Infeksi Saraf Mata akibat Herpes Zoster Mengancam Penglihatan Lansia
Seorang peneliti dari Universitas Malikussaleh melaporkan kasus infeksi Herpes Zoster Ophthalmicus (HZO) pada perempuan usia 60 tahun yang menyebabkan peradangan serius pada mata dan penurunan tajam penglihatan. Laporan kasus ini ditulis oleh Arsyiva Putri Azhari bersama Mila Karmila dari Universitas Malikussaleh dan dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Integrative Sciences (IJIS). Temuan ini menegaskan pentingnya deteksi dini herpes zoster yang menyerang area wajah karena dapat berujung pada gangguan penglihatan permanen bila terlambat ditangani.
Herpes Zoster Ophthalmicus merupakan reaktivasi virus varicella-zoster, virus yang sama penyebab cacar air, yang kembali aktif setelah bertahun-tahun “tidur” di dalam saraf. Pada kasus HZO, virus menyerang cabang saraf trigeminus yang berhubungan langsung dengan mata. Kondisi ini paling sering dialami oleh kelompok usia lanjut dan individu dengan daya tahan tubuh menurun.
Kasus Nyata di Aceh
Dalam laporan yang dimuat IJIS, Arsyiva Putri Azhari dan Mila Karmila memaparkan kondisi seorang perempuan berusia 60 tahun, ibu rumah tangga, yang datang dengan keluhan nyeri hebat di sekitar mata kanan, ruam lepuh di wajah kanan, mata merah, serta penglihatan yang mulai kabur. Keluhan tersebut sebenarnya telah muncul sekitar dua minggu sebelum pemeriksaan, namun pasien belum mendapatkan terapi antivirus sejak awal.
Pemeriksaan mata menunjukkan adanya peradangan pada selaput mata, kerusakan kornea berupa keratitis pseudodendritik, infiltrat kornea, serta dugaan uveitis anterior, yaitu peradangan pada bagian dalam mata. Dokter juga menemukan Hutchinson’s sign, yakni ruam lepuh pada area hidung yang dikenal sebagai penanda kuat keterlibatan saraf mata dan risiko komplikasi okular yang lebih berat.
“Hutchinson’s sign sering menjadi sinyal peringatan dini bahwa herpes zoster tidak hanya menyerang kulit, tetapi juga struktur mata,” tulis penulis dalam laporannya.
Mengapa HZO Berbahaya?
Secara global, sekitar 10–20 persen kasus herpes zoster berkembang menjadi Herpes Zoster Ophthalmicus. Dari jumlah tersebut, 50–70 persen mengalami keterlibatan mata, mulai dari iritasi ringan hingga kerusakan serius yang mengancam penglihatan. Tanpa penanganan cepat, pasien berisiko mengalami nyeri saraf berkepanjangan, jaringan parut pada kornea, hingga kebutaan permanen.
Dalam kasus ini, hasil pemeriksaan laboratorium pasien relatif normal. Hal ini menunjukkan bahwa HZO tidak selalu disertai kelainan darah yang mencolok, sehingga diagnosis sangat bergantung pada gejala klinis dan pemeriksaan mata yang teliti.
Penanganan dan Hasil Terapi
Pasien didiagnosis menderita Herpes Zoster Ophthalmicus dengan komplikasi keratitis dan uveitis anterior pada mata kanan. Tim medis kemudian memberikan terapi antivirus sistemik berupa acyclovir, disertai salep mata antibiotik, tetes mata pelumas, serta perawatan lesi kulit secara lokal.
Meski pasien datang terlambat—lebih dari 72 jam sejak munculnya ruam—pemberian terapi tetap penting untuk menekan perburukan kondisi dan mencegah komplikasi lanjutan. Penulis menekankan bahwa waktu adalah faktor krusial dalam penanganan HZO. Terapi antivirus yang diberikan dalam tiga hari pertama sejak munculnya ruam terbukti secara signifikan menurunkan risiko kerusakan mata dan nyeri saraf pascaherpes.
Pelajaran Penting bagi Masyarakat
Laporan kasus ini membawa pesan kuat bagi masyarakat dan tenaga kesehatan. Nyeri wajah unilateral yang disertai ruam lepuh, terutama pada usia lanjut, tidak boleh dianggap sepele. Jika keluhan melibatkan area sekitar mata, pemeriksaan dokter mata menjadi keharusan.
Bagi dunia kesehatan, kasus ini menyoroti pentingnya edukasi pasien mengenai herpes zoster dan komplikasinya. Bagi pembuat kebijakan, temuan ini dapat memperkuat urgensi program pencegahan, termasuk vaksinasi herpes zoster pada kelompok usia lanjut untuk menurunkan angka kejadian dan komplikasi berat.
“Deteksi dini dan terapi yang tepat dapat menjadi pembeda antara pemulihan penglihatan dan kehilangan penglihatan permanen,” tegas Arsyiva Putri Azhari dalam pembahasannya.
Dampak bagi Praktik Klinis
Penelitian ini juga relevan bagi dokter layanan primer. Banyak pasien herpes zoster pertama kali datang ke fasilitas kesehatan dasar. Pemahaman bahwa ruam di wajah, terutama yang mendekati hidung dan mata, berpotensi menjadi HZO dapat mempercepat rujukan dan menyelamatkan fungsi penglihatan pasien.
Selain itu, laporan ini menegaskan bahwa HZO tidak selalu terbatas pada satu cabang saraf klasik. Pada kasus ini, meski ruam awal berada di area wajah yang tidak langsung berhubungan dengan mata, komplikasi okular tetap terjadi.
Profil Penulis
Keduanya aktif menulis laporan kasus klinis sebagai upaya memperkaya literatur medis dan meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang berpotensi berdampak besar pada kualitas hidup pasien.
0 Komentar