Penelitian ini penting karena sektor kesehatan di Indonesia tengah mengalami ekspansi pesat, namun di sisi lain menghadapi masalah serius berupa tingginya turnover tenaga kerja, terutama di klinik swasta. Data nasional menunjukkan tingkat turnover tenaga kesehatan bisa melampaui sektor industri lainnya. Kondisi ini berisiko mengganggu stabilitas layanan dan mutu pelayanan pasien jika tidak ditangani dengan kebijakan sumber daya manusia yang tepat.
Lonjakan Klinik, Tantangan SDM Meningkat
Dalam dua dekade terakhir, jumlah klinik di Indonesia meningkat signifikan seiring kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan yang mudah dijangkau. Namun, pertumbuhan fasilitas tidak selalu sejalan dengan kesiapan manajemen sumber daya manusia. Klinik swasta, sebagai organisasi mandiri, sering menghadapi keterbatasan anggaran, beban kerja tinggi, dan sistem kompensasi yang belum merata.
Klinik Mitra Medika Tambakan sendiri mencatat peningkatan tingkat pengunduran diri pegawai dari 14,72 persen pada 2019 menjadi 27,59 persen pada 2023. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa ada persoalan mendasar dalam pengelolaan tenaga kerja, baik dari sisi kepemimpinan, motivasi, maupun kesejahteraan karyawan.
Meneliti Hubungan Kepemimpinan, Gaji, dan Motivasi
Penelitian ini melibatkan 126 karyawan, terdiri dari tenaga medis dan nonmedis. Para peneliti menggunakan survei persepsi karyawan dan menganalisisnya dengan pendekatan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (PLS-SEM). Metode ini memungkinkan peneliti melihat pengaruh langsung maupun tidak langsung antarvariabel secara komprehensif.
Fokus utama penelitian adalah empat variabel kunci: gaya kepemimpinan, kompensasi, motivasi kerja, dan turnover intention atau niat karyawan untuk keluar dari organisasi.
Temuan Utama Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan pola yang menarik dan tidak selalu sejalan dengan asumsi umum. Beberapa temuan penting antara lain:
Padma Sari Sanjaya menjelaskan bahwa temuan ini menunjukkan kompleksitas perilaku karyawan di sektor kesehatan. “Kompensasi bukan satu-satunya jawaban. Tanpa motivasi kerja yang kuat dan kepemimpinan yang sehat, karyawan tetap berpotensi meninggalkan organisasi,” tulisnya dalam publikasi tersebut.
Dampak bagi Manajemen Klinik dan Kebijakan Publik
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi pengelola klinik, rumah sakit swasta, dan pembuat kebijakan. Strategi mempertahankan tenaga kesehatan tidak bisa hanya berfokus pada kenaikan gaji, tetapi juga harus menyentuh kualitas kepemimpinan, iklim kerja, dan faktor psikologis karyawan.
Bagi manajemen klinik, hasil penelitian ini mendorong perlunya:
- pelatihan kepemimpinan yang lebih humanis dan responsif,
- sistem kompensasi yang transparan dan adil,
- serta kebijakan internal yang mampu menjaga motivasi dan keterikatan karyawan.
Dalam konteks pelayanan publik, stabilitas tenaga kesehatan berkontribusi langsung terhadap keselamatan pasien dan keberlanjutan layanan kesehatan di daerah.
Keterbatasan dan Arah Riset Lanjutan
Penelitian ini dilakukan pada satu klinik dengan pendekatan potret sesaat (cross-sectional). Penulis merekomendasikan penelitian lanjutan dengan cakupan institusi yang lebih luas, metode longitudinal, serta penambahan variabel lain seperti stres kerja, work-life balance, dan kepuasan kerja untuk memperkaya pemahaman tentang dinamika turnover tenaga kesehatan.

0 Komentar