Petani Jagung Skala Kecil di Cebu Bertahan di Tengah Tantangan Tradisional dan Minim Dukungan

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Cebu - Penelitian terbaru dari Jonemel M. Alforque dan Fidel Y. Pleños dari Sacred Heart School – Ateneo de Cebu, Filipina, mengungkap realitas yang dihadapi petani jagung skala kecil di Catmon, Cebu. Studi yang diterbitkan dalam Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics edisi 2026 ini menunjukkan bahwa praktik pertanian tradisional yang terus dipertahankan, ditambah minimnya dukungan teknis dan kebijakan, membuat produktivitas jagung terancam stagnan bahkan menurun.

Penelitian yang dilakukan sepanjang 2025 ini menyoroti bagaimana petani jagung di daerah pegunungan Cebu masih mengandalkan metode lama yang diwariskan secara turun-temurun. Meski beberapa program modernisasi pertanian pernah diperkenalkan pemerintah, banyak di antaranya tidak berlanjut karena lemahnya pendampingan dan perubahan kebijakan daerah.

Bertahan dengan Cara Lama

Di Kecamatan Catmon, jagung menjadi sumber pangan dan penghasilan utama masyarakat. Namun, mayoritas petani masih menanam dengan cara tradisional seperti menanam beberapa benih dalam satu lubang, pemupukan tanpa takaran pasti, serta pengendalian hama berbasis bahan alami.

Menurut Alforque, praktik ini muncul bukan karena ketidaktahuan semata, tetapi karena keterbatasan akses terhadap pelatihan lanjutan dan pendampingan teknis. “Petani percaya bahwa cara lama berhasil di masa lalu, sehingga dianggap masih relevan hingga sekarang,” tulisnya dalam laporan penelitian.

Padahal, hasil observasi menunjukkan bahwa metode tersebut berdampak pada ukuran tongkol yang lebih kecil dan hasil panen yang tidak optimal. Tanah juga mengalami penurunan kualitas akibat pemupukan yang tidak terkontrol.

Masalah Utama: Pupuk, Air, dan Pendampingan

Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, melibatkan petani jagung aktif di Desa Tinabyonan, Catmon. Peneliti menemukan beberapa persoalan utama:

1. Pemupukan tidak teratur
Banyak petani hanya mengandalkan pupuk kandang atau pupuk kimia tanpa dosis yang jelas. Analisis tanah menunjukkan kadar fosfor dan kalium berada di bawah standar ideal.

2. Pengendalian hama tradisional
Petani menggunakan ramuan alami seperti fermentasi ikan asin, daun madre de cacao, dan bawang putih. Meski ramah lingkungan, efektivitasnya belum terbukti secara ilmiah untuk skala produksi besar.

3. Waktu panen yang tidak tepat
Beberapa petani memotong bagian atas tanaman lebih awal karena menganggapnya menghambat pertumbuhan, padahal justru menurunkan kualitas hasil panen.

4. Keterbatasan air
Lahan pertanian berada di daerah berbukit dengan akses air minim. Saat musim kemarau, petani harus membeli air untuk menyiram tanaman.

5. Minimnya tenaga pendamping
Program pendampingan seperti Farmer-Scientist Training Program (FSTP) sempat berjalan efektif, namun terhenti akibat perubahan kebijakan pemerintah daerah.

Tantangan Sosial: Petani Makin Menua

Penelitian ini juga menyoroti krisis regenerasi petani. Rata-rata petani jagung di Catmon berusia di atas 50 tahun. Generasi muda memilih bekerja di kota atau sektor industri karena pertanian dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi.

“Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin pertanian jagung di daerah ini akan hilang dalam satu generasi,” tulis Alforque.

Harapan di Tengah Keterbatasan

Meski penuh tantangan, penelitian ini juga menemukan sisi optimistis. Beberapa petani senior tetap aktif berbagi ilmu, membentuk kelompok tani, dan mencoba mempertahankan praktik yang lebih ramah lingkungan. Lahan di Catmon dinilai masih sangat potensial untuk pertanian jagung jika dikelola dengan tepat.

Penulis menekankan pentingnya:

  • Keberlanjutan program pemerintah lintas kepemimpinan
  • Pendampingan teknis yang rutin
  • Penyediaan tenaga ahli pertanian di lapangan
  • Program regenerasi petani muda
  • Penguatan irigasi dan akses pupuk

“Tanpa pengawasan berkelanjutan dan dukungan nyata, petani akan terus kembali pada praktik lama yang kurang produktif,” ujar Alforque.

Dampak bagi Ketahanan Pangan

Temuan ini relevan bukan hanya bagi Filipina, tetapi juga negara agraris lain yang menghadapi persoalan serupa. Jika sektor pertanian skala kecil terus diabaikan, ketahanan pangan nasional bisa terancam.

Penelitian ini menegaskan bahwa solusi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga keberlanjutan kebijakan, pendampingan manusiawi, dan penghargaan terhadap petani sebagai garda depan pangan.

Profil Penulis

Jonemel M. Alforque, M.Ed.
Dosen dan peneliti bidang pendidikan dan pertanian berkelanjutan
Sacred Heart School – Ateneo de Cebu, Filipina

Fidel Y. Pleños
Peneliti pertanian komunitas
Sacred Heart School – Ateneo de Cebu

Sumber Penelitian

Alforque, J. M., & Pleños, F. Y. (2026). Practices and Challenges of Small-Scale Corn Farmers of Cebu.
Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics, Vol. 5 No. 1, hlm. 21–38.

Posting Komentar

0 Komentar