Kepuasan Pelanggan Apotek di Surakarta Dinilai Tinggi, Studi Ungkap Strategi Peningkatan Layanan

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Surakarta - Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Setia Budi Surakarta mengungkap bahwa tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan farmasi di Apotek Cahaya Sehat Nusukan tergolong sangat tinggi. Studi yang dilakukan oleh Hari Waluyo, Jason Merari Peranginangin, dan Lucia Vita Inandha Dewi ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan farmasi memiliki peran penting dalam membentuk kepuasan konsumen, sekaligus menentukan daya saing apotek di tengah persaingan layanan kesehatan yang semakin ketat.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research Vol. 5 No. 1 tahun 2026 ini menggunakan pendekatan Service Quality Plus (SERVQUAL+) yang dipadukan dengan analisis SWOT. Riset dilakukan sepanjang tahun 2025 dengan melibatkan 301 responden yang merupakan pelanggan Apotek Cahaya Sehat Nusukan, Surakarta.

Kepuasan Konsumen Mencapai 94,49 Persen

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pelanggan mencapai 94,49 persen, angka yang mencerminkan tingkat kepuasan yang sangat tinggi. Namun, meskipun secara umum pelanggan merasa puas, masih ditemukan sedikit kesenjangan antara harapan dan kenyataan layanan, dengan nilai gap sebesar -0,06. Artinya, layanan yang diterima hampir memenuhi ekspektasi pelanggan, namun masih ada ruang untuk perbaikan.

Menurut peneliti, kepuasan ini dipengaruhi oleh sembilan dimensi layanan yang dianalisis melalui metode SERVQUAL+, yaitu bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, peran apoteker, harga obat, kemudahan pembayaran, serta layanan pengantaran obat.

“Secara umum, pelanggan menilai layanan apotek ini sudah sangat baik, terutama dari sisi profesionalitas tenaga farmasi dan ketersediaan obat,” tulis peneliti dalam laporan studinya.

SWOT Menempatkan Apotek pada Posisi Strategis

Analisis SWOT menunjukkan bahwa Apotek Cahaya Sehat Nusukan berada pada Kuadran I, yang berarti memiliki kekuatan internal dan peluang eksternal yang besar. Skor IFAS sebesar 0,80 dan EFAS sebesar 0,90 menandakan posisi strategis yang sangat menguntungkan.

Beberapa kekuatan utama yang ditemukan antara lain:

  • Tenaga farmasi yang kompeten dan ramah
  • Ketersediaan obat yang relatif lengkap
  • Lokasi apotek yang mudah dijangkau

Sementara itu, peluang terbesar datang dari meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan, termasuk tren swamedikasi dan potensi digitalisasi layanan farmasi.

Namun, penelitian ini juga mengungkap sejumlah tantangan, seperti:

  • Kecepatan pelayanan yang masih perlu ditingkatkan
  • Komunikasi antara petugas dan pelanggan yang belum optimal
  • Persaingan antar-apotek yang semakin ketat

Mayoritas Pelanggan Perempuan Usia Produktif

Dari sisi karakteristik responden, mayoritas pelanggan adalah perempuan (58 persen) dengan rentang usia terbanyak 31–40 tahun. Kelompok ini dinilai paling aktif dalam mengakses layanan kesehatan, baik untuk diri sendiri maupun keluarga.

Sebagian besar responden berpendidikan SMA dan bekerja sebagai karyawan swasta. Kondisi ini mencerminkan bahwa apotek menjadi pilihan utama masyarakat produktif yang membutuhkan layanan kesehatan cepat dan praktis, terutama bagi mereka yang tidak selalu menggunakan layanan BPJS.

Pentingnya Peran Apoteker

Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah besarnya pengaruh peran apoteker terhadap kepuasan pelanggan. Konsumen menilai bahwa penjelasan obat, keramahan, serta kesediaan apoteker memberikan konsultasi menjadi faktor utama yang menentukan kepuasan.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa layanan farmasi saat ini tidak lagi sekadar menjual obat, tetapi mencakup edukasi, komunikasi, dan pendampingan pasien dalam penggunaan obat yang aman dan tepat.

Rekomendasi: Digitalisasi dan Peningkatan Layanan Personal

Berdasarkan hasil analisis, peneliti merekomendasikan beberapa langkah strategis untuk meningkatkan kualitas layanan, antara lain:

  • Meningkatkan kecepatan pelayanan tanpa mengurangi kualitas
  • Memperkuat komunikasi antara apoteker dan pelanggan
  • Mengembangkan layanan digital seperti pemesanan obat online atau konsultasi daring
  • Melakukan pelatihan rutin bagi tenaga farmasi
  • Mengoptimalkan strategi pemasaran berbasis kekuatan internal apotek

Langkah-langkah ini dinilai penting untuk menjaga loyalitas pelanggan sekaligus meningkatkan daya saing apotek di era digital.

Kontribusi bagi Dunia Farmasi

Penelitian ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana kualitas pelayanan farmasi berperan langsung terhadap kepuasan konsumen. Hasilnya dapat menjadi acuan bagi pengelola apotek, praktisi farmasi, hingga pembuat kebijakan dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan berbasis komunitas.

Selain itu, studi ini juga membuka peluang penelitian lanjutan, khususnya terkait pengaruh transformasi digital terhadap kepuasan pelanggan dan loyalitas jangka panjang.

Profil Penulis

Hari Waluyo, S.Farm
Dosen dan peneliti di Fakultas Farmasi, Universitas Setia Budi Surakarta. Fokus penelitian pada manajemen pelayanan farmasi dan kepuasan pasien.

Jason Merari Peranginangin
Akademisi di bidang farmasi klinik dengan minat pada evaluasi mutu layanan kesehatan.

Lucia Vita Inandha Dewi
Peneliti farmasi yang aktif mengkaji sistem pelayanan dan manajemen apotek.

Sumber Penelitian

Waluyo, H., Peranginangin, J. M., & Dewi, L. V. I. (2026).
Analysis of Consumer Satisfaction with the Quality of Pharmaceutical Services at Cahaya Sehat Nusukan Pharmacy Using SERVQUAL+ and SWOT Analysis.
Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 1, 43–56.

Posting Komentar

0 Komentar