Gaya Kepemimpinan dan Kompensasi Pengaruhi Niat Pegawai Klinik untuk Resign

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Jawa Barat - Tingginya angka keluar-masuk pegawai di klinik kesehatan swasta kembali menjadi sorotan. Penelitian terbaru yang dilakukan Padma Sari Sanjaya, PM. Budi Haryono, dan Fushen F dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), Jakarta, mengungkap bahwa gaya kepemimpinan dan kompensasi memainkan peran berbeda dalam membentuk niat karyawan untuk meninggalkan tempat kerja. Studi ini dilakukan pada tahun 2025 di Klinik Mitra Medika Tambakan, Kabupaten Subang, dan dipublikasikan pada 2026 dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research.

Penelitian ini penting karena sektor kesehatan di Indonesia tengah mengalami ekspansi pesat, namun di sisi lain menghadapi masalah serius berupa tingginya turnover tenaga kerja, terutama di klinik swasta. Data nasional menunjukkan tingkat turnover tenaga kesehatan bisa melampaui sektor industri lainnya. Kondisi ini berisiko mengganggu stabilitas layanan dan mutu pelayanan pasien jika tidak ditangani dengan kebijakan sumber daya manusia yang tepat.

Lonjakan Klinik, Tantangan SDM Meningkat

Dalam dua dekade terakhir, jumlah klinik di Indonesia meningkat signifikan seiring kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan yang mudah dijangkau. Namun, pertumbuhan fasilitas tidak selalu sejalan dengan kesiapan manajemen sumber daya manusia. Klinik swasta, sebagai organisasi mandiri, sering menghadapi keterbatasan anggaran, beban kerja tinggi, dan sistem kompensasi yang belum merata.

Klinik Mitra Medika Tambakan sendiri mencatat peningkatan tingkat pengunduran diri pegawai dari 14,72 persen pada 2019 menjadi 27,59 persen pada 2023. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa ada persoalan mendasar dalam pengelolaan tenaga kerja, baik dari sisi kepemimpinan, motivasi, maupun kesejahteraan karyawan.

Meneliti Hubungan Kepemimpinan, Gaji, dan Motivasi

Penelitian ini melibatkan 126 karyawan, terdiri dari tenaga medis dan nonmedis. Para peneliti menggunakan survei persepsi karyawan dan menganalisisnya dengan pendekatan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (PLS-SEM). Metode ini memungkinkan peneliti melihat pengaruh langsung maupun tidak langsung antarvariabel secara komprehensif.

Fokus utama penelitian adalah empat variabel kunci: gaya kepemimpinan, kompensasi, motivasi kerja, dan turnover intention atau niat karyawan untuk keluar dari organisasi.

Temuan Utama Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan pola yang menarik dan tidak selalu sejalan dengan asumsi umum. Beberapa temuan penting antara lain:

1. Gaya kepemimpinan berpengaruh langsung dan signifikan dalam menurunkan niat karyawan untuk resign. Semakin positif kepemimpinan yang dirasakan, semakin kecil keinginan pegawai untuk meninggalkan klinik.
2. Gaya kepemimpinan tidak terbukti meningkatkan motivasi kerja secara signifikan. Artinya, kepemimpinan lebih berperan sebagai faktor penahan turnover, bukan pendorong semangat kerja.
3. Kompensasi terbukti meningkatkan motivasi kerja secara kuat. Sistem gaji dan tunjangan yang adil dan layak membuat karyawan lebih termotivasi.
4. Kompensasi tidak berpengaruh langsung terhadap niat resign. Gaji yang baik saja tidak cukup membuat karyawan bertahan.
5. Motivasi kerja menurunkan niat keluar secara signifikan. Karyawan yang termotivasi cenderung lebih loyal.
6. Motivasi kerja menjadi jembatan penting antara kompensasi dan turnover intention. Dengan kata lain, gaji memengaruhi niat bertahan hanya jika mampu meningkatkan motivasi kerja.

Padma Sari Sanjaya menjelaskan bahwa temuan ini menunjukkan kompleksitas perilaku karyawan di sektor kesehatan. “Kompensasi bukan satu-satunya jawaban. Tanpa motivasi kerja yang kuat dan kepemimpinan yang sehat, karyawan tetap berpotensi meninggalkan organisasi,” tulisnya dalam publikasi tersebut.

Dampak bagi Manajemen Klinik dan Kebijakan Publik

Temuan ini memiliki implikasi luas bagi pengelola klinik, rumah sakit swasta, dan pembuat kebijakan. Strategi mempertahankan tenaga kesehatan tidak bisa hanya berfokus pada kenaikan gaji, tetapi juga harus menyentuh kualitas kepemimpinan, iklim kerja, dan faktor psikologis karyawan.

Bagi manajemen klinik, hasil penelitian ini mendorong perlunya:

  • pelatihan kepemimpinan yang lebih humanis dan responsif,
  • sistem kompensasi yang transparan dan adil,
  • serta kebijakan internal yang mampu menjaga motivasi dan keterikatan karyawan.

Dalam konteks pelayanan publik, stabilitas tenaga kesehatan berkontribusi langsung terhadap keselamatan pasien dan keberlanjutan layanan kesehatan di daerah.

Keterbatasan dan Arah Riset Lanjutan

Penelitian ini dilakukan pada satu klinik dengan pendekatan potret sesaat (cross-sectional). Penulis merekomendasikan penelitian lanjutan dengan cakupan institusi yang lebih luas, metode longitudinal, serta penambahan variabel lain seperti stres kerja, work-life balance, dan kepuasan kerja untuk memperkaya pemahaman tentang dinamika turnover tenaga kesehatan.

Profil Singkat Penulis

Padma Sari Sanjaya, S.E., M.M.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Kristen Krida Wacana.
Bidang keahlian: Manajemen Sumber Daya Manusia dan Perilaku Organisasi.
PM. Budi Haryono, S.E., M.M.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Kristen Krida Wacana.
Bidang keahlian: Manajemen dan Kebijakan Organisasi.
Fushen F, S.E., M.M.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Kristen Krida Wacana.
Bidang keahlian: Manajemen Strategis dan SDM.

Sumber Penelitian

Sanjaya, P. S., Haryono, P. M. B., & Fushen, F. (2026).
The Influence of Leadership Style and Compensation on Employee Turnover Intention Mediated by Work Motivation at Mitra Medika Tambakan Clinic in Subang.
Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 1, 315–330.
DOI: 10.55927/fjmr.v5i1.678

Posting Komentar

0 Komentar