Motivasi, Kompetensi, dan Disiplin Jadi Penentu Produktivitas Karyawan PNM Lampung
Produktivitas karyawan di PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Lampung sangat ditentukan oleh kombinasi motivasi kerja, kompetensi, dan disiplin, dengan dukungan kepemimpinan, lingkungan kerja, sistem kompensasi, serta pemanfaatan teknologi. Temuan ini diungkap dalam artikel ilmiah karya Agus Dwi Anto dari Perbanas Institute Jakarta, yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Integrative Sciences. Studi ini penting karena PNM merupakan lembaga keuangan milik negara yang memegang peran strategis dalam pembiayaan usaha ultra mikro dan penguatan ekonomi masyarakat akar rumput.
Penelitian tersebut menyoroti tantangan nyata di lapangan, khususnya pada kinerja Account Officer (AO) sebagai garda terdepan layanan PNM. Di tengah ekspansi program Mekaar dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan masyarakat, produktivitas AO belum merata dan masih menunjukkan kesenjangan antarwilayah kerja.
Kesenjangan produktivitas di cabang Lampung
Data internal PNM Lampung per Agustus 2025 menunjukkan gambaran yang kontras. Dari 1.809 Account Officer aktif, hanya 1.588 AO yang tercatat menyalurkan pembiayaan. Lebih dari itu, sekitar 69,14 persen AO tergolong tidak produktif karena nilai penyaluran berada di bawah Rp160 juta. Hanya 30,86 persen yang memenuhi atau melampaui standar produktivitas perusahaan.
Perbedaan juga terlihat antarwilayah operasional. Beberapa wilayah di Lampung mencatat tingkat produktivitas di bawah 16 persen, sementara wilayah lain, termasuk Bengkulu, mampu mencapai lebih dari 38 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa persoalan produktivitas tidak semata-mata ditentukan oleh potensi pasar, melainkan oleh faktor sumber daya manusia dan manajerial.
Pendekatan kualitatif dari pengalaman lapangan
Untuk memahami akar masalah tersebut, Agus Dwi Anto menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menempatkan pengalaman kerja karyawan sebagai sumber utama analisis. Data dikumpulkan melalui:
a. Wawancara mendalam dengan Account Officer, kepala unit, dan staf administrasi
b. Observasi langsung aktivitas kerja, seperti briefing pagi, kunjungan lapangan, dan pelaporan
c. Analisis dokumen internal, termasuk laporan produktivitas dan standar operasional prosedur
Analisis data dilakukan secara bertahap dengan metode Miles dan Huberman, yang menekankan penyaringan informasi penting, penyajian data secara sistematis, dan penarikan kesimpulan berbasis verifikasi berulang.
Tiga faktor internal yang paling menentukan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas AO sangat dipengaruhi oleh tiga faktor internal utama yang saling terkait.
Agus Dwi Anto dari Perbanas Institute Jakarta menegaskan bahwa ketiga faktor ini tidak berdiri sendiri. Motivasi mendorong usaha, kompetensi menentukan kualitas hasil, dan disiplin menjaga kesinambungan kinerja. Jika salah satu melemah, produktivitas secara keseluruhan ikut menurun.
Peran faktor eksternal dalam memperkuat kinerja
Selain faktor internal, penelitian ini juga menyoroti pengaruh kuat faktor eksternal terhadap produktivitas organisasi.
a. Kepemimpinan yang inspiratif membantu memperjelas arah kerja dan meningkatkan moral tim.
b. Lingkungan kerja yang aman dan kondusif, baik secara fisik maupun psikologis, mendukung fokus dan kenyamanan kerja.
c. Sistem kompensasi yang adil dan berbasis kinerja memperkuat rasa keadilan dan motivasi.
d. Pemanfaatan teknologi dan sistem digital mempermudah proses kerja serta mengurangi beban administratif.
Kombinasi faktor-faktor ini membentuk ekosistem kerja yang menentukan apakah potensi karyawan dapat benar-benar diwujudkan dalam bentuk produktivitas.
Dampak bagi dunia usaha dan kebijakan
Temuan ini memiliki implikasi langsung bagi manajemen PT PNM dan lembaga keuangan sejenis. Peningkatan produktivitas tidak cukup dilakukan melalui target angka semata, tetapi membutuhkan strategi sumber daya manusia yang terintegrasi.
Penelitian ini merekomendasikan penguatan sistem insentif berbasis kinerja, pelatihan teknis yang berkelanjutan, serta peran aktif pimpinan unit dalam pembinaan dan pengawasan. Bagi pembuat kebijakan, studi ini menegaskan bahwa keberhasilan program pembiayaan mikro sangat bergantung pada kualitas dan produktivitas petugas lapangan.
Dengan memperkuat motivasi, kompetensi, dan disiplin secara simultan, lembaga keuangan mikro dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperluas dampak sosial bagi masyarakat.
Profil penulis
Agus Dwi Anto, S.E., M.M. Perbanas Institute Jakarta
0 Komentar