Penelitian ini relevan di tengah meningkatnya kebutuhan remaja akan ruang belajar yang fleksibel, kolaboratif, dan tidak kaku seperti sekolah formal. Banyak remaja mencari tempat aman untuk berekspresi, berbagi minat, dan belajar bersama teman sebaya. Namun, proses belajar yang terjadi di ruang-ruang komunitas ini sering dianggap “tidak terlihat” karena tidak mengikuti struktur kurikulum atau sistem penilaian resmi.
Para peneliti menemukan bahwa justru di balik ketidakteraturan itulah terdapat jejaring belajar tersembunyi—pola hubungan sosial yang memungkinkan pengetahuan mengalir cepat, alami, dan bermakna bagi remaja.
Belajar dari Relasi Sosial, Bukan Bangku Kelas
Studi ini berangkat dari pengamatan bahwa pendidikan formal sering kali belum sepenuhnya mengakomodasi kebutuhan perkembangan sosial dan emosional remaja. Di ruang komunitas, remaja belajar melalui interaksi sehari-hari: ngobrol santai, mengerjakan proyek kecil bersama, atau sekadar berbagi pengalaman.
Alih-alih ruang kelas dengan guru sebagai pusat, ruang komunitas berfungsi sebagai ekosistem sosial. Remaja bebas memilih aktivitas berdasarkan minat, membangun relasi setara, dan belajar tanpa tekanan nilai. Dalam konteks inilah jejaring belajar tersembunyi terbentuk.
Metode Penelitian yang Membumi
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus. Tim peneliti mewawancarai enam remaja aktif dan dua fasilitator komunitas, melakukan observasi partisipatif selama empat minggu, serta menelaah dokumen kegiatan komunitas.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti menangkap dinamika interaksi secara langsung, termasuk percakapan spontan dan kolaborasi informal yang biasanya tidak tercatat dalam laporan program pendidikan.
Tiga Temuan Utama Penelitian
Dari analisis data, peneliti mengidentifikasi tiga pola kunci dalam jejaring belajar remaja di ruang komunitas.
Pertama, peran aktor kunci sebagai penghubung. Dalam setiap komunitas, selalu ada beberapa remaja yang berperan sebagai “penghubung alami”. Mereka bukan pemimpin resmi, tetapi aktif mengajak, menghubungkan, dan membuka akses bagi anggota lain. Sosok ini memudahkan remaja baru beradaptasi dan membuat arus pengetahuan tetap hidup.
Salah satu remaja menggambarkan proses ini sebagai belajar tanpa paksaan, karena ajakan datang dari teman sebaya yang dipercaya.
Kedua, kolaborasi berbasis minat sebagai pemicu belajar. Interaksi paling produktif muncul dari kesamaan minat, seperti seni, teknologi, desain, atau kegiatan sosial. Dari minat yang sama, percakapan berkembang menjadi ide, lalu menjadi proyek kecil yang mendorong pembelajaran mendalam. Fasilitator komunitas menegaskan bahwa peran mereka hanya menyediakan ruang—remaja sendiri yang menentukan apa dan dengan siapa mereka belajar.
Ketiga, aliran pengetahuan melalui interaksi spontan. Pengetahuan tidak berpindah lewat sesi formal, melainkan melalui obrolan santai, berbagi cerita, dan praktik langsung. Bahkan percakapan singkat bisa memicu pemahaman baru. Lingkungan yang aman dan saling percaya membuat remaja berani bertanya, mencoba, dan berbagi tanpa takut dinilai.
Dampak Nyata bagi Remaja dan Pendidikan
Temuan ini menunjukkan bahwa ruang edukasi komunitas mampu memperkuat agensi, kreativitas, dan modal sosial remaja. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan praktis, tetapi juga membangun kepercayaan diri, kemampuan kolaborasi, dan rasa memiliki terhadap komunitas.
Bagi dunia pendidikan, hasil ini menegaskan bahwa belajar tidak selalu harus terstruktur ketat untuk efektif. Jejaring belajar informal dapat menjadi pelengkap penting pendidikan formal, terutama bagi remaja yang merasa kurang terfasilitasi di sekolah.
Bagi pembuat kebijakan dan pengelola komunitas, penelitian ini memberi pesan jelas: mendukung ruang belajar berbasis komunitas berarti berinvestasi pada model pendidikan yang lebih inklusif dan adaptif.
Catatan Kritis dan Tantangan
Meski berdampak positif, penelitian ini juga mencatat tantangan. Ketergantungan pada beberapa aktor kunci membuat jejaring rentan jika mereka tidak lagi aktif. Selain itu, karena proses belajar sangat organik, hasil yang diperoleh setiap remaja bisa berbeda.
Peneliti menyarankan pengembangan mekanisme pendampingan yang tetap menjaga fleksibilitas, seperti rotasi peran atau penguatan mentoring sebaya, agar kesempatan belajar lebih merata.
Profil Singkat Penulis
· Sodikin, M.Pd. – Dosen dan peneliti pendidikan komunitas, Universitas Muhammadiyah Jakarta.
· Khermarinah, M.Pd. – Akademisi pendidikan Islam dan nonformal, UIN Fatmawati Soekarno Bengkulu.
· Antaris Fahrisani, M.Pd. – Pengajar dan praktisi pendidikan vokasi, Politeknik Pelayaran Banten.
· Aliah Bagus Purwakania Hasan, Ph.D. – Dosen psikologi pendidikan dan perkembangan remaja, Universitas Al Azhar Indonesia.
Sumber Penelitian
Judul artikel: Unpacking Hidden Learning Networks Among Adolescents in Community Driven Educational Spaces
Jurnal: Asian Journal of Applied Education
Volume & Nomor: Vol. 5, No. 1 (2026), hlm. 1–14
DOI: https://doi.org/10.55927/ajae.v5i1.15935
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajae
0 Komentar