FORMOSA NEWS - Lampung
Pendidikan Etika Dinilai Kunci Membentuk Martabat Manusia di Tengah Krisis Moral
Di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap degradasi moral generasi muda, sebuah kajian ilmiah terbaru menegaskan kembali pentingnya pendidikan etika sebagai fondasi pembentukan martabat manusia. Studi ini ditulis oleh Jimi Harianto bersama Berliana Dwika Agnesia, Cantika Ananda Han, dan Hamidah Putri dari STKIP Al Islam Tunas Bangsa, dan dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Contemporary Sciences (IJCS). Para penulis menyoroti bagaimana pendidikan moral yang berakar pada nilai Islam dan Pancasila mampu menjawab tantangan dehumanisasi, krisis etika, serta menurunnya sensitivitas sosial di masyarakat modern.
Artikel berjudul The Development of Human Virtue Through Ethical Education ini menjadi relevan karena berangkat dari realitas sosial yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Fenomena seperti meningkatnya kekerasan di kalangan pelajar, penyalahgunaan narkoba, perilaku seksual berisiko, hingga memudarnya sikap hormat kepada orang tua dan guru, disebut sebagai tanda krisis moral yang tidak bisa lagi diabaikan. Menurut para penulis, masalah ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkaitan erat dengan pola pendidikan yang terlalu menekankan aspek kognitif dan prestasi akademik, sementara pembentukan karakter sering kali terpinggirkan.
Dalam kajian ini, Jimi Harianto dan tim menempatkan pendidikan moral sebagai inti dari proses pendidikan manusia seutuhnya. Pendidikan etika tidak dipahami sekadar sebagai mata pelajaran, tetapi sebagai proses berkelanjutan yang membentuk kebiasaan, sikap, dan cara pandang peserta didik terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sosialnya. Nilai-nilai moral yang dimaksud bersumber dari ajaran Islam dan nilai-nilai Pancasila yang menjadi dasar kehidupan berbangsa di Indonesia.
Untuk menggali persoalan tersebut, para penulis menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka. Mereka menelaah berbagai buku, artikel jurnal nasional dan internasional, dokumen kebijakan pendidikan, serta karya-karya klasik dan kontemporer tentang pendidikan moral, pendidikan karakter, dan filsafat pendidikan Islam. Data dianalisis secara deskriptif dan tematik untuk menemukan benang merah antara konsep martabat manusia, pendidikan etika, dan praktik pendidikan di Indonesia.
Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan moral memiliki dampak luas dan nyata. Pendidikan etika terbukti berperan penting dalam mengembangkan dimensi afektif peserta didik, membentuk kebiasaan perilaku yang berbudi luhur, menumbuhkan kepemimpinan dan tanggung jawab sosial, serta mendorong kemandirian dan kreativitas. Lebih dari itu, pendidikan moral juga berkontribusi dalam menciptakan budaya sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika, saling menghormati, dan kemanusiaan.
“Pendidikan moral adalah dasar utama dalam menumbuhkan martabat manusia. Tanpa fondasi etika, kecerdasan intelektual tidak cukup untuk membentuk manusia yang beradab,” tulis Jimi Harianto dari STKIP Al Islam Tunas Bangsa dalam artikelnya. Ia menekankan bahwa pembentukan karakter tidak bisa diserahkan hanya kepada sekolah, melainkan membutuhkan kerja sama erat antara keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat, dan negara.
Salah satu poin penting yang ditekankan dalam artikel ini adalah konsep manusia seutuhnya atau insan kamil. Dalam perspektif pendidikan Islam, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki potensi fisik, intelektual, dan spiritual yang harus berkembang secara seimbang. Pendidikan etika berfungsi menjaga keseimbangan tersebut agar manusia tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.
Penulis juga menyoroti peran strategis guru dalam pendidikan moral. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai teladan hidup bagi peserta didik. Sikap, tutur kata, dan perilaku guru di dalam maupun di luar kelas menjadi bagian dari proses pendidikan karakter. Oleh karena itu, kualitas moral pendidik dinilai sama pentingnya dengan kompetensi pedagogik dan profesional.
Selain guru, lingkungan sekolah secara keseluruhan dipandang sebagai “laboratorium karakter”. Melalui budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, dan interaksi sosial sehari-hari, nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial dapat diinternalisasi secara alami. Pendidikan moral, menurut kajian ini, akan efektif jika tidak bersifat indoktrinatif, melainkan dialogis, humanis, dan menyentuh kesadaran batin peserta didik.
Implikasi penelitian ini cukup luas. Bagi dunia pendidikan, temuan ini memperkuat urgensi integrasi pendidikan karakter ke dalam seluruh mata pelajaran dan aktivitas sekolah. Bagi pembuat kebijakan, kajian ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan nasional tidak bisa diukur hanya dari nilai ujian, tetapi juga dari kualitas karakter warga negara yang dihasilkan. Sementara bagi masyarakat, hasil penelitian ini menegaskan kembali peran keluarga dan lingkungan sosial sebagai fondasi awal pendidikan moral.

0 Komentar