Penelitian ini penting karena telemedicine kini menjadi tulang punggung layanan kesehatan, terutama sejak pandemi COVID-19. Bagi pasien dengan penyakit kronis—yang membutuhkan kontrol rutin dan pemantauan jangka panjang—layanan digital memang memudahkan. Namun, di balik kemudahan itu, muncul tekanan kognitif dan emosional akibat interaksi virtual yang berulang, tuntutan teknologi, serta minimnya sentuhan manusia dalam relasi pasien–tenaga kesehatan.
Dari solusi menjadi sumber kelelahan
Telemedicine awalnya dipuji sebagai solusi atas keterbatasan jarak, waktu, dan biaya. Konsultasi cukup dilakukan lewat ponsel atau laptop, tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan. Namun, menurut Hardin dan tim, penggunaan yang terlalu sering justru memicu “digital fatigue” atau kelelahan digital.
Dalam konteks kesehatan, kelelahan digital bukan sekadar mata lelah atau bosan menatap layar. Ia mencakup penurunan motivasi, kejenuhan proses digital, beban mental saat memahami informasi medis secara daring, hingga kecenderungan menunda konsultasi. Kondisi ini berisiko menurunkan kualitas perawatan jangka panjang bagi pasien kronis.
Mendengar langsung suara pasien
Riset ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggali pengalaman langsung pengguna telemedicine. Sebanyak 12 informan dilibatkan, terdiri dari 10 pasien penyakit kronis yang telah menggunakan telemedicine secara rutin minimal tiga bulan, serta dua tenaga kesehatan sebagai pembanding.
Melalui wawancara mendalam selama 45–60 menit, para peneliti mengumpulkan cerita tentang bagaimana pasien menjalani konsultasi daring, menghadapi teknologi, dan merasakan dampaknya secara mental maupun emosional. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menangkap pengalaman subjektif yang sering luput dalam survei kuantitatif.
Temuan utama: lelah secara kognitif dan emosional
Hasil penelitian menunjukkan beberapa pemicu utama kelelahan digital pada pasien kronis:
1. Frekuensi penggunaan yang tinggi
Konsultasi rutin setiap bulan, bahkan lebih sering, membuat pasien merasa jenuh. Konsultasi virtual menuntut fokus lebih besar dibanding tatap muka karena pasien harus memahami instruksi medis sambil beradaptasi dengan layar dan aplikasi.
2. Beban kognitif selama konsultasi daring
Pasien merasa harus “berpikir lebih keras” untuk menangkap penjelasan dokter. Keterbatasan bahasa tubuh dan ekspresi nonverbal membuat komunikasi terasa kurang natural dan melelahkan.
3. Minimnya interaksi emosional
Banyak pasien merasakan hilangnya kedekatan dan dukungan emosional. Hubungan terapeutik terasa lebih dingin karena tidak ada kontak langsung, tatapan mata, atau bahasa tubuh yang biasanya menenangkan.
4. Hambatan teknis yang berulang
Gangguan koneksi internet, suara terputus, aplikasi yang tidak responsif, hingga harus berganti perangkat, menambah rasa frustrasi. Masalah teknis ini memperbesar beban mental dan menguras energi pasien.
Hardin mencatat bahwa kelelahan ini bersifat akumulatif. “Bukan hanya durasi penggunaan, tetapi tuntutan mental dan emosional yang terus berulang membuat pasien merasa jenuh,” jelasnya dalam analisis penelitian.
Dampak nyata pada keterlibatan pasien
Kelelahan digital berdampak langsung pada keterlibatan pasien dalam perawatan. Beberapa pasien mengaku menunda jadwal konsultasi karena merasa terlalu jenuh dengan layar. Ada pula yang mengikuti konsultasi dengan motivasi rendah, sekadar menggugurkan kewajiban.
Meski demikian, hampir semua informan tetap mengakui manfaat telemedicine. Akses yang mudah dan efisiensi waktu membuat layanan ini masih dipilih, terutama bagi pasien dengan keterbatasan mobilitas atau jarak. Situasi ini menunjukkan dilema: telemedicine dibutuhkan, tetapi sekaligus melelahkan.
Strategi adaptasi dari pasien dan tenaga kesehatan
Menariknya, penelitian ini juga menemukan berbagai strategi adaptasi. Pasien mulai mengatur jeda sebelum konsultasi, memilih waktu yang lebih nyaman, atau meminta sesi yang lebih singkat. Sebagian tenaga kesehatan merespons dengan memberikan penjelasan lebih terstruktur, ringkasan tertulis, atau pendekatan komunikasi yang lebih empatik.
Menurut Aliah Bagus Purwakania Hasan dari Universitas Al Azhar Indonesia, adaptasi ini penting agar telemedicine tetap berkelanjutan. “Tanpa penyesuaian, kelelahan digital bisa menggerus kepatuhan pasien dalam jangka panjang,” ujarnya.
Implikasi bagi layanan kesehatan dan kebijakan publik
Temuan ini membawa pesan penting bagi pengembang platform kesehatan, fasilitas layanan, dan pembuat kebijakan. Telemedicine tidak cukup dinilai dari sisi teknologi dan efisiensi saja. Aspek psikologis dan emosional pasien harus menjadi bagian dari desain layanan.
Peneliti merekomendasikan pendekatan yang lebih berpusat pada manusia, antara lain:
· penyederhanaan antarmuka aplikasi,
· fleksibilitas jadwal konsultasi,
· dukungan teknis yang responsif,
· serta model layanan hibrida yang mengombinasikan konsultasi daring dan tatap muka.
Langkah-langkah ini dinilai mampu menekan kelelahan digital sekaligus menjaga kualitas perawatan penyakit kronis.
Profil singkat penulis
Hardin, S.Kep., Ns., M.Kep.
Dosen dan peneliti di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kamus Arunika. Fokus pada keperawatan komunitas dan layanan kesehatan digital.
Aliah Bagus Purwakania Hasan, S.Psi., M.Psi.
Akademisi Universitas Al Azhar Indonesia dengan keahlian psikologi kesehatan dan perilaku pengguna teknologi.
Imran Yaman, S.Kep., Ns., M.Kep.
Dosen STIKES Marendeng Majene, meneliti keperawatan medikal-bedah dan inovasi layanan kesehatan.
Sumber penelitian
Hardin, Hasan, A.B.P., & Yaman, I. (2026). Patient Perceptions of Digital Fatigue in the Use of Telemedicine During Routine Chronic Care. Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5 No. 1, 1–12.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i1.367
0 Komentar