Bandung- Perubahan teknologi digital ternyata tidak otomatis membuat pelaku UMKM perempuan lebih siap menghadapi persaingan. Kesiapan itu baru terbentuk ketika strategi internal, seperti pelatihan dan pengembangan SDM, berhasil diterjemahkan menjadi jejaring, kolaborasi, dan akses ke ekosistem digital. Temuan ini disampaikan Goklas Siahaan dan Silvana Syah dari Universitas Siber Asia dalam artikel ilmiah yang terbit pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR).
Riset ini menyoroti bagaimana disrupsi teknologi memengaruhi strategi pengembangan sumber daya manusia (SDM) pada UMKM milik perempuan, dengan fokus pada peran kesiapan digital. Hasilnya penting karena UMKM perempuan merupakan tulang punggung ekonomi nasional, namun masih menghadapi kesenjangan besar dalam adopsi teknologi digital.
UMKM Perempuan di Tengah Gelombang Digital
Indonesia memiliki lebih dari 66 juta UMKM, dan sekitar 64,5 persen di antaranya dikelola oleh perempuan. Kontribusinya signifikan terhadap produk domestik bruto dan penyerapan tenaga kerja. Namun, data menunjukkan hanya sekitar 26,5 persen UMKM yang sudah terintegrasi ke dalam ekosistem digital. Artinya, lebih dari 70 persen masih rentan tertinggal.
Bagi UMKM perempuan, tantangan ini berlapis. Selain keterbatasan akses dan keterampilan teknologi, faktor kepercayaan diri dan budaya juga berperan. Banyak pelaku usaha hanya berhenti pada “pseudo-digitalisasi”, misalnya memiliki akun media sosial tanpa strategi bisnis yang jelas.
Dalam konteks inilah penelitian Siahaan dan Syah menjadi relevan. Mereka tidak sekadar melihat pelatihan digital sebagai solusi tunggal, tetapi menelaah bagaimana tekanan eksternal akibat disrupsi teknologi mendorong UMKM perempuan menyusun strategi pengembangan SDM, serta kondisi apa yang membuat strategi tersebut benar-benar efektif.
Cara Penelitian Dilakukan
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei terhadap 130 pelaku UMKM perempuan di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Responden berasal dari sektor yang terdampak kuat oleh digitalisasi, seperti kuliner, fesyen, dan kerajinan.
Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) berbasis Partial Least Squares. Metode ini memungkinkan peneliti melihat hubungan langsung dan tidak langsung antara disrupsi teknologi, strategi pengembangan SDM, faktor eksternal, dan kesiapan digital perempuan pelaku UMKM.
Temuan Utama: Jembatan Eksternal Menentukan Kesiapan
Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan kunci:
Implikasi bagi Kebijakan dan Dunia Usaha
Temuan ini membawa pesan penting bagi pemerintah, lembaga pendamping UMKM, dan dunia usaha. Program pemberdayaan UMKM perempuan tidak cukup hanya berfokus pada pelatihan kelas atau webinar keterampilan digital.
Yang dibutuhkan adalah pendekatan ekosistem:
- Menghubungkan peserta pelatihan dengan platform digital, marketplace, dan mitra bisnis.
- Membangun komunitas belajar dan jejaring usaha yang berkelanjutan.
- Memastikan ada tindak lanjut setelah pelatihan, bukan berhenti pada sertifikat.
Bagi pelaku UMKM perempuan sendiri, riset ini menegaskan pentingnya bersikap proaktif. Kesiapan digital bukan hanya soal bisa menggunakan aplikasi, tetapi juga keberanian belajar mandiri, mencoba hal baru, dan membangun relasi di luar lingkaran usaha sehari-hari.
Kontribusi Ilmiah yang Relevan dengan Realitas Lapangan
Secara akademik, penelitian ini memperkaya kajian manajemen strategis UMKM dengan menunjukkan bahwa hubungan antara pelatihan dan kesiapan digital tidak bersifat linier. Faktor eksternal berperan sebagai “jembatan” yang menentukan apakah investasi pada SDM benar-benar berdampak.
Bagi Indonesia yang tengah mendorong transformasi digital UMKM, temuan ini memberi dasar empiris bahwa kebijakan harus dirancang lintas sektor dan berbasis kolaborasi.

0 Komentar