![]() |
| Ilustrasi by AI |
Pelatihan Sabun Cuci Piring Dorong Ibu Rumah Tangga Rumbai Bangun Usaha Mandiri
Sekelompok dosen dari Universitas Persada Bunda Indonesia dan Universitas Muhammadiyah Jakarta membuktikan bahwa pelatihan sederhana bisa berdampak besar bagi ekonomi keluarga. Pada 2025, mereka menggelar program pelatihan pembuatan sabun cuci piring bagi sekitar 100 ibu rumah tangga di Kecamatan Rumbai, Pekanbaru. Hasilnya, para peserta tidak hanya mampu memproduksi sabun sendiri, tetapi juga melihat peluang nyata untuk menjadikannya usaha rumahan yang berkelanjutan.
Program ini digagas oleh Nia Anggraini, Erfa Okta Lussianda, Liga Febrina dari Universitas Persada Bunda Indonesia, bersama Muhammad Adrian dari Universitas Muhammadiyah Jakarta. Kegiatan tersebut dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Society Development Vol. 4 No. 6 tahun 2025. Temuan mereka penting karena menunjukkan bagaimana keterampilan praktis berbiaya rendah dapat menjadi pintu masuk pemberdayaan ekonomi perempuan, khususnya ibu rumah tangga dengan akses terbatas ke pekerjaan formal.
Masalah ekonomi rumah tangga dan potensi yang terabaikan
Di banyak wilayah perkotaan dan pinggiran kota Indonesia, ibu rumah tangga sebenarnya memiliki motivasi tinggi untuk membantu ekonomi keluarga. Namun, keterbatasan modal, minimnya keterampilan teknis, serta kurangnya pengetahuan memilih usaha yang aman dan stabil sering menjadi penghambat. Kondisi inilah yang ditemui tim peneliti di Rumbai, salah satu kecamatan di Kota Pekanbaru.
Padahal, ada jenis usaha yang relatif mudah dipelajari, membutuhkan modal kecil, dan pasarnya hampir selalu ada. Salah satunya adalah produksi sabun cuci piring skala rumah tangga. Produk ini digunakan setiap hari, bahan bakunya mudah didapat, dan proses pembuatannya aman jika dilakukan dengan panduan yang tepat. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap produksi sabun sebagai sesuatu yang rumit dan identik dengan keahlian kimia tingkat tinggi.
Pelatihan singkat, pendekatan praktis
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim dosen merancang program pengabdian masyarakat berbasis praktik. Kegiatan dilaksanakan di aula serbaguna Kecamatan Rumbai dalam satu hari penuh, dengan rangkaian yang padat namun aplikatif.
Pelatihan diawali dengan sesi penyuluhan singkat tentang kewirausahaan dan peluang usaha rumahan. Bahasa yang digunakan dibuat sederhana agar mudah dipahami, tanpa istilah akademik yang rumit. Setelah itu, peserta langsung diajak ke sesi praktik pembuatan sabun cuci piring.
Para ibu rumah tangga dibagi ke dalam kelompok kecil. Mereka diperkenalkan pada bahan baku, alat sederhana, serta langkah-langkah produksi mulai dari pencampuran hingga pengemasan. Tim pelaksana juga menyisipkan materi tentang keamanan kerja, pengemasan menarik, dan dasar penetapan harga.
Metode ini sengaja dipilih agar peserta tidak hanya “tahu”, tetapi juga “bisa”. Diskusi interaktif dilakukan sepanjang kegiatan, memberi ruang bagi peserta untuk bertanya, berbagi pengalaman, dan mendiskusikan tantangan jika usaha ini dijalankan dari rumah.
Hasil: antusiasme tinggi dan keterampilan nyata
Hasil pelatihan menunjukkan respons yang sangat positif. Hampir seluruh peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir dengan tingkat kehadiran penuh. Observasi tim menunjukkan peserta aktif bertanya, terlibat langsung dalam proses produksi, dan mampu menyelesaikan pembuatan sabun cuci piring secara mandiri.
Evaluasi pasca-kegiatan, melalui pengamatan dan kuesioner sederhana, memperlihatkan peningkatan pemahaman peserta tentang kewirausahaan dan peluang usaha rumahan. Lebih penting lagi, sebagian besar peserta menyatakan percaya diri untuk mencoba memproduksi sabun sendiri di rumah, baik untuk kebutuhan pribadi maupun untuk dijual.
Menurut Liga Febrina, dosen Universitas Persada Bunda Indonesia sekaligus penulis korespondensi artikel tersebut, pendekatan berbasis praktik menjadi kunci keberhasilan program. Ia menilai bahwa pelatihan yang langsung melibatkan peserta dalam proses produksi mampu menghilangkan anggapan bahwa usaha tertentu terlalu sulit untuk dijalankan oleh ibu rumah tangga.
Dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan tidak selalu harus dimulai dari program besar dan kompleks. Pelatihan sederhana, jika dirancang sesuai kebutuhan dan konteks lokal, dapat membuka jalan bagi lahirnya usaha mikro baru.
Bagi keluarga, usaha sabun cuci piring skala rumah tangga berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan yang stabil. Bagi komunitas, munculnya usaha-usaha kecil semacam ini dapat menggerakkan ekonomi lokal dan mengurangi ketergantungan pada pekerjaan informal berupah rendah.
Dari sisi kebijakan publik, model pelatihan ini bisa direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik sosial ekonomi serupa. Program ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan pemangku kepentingan lokal dalam menciptakan dampak nyata.
Model yang bisa direplikasi
Para penulis merekomendasikan agar program serupa dilakukan secara berkelanjutan, tidak berhenti pada satu kali pelatihan. Pendampingan lanjutan, materi tambahan seperti pengelolaan keuangan sederhana dan pemasaran digital, serta dukungan akses permodalan dinilai akan memperkuat keberlanjutan usaha peserta.
Dengan pendekatan yang tepat, pelatihan berbasis kebutuhan seperti ini dapat menjadi strategi efektif untuk membangun kemandirian ekonomi ibu rumah tangga, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga di tingkat akar rumput.

0 Komentar