konteks kebijakan, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi program pendampingan UMKM. Pelatihan promosi digital, pengelolaan konten visual, dan strategi komunikasi media sosial menjadi investasi penting untuk meningkatkan daya saing usaha kecil.
Profil Singkat Penulis
- Tia Lestari, S.E. – Dosen/peneliti Universitas Sriwijaya, fokus pada pemasaran dan kewirausahaan
- Sahrin Zahrani, S.E. – Peneliti Universitas Sriwijaya, bidang manajemen dan perilaku konsumen
- Euis Meylva, S.E. – Peneliti Universitas Sriwijaya, bidang pemasaran digital
- Syarifuddin, S.E. – Akademisi Universitas Sriwijaya, fokus UMKM dan strategi bisnis
- Tyas Fernanda, S.E. – Peneliti Universitas Sriwijaya, minat pada komunikasi pemasaran
Sumber Penelitian
Penelitian ini menegaskan satu pesan sederhana namun krusial: tanpa promosi, bisnis mudah kehilangan konsumen. Dengan promosi yang konsisten, pertumbuhan menjadi lebih terjaga dan berkelanjutan.
0 Komentar