Pendidikan Ekonomi Konsumtif pada Anak (Studi Kasus Siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Padang, Sumatera Barat)

Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS- Padang

Pendidikan Ekonomi Konsumsi Remaja Padang Dinilai Belum Membentuk Perilaku Belanja Rasional

Anak-anak usia SMP di Kota Padang sudah mengenal konsep dasar ekonomi, seperti membedakan kebutuhan dan keinginan. Namun, pemahaman tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku konsumsi sehari-hari. Temuan ini diungkap oleh Sri Wahyuni bersama tim peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas PGRI Sumatera Barat dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada 2026. Penelitian ini penting karena mengungkap tantangan nyata pendidikan ekonomi di tengah gempuran budaya konsumtif dan pengaruh media digital pada remaja.

Riset berjudul “Consumption Economics Education in Children (Case Study of Junior High School Students in Padang City, West Sumatra)” tersebut dimuat dalam International Journal of Contemporary Sciences (IJCS), Vol. 4 No. 1 Tahun 2026. Penelitian ini menyoroti bagaimana pendidikan ekonomi konsumsi diajarkan, dipahami, dan dipraktikkan oleh siswa SMP di Padang, sebuah kota yang dikenal memiliki nilai budaya Minangkabau yang menjunjung kesederhanaan.

Remaja, Uang Jajan, dan Godaan Konsumsi

Perkembangan ekonomi dan teknologi informasi telah mengubah pola konsumsi masyarakat, termasuk remaja. Di usia SMP, anak mulai memiliki otonomi dalam mengambil keputusan ekonomi sederhana, seperti membelanjakan uang jajan atau memilih barang konsumsi. Sayangnya, kebebasan ini sering kali tidak dibarengi dengan kemampuan mengelola konsumsi secara rasional.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menggunakan uang jajannya untuk membeli makanan ringan, minuman kemasan, atau barang yang sedang tren di kalangan teman sebaya. Perencanaan belanja dan kebiasaan menabung masih rendah. Banyak siswa menghabiskan uang jajan segera setelah menerimanya, tanpa mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang.

Seorang siswa mengakui bahwa ia memahami konsep konsumsi yang benar, tetapi sulit menerapkannya. “Saya tahu seharusnya tidak boros, tapi dalam keseharian jarang dipraktikkan,” ungkapnya kepada peneliti. Pernyataan ini menggambarkan kesenjangan antara pengetahuan ekonomi dan perilaku nyata.

Metode Studi Kasus di Tiga SMP

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Tim peneliti melakukan riset selama empat bulan, dari Juli hingga Oktober 2025, di tiga SMP di Kota Padang. Sebanyak 40 informan terlibat, terdiri dari 28 siswa SMP sebagai informan utama serta 12 informan pendukung, yaitu guru IPS, orang tua, dan perwakilan kurikulum.

Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi perilaku konsumsi siswa di lingkungan sekolah, serta telaah dokumen kurikulum. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami secara utuh bagaimana pendidikan ekonomi konsumsi berlangsung di sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial.

Lima Temuan Utama Penelitian

Penelitian ini menghasilkan lima temuan penting:

  1. Pemahaman ekonomi bersifat teoritis. Sekitar 72 persen siswa memahami konsep dasar konsumsi, seperti kebutuhan dan keinginan. Namun, pemahaman ini belum terinternalisasi dalam pengambilan keputusan sehari-hari.
  2. Perilaku konsumsi dipengaruhi lingkungan sosial. Teman sebaya dan media sosial menjadi faktor dominan yang mendorong perilaku konsumtif, mulai dari makanan populer hingga fesyen.
  3. Peran sekolah masih terbatas. Pendidikan ekonomi diajarkan melalui mata pelajaran IPS, tetapi cenderung konvensional dan berfokus pada hafalan konsep, bukan praktik nyata.
  4. Keluarga berpengaruh besar, namun belum optimal. Orang tua memberi uang jajan secara rutin, tetapi jarang disertai edukasi pengelolaan keuangan atau diskusi tentang prioritas kebutuhan.
  5. Nilai budaya lokal belum dimanfaatkan maksimal. Budaya Minangkabau yang menekankan kesederhanaan dan kebersamaan belum terintegrasi secara sistematis dalam pembelajaran ekonomi.

Menurut Sri Wahyuni, kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan ekonomi konsumsi perlu diarahkan pada pembelajaran kontekstual. “Anak-anak perlu belajar dari pengalaman nyata, bukan hanya dari buku teks,” tulisnya dalam artikel tersebut.

Sekolah dan Keluarga Perlu Berkolaborasi

Implikasi penelitian ini sangat relevan bagi dunia pendidikan dan kebijakan publik. Sekolah disarankan mengembangkan metode pembelajaran yang lebih aplikatif, seperti simulasi pengelolaan uang jajan, studi kasus belanja siswa, atau proyek sederhana yang melibatkan perencanaan keuangan.

Guru IPS diharapkan tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga menjadi fasilitator yang membantu siswa mengaitkan konsep ekonomi dengan kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, keluarga memiliki peran kunci sebagai lingkungan pertama anak dalam belajar konsumsi. Orang tua perlu memberi contoh perilaku belanja yang bijak dan membiasakan anak menabung serta berdiskusi tentang kebutuhan dan keinginan.

Penelitian ini juga menekankan pentingnya memasukkan nilai budaya lokal dalam pendidikan ekonomi. Nilai kesederhanaan Minangkabau dinilai masih relevan sebagai fondasi pembentukan karakter konsumsi yang rasional di tengah arus konsumerisme modern.

Dampak Jangka Panjang bagi Generasi Muda

Jika pendidikan ekonomi konsumsi tidak diperkuat sejak dini, perilaku konsumtif berisiko terbawa hingga dewasa. Sebaliknya, literasi ekonomi yang baik dapat membantu generasi muda membuat keputusan finansial yang lebih bijak, menghindari pemborosan, dan mempersiapkan masa depan ekonomi yang sehat.

Studi ini memberi pesan jelas bagi pembuat kebijakan pendidikan: literasi ekonomi tidak cukup diajarkan secara teoritis. Dibutuhkan pendekatan yang membumi, melibatkan sekolah, keluarga, dan budaya lokal agar anak mampu menerapkan pengetahuan ekonomi dalam kehidupan nyata.

Profil Penulis

Sri Wahyuni, S.E., M.E. adalah dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas PGRI Sumatera Barat dengan keahlian di bidang pendidikan ekonomi dan literasi keuangan. Penelitian ini ditulis bersama Jimi Ronald, Vivina Eprillison, Mona Amelia, dan Stevani, yang juga berasal dari fakultas yang sama dan memiliki minat riset pada perilaku ekonomi dan pendidikan.

Sumber Penelitian

Wahyuni, S., Ronald, J., Eprillison, V., Amelia, M., & Stevani. (2026). Consumption Economics Education in Children (Case Study of Junior High School Students in Padang City, West Sumatra). International Journal of Contemporary Sciences, Vol. 4 No. 1, 825–840.

Posting Komentar

0 Komentar